Kamis, 26 Mei 2011

Pinangan


Perjuangan Emak, setelah aku membangun serpihan-serpihan ingatan masa kecilku, ternyata tak ada usainya. Emak terus bekerja. Kalau boleh aku bilang, bahkan bekerjanya hingga mati-matian. Bagaimana tidak. Emak tidak hanya memikirkan sendiri bagaimana dapat menghidupkan pawon, tungku dapur, demi perut anak-anaknya. Tapi, Emak sepertinya juga memikirkan sendiri bagaimana kelak anak perempuannya yang telah menginjak dewasa. Emak tidak mungkin membiarkan kakakku yang telah akil balik itu menjadi perawan tua.

Anda tentu mengerti apa jadinya jika perempuan yang sudah waktunya menikah, belum menikah, di masyarakat pedesaan. Tentu akan membuat malu seluruh keluarga. Ada perempuan yang tidak laku-laku. Tidak ada pria yang mau mengawini. Dapat menjadi aib dalam keluarga bukan? Bahkan, menjadi bahan pergunjingan orang banyak. Apalagi, orang-orang di desaku, waktu itu, terutama kaum ibunya banyak yang sering kumpul-kumpul jika siang hari, sehabis kerja. Mereka petan, mengambil kutu rambut dari kepala, sembari duduk-duduk di bawah pohon di sekitar rumah.  Apalagi yang mereka pergunjingkan, di antaranya, kalau tidak kekurangan yang melanda tetangga. Bagi mereka, itu barangkali dapat menjadi hiburan yang mengasyikkan. Dapat menghabiskan waktu, hingga petang menjelang. Emak, aku tahu, tidak pernah begitu. Aku tidak membelanya, untuk membesar-besarkan keberadaan Emak di mata Anda. Tidak. Aku menuliskan apa adanya, yang aku ingat. Sebab, Emak memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, tetapi  juga kepala keluarga.  Jadi, mustahil Emak membuang-buang waktu hanya untuk mengikuti tradisi ibu-ibu lain seperti itu.

Ingatanku sepertinya tidak salah. Ketika itu, kedua kakakku perempuan yang sering bisa kujumpai belum menikah. Untuk ukuran masyarakat desaku, usia kakakku sudah pantas mendapat pinangan dari lelaki dewasa. Sangat pantas malah. Kakakku perempuan yang pertama, tak perlu kusebut namanya, akhirnya mendapat pinangan dari seorang lelaki. Lelaki itu masih tetangga dekat. Sudah dewasa, seusia kakakku perempuan. Tak perlu juga kusebut namanya. Aku tidak tahu, lelaki dewasa tetangga kami itu meminang kakakku karena apa. Karena ia merasa kasihan terhadap kakakku dan Emakku atau karena apa. Karena memang ia menyukai kakakku atau karena alasan yang lain. Aku tidak tahu. Yang aku tahu adalah suatu ketika di rumah kami tidak seperti biasanya.

Emak kedatangan banyak tamu. Rumah kami ketika itu masih besar. Halaman rumah juga besar. Bahkan menurutku, sangat besar, atau lebih tepatnya lebar. Memanjang, dari teras depan ke arah jalan muka rumah. Di halaman rumah, ketika itu, didirikan tarub, tenda. Tamu-tamu duduk di kursi yang disediakan. Aku tidak ingat, apakah saat itu ada banyak penganan atau tidak. Tetapi,  mungkin saja ada. Sesederhana apa pun, kedatangan tamu tentu disogati, dijamu. Yang aku ingat betul-betul, Emak saat itu memakai kebaya dan jarit. Dibahunya tersampir selendang, memanjang hingga perutnya. Dan, di bagian depan  mendekati perut, selendang itu terlihat menyembul. Aku tidak mengerti apa isinya. Belakangan aku baru mengerti yang terlihat menyembul di gendongan Emak itu ternyata sumbangan dari para tamu. Yang, tentu saja berupa uang.

Di samping itu, yang aku tahu juga ada sumbangan selain uang. Sumbangan dari tamu, baik tetangga maupun kerabat jauh dan dekat. Ada yang membawa beras, gula, penganan, kelapa, pisang, gori, dan sebagainya. Sumbangan itu dikumpulkan di rumah bagian belakang. Sebagian menumpuk di pojok ruang. Pikiran saya ketika itu “belum sampai” ke pengertian bahwa sumbangan itu sejatinya meringankan beban Emak dalam berhajat. Baru setelah besar dan (juga) saat menulis ini, pikiran saya membayangkan bahwa semua sumbangan itu sangat membantu Emak. Bagaimana jadinya, jika Emak tidak mendapat sumbangan. Tentu beban yang disangga Emak demikian berat untuk seorang yang sendirian dan baru pertama kali mengawinkan anaknya.

Orang-orang yang ngalong, membantu, jumlahnya tidak bisa dihitung. Banyak. Berlalu-lalang di dalam dan luar rumah. Memasak, mengambil air dari belik, sumber air, lalu memasukkannya ke penampungan-penampungan air. Ada yang membongkok kayu bakar untuk memasak. Memasak air, memasak nasi, dan memasak keperluan yang lain. Semua kegiatan memasak ketika itu hanya mengandalkan pawon, yang jauh-jauh hari telah dipersiapkan di luar rumah. Tidak hanya satu pawon, tetapi bebarapa, yang dibuat di satu lokasi. Pawon-pawon itu terbuat dari tanah liat, yang diupayakan ketika hajat berlangsung, kondisi pawon telah kering.        

Sehingga, ketika dipakai untuk memasak tidak peyok, bentuknya rusak, karena masih lunak. Orang-orang di desaku telah sangat mengerti bagaimana mempersiapkan pawon yang baik untuk keberlangsungan hajatan. Sejauh aku tahu, sepertinya tidak pernah ada pawon yang rusak bentuknya karena masih lunak, ketika ada hajatan.  Semua pawon dapat dipergunakan secara baik. Pawon, yang bahan bakunya dari tanah liat pilihan itu, ketika dipakai untuk memasak, kekuatannya justru semakin terjamin.  Semakin sering dipakai, yang berarti dalam kondisi panas oleh api, semakin kuat. Bahkan, aku menjamin, pawon sehabis untuk memasak selama hajatan itu, tidak akan retak meskipun diinjak.  Kuat sekuat batu bata atau genting yang terbuat dari tanah liat yang mengalami proses pembakaran relatif lama.

Kubayangkan Emakku sekuat pawon, batu bata, dan genting dari tanah liat itu. Semakin sering ditempa hidup keras, Emakku semakin tegar. Maka, sekalipun hajat pinangan dan perkawinan kakakku tidak ada Bapak di antara kami, Emak tetap menghadapinya dengan tegar. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam keluarga di masa kecilku, tidaklah tercatat baik-baik dalam pikiranku, termasuk hari hajat pinangan dan perkawinan kakakku itu. Barangkali ada peristiwa-peristiwa yang penting. Namun, begitulah keterbatasan pikiran kecilku.  Aku tidak mengerti apakah kakakku ketika itu menangis atau tidak oleh karena tidak ada Bapak. Perkawinannya hanya dihadiri Emak dan diketahui kerabat.  Kehadiran seorang Bapak barangkali menjadi harapan banyak orang ketika sedang menghadapi peristiwa penting seperti kakakku itu.

Aku pun tak mengerti apakah ketika itu Emak menangis atau tidak. Kalau pun menangis, aku pikir wajar saja. Sebab, Emak sendirian. Seorang istri mana yang tidak mengharap selalu ada suami di sampingnya ketika ada hajatan serupa itu. Emak mungkin menangis. Hanya, barangkali tangisnya disembunyikan dalam benak. Hanya Emak yang tahu dan merasakan. Orang lain, termasuk kami, anak-anaknya, tidak ada yang tahu. Kepedihan Emak ditelan sendiri. Disembunyikannya dalam-adalam dari ramainya hajatan pinangan dan perkawinan kakakku.  

3 komentar:

  1. Tulisannya mengingatkan saya pada mendiang ibu sy, Pak. Mendiang Ibu sy sangat sederhana, jarang mengeluh pada anak2nya, bahkan mendiang Bapak pernah cerita pd saya, "Ibumu tiada duanya. Dia tidak pernah berkata tidak pada aku".

    BalasHapus
  2. Ikutan trenyuh dengan cerita yang menyentuh, begitulah sosok seorang emak yang selalu dirindukan dan sekaligus menjadi kebanggaan Bp. Sungkowo. Jadinya saya juga teringat sosok penuh kelembutan dan kesabaran simbok saya yang sudah perpulang disisi-NYA akupun juga rindu...

    BalasHapus

""