Minggu, 15 Mei 2011

Pembelajaran Berbasis Praktik, Perlu Teladan


TELADAN:
Pentingnya sebuah teladan dalam
pembelajaran berbasis praktik, sekalipun
keberhasilannya belum terjamin.

Saya ingat ketika masih sekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) tempo dulu. Yang, kini, sekolah itu sudah tidak ada lagi. Di semua tempat, di seluruh wilayah Indonesia, dipastikan tidak bisa ditemukan lagi yang namanya SPG. Karena sudah beralih menjadi sekolah lain, di antaranya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Satu peristiwa yang hingga kini masih melekat dalam pikiran saya, meski telah belasan bahkan puluhan tahun silam, menjadi pembelajaran yang berarti. Ketika itu, berlangsung pembelajaran Bahasa Jawa, yang kental dengan sopan-santunnya itu. Kalau tidak salah, seingat saya, gurunya Ibu Tanti. Ibu Tanti tidak galak. Tetapi, dapat saja dibilang galak dari sudut pandang peserta didik. Sebab, ada sedikit saja kesalahan peserta didik, terutama terkait dengan perihal sopan santun, Ibu Tanti tidak segan-segan menunjukkan kesalahan itu lantas menyuruh peserta didik itu untuk langsung melakukan sikap/perilaku/berbicara yang seharusnya (yang benar).

Saat ada peserta didik yang salah dalam berbicara (kurang sopan), misalnya, langsung ketika itu juga harus mengulangi berbicara yang seharusnya/sebenarnya di depan Ibu Tanti. Dan, itu harus dilakukan hingga benar. Artinya, jika dalam pengulangan itu masih ada kekeliruan, haruslah diulangi sampai benar. Tindakan guru yang demikian, di mata peserta didik (apalagi peserta didik masa kini), bukankah akhirnya menimbulkan labelisasi terhadap guru, misalnya,  guru itu galak, atau paling tidak, guru itu cerewet?

Namun, entah mengapa, sekalipun begitu, yang saya rasakan ketika itu baik-baik saja. Maksudnya, saya tidak merasa dipermalukan ketika saya salah dalam sikap berjalan di hadapannya, yang lantas disuruh mengulangi (begitu saja) dari awal hingga cara jalan saya benar. Jelasnya, saya berjalan/lewat di depannya saat ia sedang duduk di kursi. Saya terpaksa berjalan dalam posisi memiringkan badan. Hanya, sesaat saya membelakanginya karena keadaan. Saya ditegur. Ditunjukkan bahwa itu tindakan salah dan diberi tahu bagaimana benarnya. Lantas saya harus kembali ke tempat semula dan mengulangi berjalan/lewat secara benar. Peristiwa (sederhana) itu sungguh membekas hingga kini.

Dan, saat ini, ketika mulai “didengung-dengungkan” pembelajaran berbasis praktik, pengalaman itu mencuat, mengusik pikiran saya. Karenanya saya langsung ingat Ibu Tanti, guru saya, ketika ia (sering) menyuruh peserta didiknya, termasuk saya, untuk langsung mengubah secara benar perilaku/berbicara kami yang kurang santun. Hal yang barangkali, sekarang ini, jarang dilakukan oleh guru dan orangtua. Oleh karena hal itu dianggap sederhana. Dianggap kurang penting. Masih ada yang lebih penting untuk ditanamkan pada diri anak-anak ketimbang perihal semacam itu.

Padahal, saya merasa bahwa apa yang dilakukan oleh guru saya itu sangat membentuk kebiasaan. Ketika saya mengalami kesalahan, diingatkan. Dan, diberi tahu bagaimana benarnya. Saya lalu melakukan yang benar. Itu (ternyata) akhirnya membentuk kebiasaan. Tak hanya menjiwai diri saya, tetapi banyak juga menjiwai diri teman. Kami akhirnya terbiasa bersikap lebih baik. Selalu berhati-hati ketika hendak berbuat atau berbicara. Sekalipun kala itu saya tidak menyadari, tetapi kini, disadari atau tidak, itu sebagai pembelajaran berbasis praktik yang sungguh menarik.

Tetapi boleh jadi (memang) pembelajaran semacam itu, pada masa itu, barangkali masih mudah untuk dilakukan. Tidak sulit untuk dipraktikkan.  Karena, belum banyak faktor yang menjadi kendala. Sementara, kini, telah berjibun perintang yang muncul dari berbagai sudut. Karena di samping jarangnya menekankan pembiasaan, kini, anak demikian mudah melihat perilaku tak santun di tengah-tengah masyarakat, baik lewat media maupun live, yang notabene dilakukan oleh banyak figur publik. Dan, ternyata pengalaman langsung yang diperoleh anak itu lebih mudah dan cepat membekas pada diri mereka.

Karenanya, guru dan orangtua sekarang tak cukup hanya mengambil sikap seperti yang dilakukan oleh Ibu Tanti, guru saya, itu. Hanya mengingatkan adanya kesalahan, memberi tahu bagaimana yang benar, lantas menyuruh berbuat yang benar. Tidak cukup itu. Sekarang, model begitu kurang berefek bagi anak. Guru dan orangtua perlu memberi teladan langsung sekalipun barangkali pesimis, sekali lagi pesimis, karena kini teladan “tak indah” begitu banyak menyergap benak anak-anak kita.

2 komentar:

  1. mbener sob, tingkah laku orang to kadang2 karena kebiasaan, dan yg diakukan b.tanti adalah mencoba merubah keakuan ato kebiasaan dr anak didiknya.....


    salam persahabatan selalu dr MENONE

    BalasHapus
  2. memang untuk saat ini unggah-ungguh siswa terhadap bapak/ibu guru sudah mulai pudar, yang saya rasakan saat ini seperti itu,,
    kemungkinan salah satu akibatnya kurang perhatian orang tua terhadap anaknya...

    BalasHapus

""