Selasa, 10 Mei 2011

Workshop MGMP SMP SSN 2011, Mantapkan Pembelajaran Berbasis Praktik



BERBASIS PRAKTIK:
Workshop MGMP, yang memahamkan pada
para guru untuk menanamkan nilai-nilai karakter

pada peserta didik lewat pembelajaran berbasis

praktik.

Workshop Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMP Sekolah Standar Nasional (SSN), yang diikuti oleh sekitar 105 peserta, yang berlangsung di Balai Pengembangan (BP) Pendidikan Kejuruan (Dikjur), Jalan Brotojoyo 1 Semarang, kini, telah memasuki hari kedua. Workshop yang diikuti oleh 35 kota/kabupaten se-Jawa Tengah (Jateng) terdiri atas tiga guru SMP SSN per kota/kabupaten. Mereka perwakilan dari tiga mata pelajaran, yakni Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia, masing-masing satu guru.

Pembukaan workshop, kemarin (9/5), dihadiri oleh pejabat Dinas Pendidikan Provinsi Jateng. Yang, sekaligus membuka kegiatan Workshop, yang didanai dari Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA) Bidang Dikdas Dinas Pendidikan Porvinsi Jateng itu. Dalam sambutannya,  Kepala Bidang Kurikulum Dinas Pendidikan Jateng, Johny Lorang, itu menegeskan bahwa pendidikan harus menekankan pada praktik. Sebab, selama ini yang terjadi adalah peserta didik lebih banyak hanya memiliki kecerdasan teori, tetapi tidak pada praktik. Itu terlihat saat ada kegiatan Lomba Cerdas Cermat (LCC). Peserta didik yang mengikuti LCC mampu menjawab soal-soal secara teori, tetapi umumnya tidak mampu ketika menghadapi soal-soal praktik.

Hal ini terjadi, demikian dikatakannya, guru kurang membiasakan peserta didik untuk praktik. Oleh karena itu, kini guru harus memulai mengubah paradigma mengajar. Guru tidak boleh hanya mementingkan teori, tetapi harus menyeimbanginya dengan praktik.  Dengan demikian, peserta didik akan memiliki kecerdasan teori dan praktik.

Itulah sebabnya, lewat materi pertama, yang disampaikan pada hari pertama, tentang “Kebijakan Dikdas dalam Nasionalisme dan Pendidikan Budaya dan Karakter bangsa”, guru (peserta workshop) diberi pemahaman betapa pentingnya sektor pendidikan dalam perannya membangun karakter generasi bangsa. Apalagi disinyalir karakter generasi bangsa sekarang ini mengalami degradasi. Kehancuran moral-mental terutama akibat dampak globalisasi semakin menjadi-jadi. Guru sebagai agen perubahan, dengan demikian, dapat menjadi pioner untuk membawa generasi bangsa ini ke arah yang lebih baik. Tidak membiarkan generasi bangsa ini semakin hari semakin jatuh dalam keterpurukan karakter.

Melalui proses pembelajaran di sektor pendidikan, nilai-nilai karakter dapat dimasukkan. Sangat dimungkinkan semua mata pelajaran (mapel) sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada peserta didik. Tipisnya rasa menghargai, peduli, empati, bekerja sama, dan semangat kerja keras, dapat direvitalisasi lewat sektor pendidikan.

Sekalipun begitu, banyak tantangan yang harus dihadapi. Betapa tidak, lewat tayangan televisi, berita media cetak, sikap-sikap praktis para elite bangsa yang abai terhadap moralitas, spiritualitas, dan nasionalisme menjadi hidangan yang selalu segar dari hari ke sehari. Anak-anak bangsa ini begitu mudah mencernanya. Bahkan, jika boleh dibilang, menggelontornya fenomena demikian itu tak dapat diimbangi dengan pendidikan karakter yang ditanamkan kepada anak-anak bangsa ini. Tertanamnya pendidikan karakter cenderung ketinggalan jika dibandingkan dengan pengaruh negatif fenomena buruk sosisl terhadap generasi bangsa ini. Mengerikan bukan?

Karenanya, dalam proses pembelajaran harus selalu memunculkan nilai-nilai karakter dalam mapel apa pun saja. Seperti dalam workshop kali ini, mapel Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia diharuskan memuat nilai-nilai hidup yang dapat ditanamkan pada diri peserta didik. Maka, sejak dalam penyusunan perangkat pembelajaran, katakanlah di silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), nilai-nilai tersebut harus jelas terukur. Terlihat jelas. Dan, yang jelas, nilai-nilai itu mudah dilakukan oleh peserta didik karena terinklut dalam proses pembelajaran. Mudah dipraktikkan dalam kehidupan nyata anak-anak, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat.

Materi itulah yang disampaikan kepada peserta workshop sejak malam kedua, malam ini.  Para peserta secara berkelompok harus menyusun perangkat pembelajaran yang di dalamnya memuat niali-nilai nasionalisme itu. Untuk lebih efektif, peserta workshop dikelompokkan berdasarkan mapel yang diampu. Artinya, guru-guru yang mengampu mapel Bahasa Indonesia ada dalam satu kelompok. Demikian juga yang mapel IPA dan Matematika.  Dengan demikian, penggalian materi yang akan disajikan lebih dalam dan luas.

Bahkan, agar lebih “menyentuh”, kelompak mapel Matematika, misalnya, dibagi lagi menjadi kelompok mapel Matetika kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX. Hal yang serupa diberlakukan juga pada mapel IPA dan Bahasa Indonesia. Masing-masing kelompok memiliki tanggung jawab memresentasikan hasil kerja kelompoknya di hadapan kelompok lain yang semapel. Dengan begitu, perangkat pembelajaran yang telah disusun akan semakin diperkaya oleh masukan-masukan dari kelompok lain. Hasil dari semuanya itu, akan dikompilasi menjadi satu hasil kerja, yang nantinya bisa dibawa pulang para peserta workshop. Untuk dipraktikkan dan dikembangkan di daerah masing-masing.  Selamat berworkshop ria!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""