Selasa, 17 Mei 2011

Pembelajaran Berbasis Praktik dari yang Sederhana


SEDERHANA:
Pembelajaran berbasis praktik dari hal-hal
yang sederhana akan sangat menyentuh
karakter anak (didik)
.

Kadang kita abai terhadap hal-hal yang menurut kita sederhana. Melewati begitu saja. Membiarkan berlalu tanpa kesan. Seakan-akan apa yang baru saja terjadi  di hadapan kita tidak penting, tidak berguna. Karena, tidak memberi keuntungan bagi kita. Tidak memberi kontribusi apa-apa bagi kita. Buat apa dipikirkan, direnungkan, apalagi dilakukan. Membuang waktu dan tenaga untuk hal yang tidak penting, percuma saja bukan?

Padahal, belum tentu hal yang kita anggap sederhana itu tidak bermanfaat. Bisa saja hal yang kita anggap sederhana itu membawa keajaiban yang luar biasa dalam kehidupan. Bukankah hal-hal yang besar bermula dari hal-hal yang kecil, hal-hal yang sederhana?

Anak-anak kita sering berbuat hal yang sederhana, misalnya, salah meletakkan sepatu sepulang sekolah. Meletakkan sepatu tidak di tempat yang telah disediakan hanya karena perut sudah lapar. Melemparkan begitu saja dari jarak yang agak jauh sehingga sepatu tersebut jatuh di lantai berserakan. Satu di sana, satu di sini, dan kaus kakinya terletak tak karuan.

Di sekolah, sering  kita, sebagai guru, kurang menyadari adanya perilaku kurang baik peserta didik, misalnya, membuang sampah sembarangan. Tidak pada tempat yang disediakan. Hanya membuang bekas pelindung permen yang sekecil itu. Tidak terlalu mengotori lingkungan. Paling-paling nanti jika diserbu angin kencang, hilang sudah plastik pembungkus permen itu. Karenanya, hal semacam itu sering kita biarkan berlalu.

Kedua tindakan anak seperti tercontoh di atas, baik yang di rumah maupun sekolah, sama-sama memiliki nilai yang berarti bagi pertumbuhan karakter anak. Jika kita mengetahui, lalu membiarkan saja karena rasa kasihan atau beranggapan tidak terlalu mengotori lingkungan, bukankah sikap itu akan mengerdilkan karakter anak-anak. Karakter mereka tidak akan bertumbuh. Malah bisa saja mengarah pada sebaliknya, yaitu karakter mereka semakin kurang beradab. Karena bukan mustahil akhirnya mereka menganggap tindakannya itu benar-benar saja. Tidak salah. Tidak melanggar norma.

Yang, kemudian bisa menjadi perangsang munculnya perilaku-perilaku sejenis, yang justru semakin melebar dan membesar. Awalnya (barangkali) hanya meletakkan sepatu tidak pada tempatnya dan membuang bungkus permen sembarangan. Lambat laun dapat saja meletakkan tas sepulang sekolah di kursi atau meja makan dan membuang pembungkus ciki atau potato di teras kelas. Itu terjadi karena kita, siapa pun yang lebih dewasa, kurang menyadari betapa pentingnya menerapkan pembelajaran berbasis praktik melalui hal-hal yang sederhana.

Kita sering berpikir bahwa kelak anak-anak akan mengetahui dengan sendirinya. Ya, kita sering berpikir bahwa nanti kalau mereka sudah pada saatnya mengetahui tentu akan melakukan dengan benar, baik, dan semestinya. Bagaimana mereka bisa mengetahui kalau sejak kecil (saja) tidak pernah kita bimbing. Kita justru bersikap memanjakan mereka. Coba ingat, berapa sering kita “berbaik hati” mengambil sepatu anak kita yang diletakkan tidak pada tempatnya? Memindahkan tas dari tempat tidur ke tempat yang semestinya? Dan, sikap “berbaik hati”  kita itu tanpa sedikit pun melibatkan anak untuk berbuat. Anak tidak turut mengalami proses belajar praktik bersama kita. Mereka mengetahui tiba-tiba baik.  

Coba kalau misalnya ketika kita mengambil sepatu yang tidak pada tempatnya itu melibatkan anak. Ia pasti mengerti bahwa perilaku yang dilakukan barusan (baru saja), tidak benar. Memanggil anak yang membuang sampah sembarangan lantas memberi tahu bahwa tindakan itu tidak benar dan mencontohkan yang “seharusnya” dengan cara, misalnya, anak disuruh mengambil sampah yang dibuangnya tadi dipindah ke tempat sampah.  Ini termasuk pembelajaran berbasis praktik yang sangat dekat dengan alam anak-anak bukan? Hanya, pembimbingan semacam itu belum berefek jika baru satu-dua kali. Perlu berulang-ulang. Dan, tentu membutuhkan kesetiaan. Saya baru yakin, hal yang sederhana akan mendatangkan keajaiban luar biasa pada diri anak.       

4 komentar:

  1. Alhamdulillah kedua anak saya selalu membuang sampah pada tempatnya, namun berbeda dengan siswa di sekolah. Mereka sulit sekali diajak berbuat baik, membuang sampah pada tempatnya.

    BalasHapus
  2. Yups... seperti kata orang, bukan bukan yang banyak sekali berarti baik, tetapi yang baik itu mempunyai arti banyak.

    BalasHapus
  3. kalau yang baik semua orang pasti suka, tetapi kalau baik dalam tanda petik untuk tujuan-tujuan tertentu itu yang kurang setuju saya..

    BalasHapus

""