Minggu, 01 Mei 2011

Yuk, Guru di Kudus Go-Blog


GURU NGEBLOG:
Melalui budaya ngeblog, paling tidak
guru dapat meningkatkan kompetensinya.
(gambar dari danugroho.blogspot.com)

Internet, kini, bukan lagi barang istimewa. Siapa pun sejatinya memiliki akses ke internet, baik itu lewat berlangganan sendiri maupun melalui warung internet (warnet). Warnet di mana-mana ada. Tidak hanya tersedia di kota-kota besar, di kota-kota kecil, seperti di Kudus, Jawa Tengah (Jateng), ini warnet telah merambah sampai ke sudut-sudut kampung. Coba Anda perhatikan menjamurnya warnet di sekitar Anda berada. Tidak hanya di pusat kota Kudus. Tetapi tersebar di desa-desa seantero Kudus sudah banyak tersedia warnet. Benar bukan?

Kalau di tengah-tengah masyarakat saja telah sangat menjamur warnet, tidak mungkin di sekolah, bahkan sekolah-sekolah negeri, tidak ada jaringan internetnya. Saya meyakini, di Kudus ini tentu telah banyak sekolah negeri yang memiliki jaringan internet. Yang tentu saja kondisi begitu beberapa sekolah swasta pun memiliki. Barangkali memang tidak sebanyak sekolah negeri. Itu artinya apa? Artinya adalah guru memiliki peluang lebar untuk dapat memanfaatkannya. Guru-guru yang memiliki motivasi bertumbuh dalam ilmu dan pengetahuan tentu saja tidak melewatkan begitu saja akan menjamaurnya internet.

Bukankah melalui internet orang dapat mengeruk segala ilmu pengetahuan yang terpublikasikan? Bahkan, melalui internet orang  pun dapat memublikasikan apa yang dicipta. Karya kreatif apa pun dapat dipublikasikan lewat internet. Itu artinya, sekalipun kini semakin banyak media massa cetak bertebaran, tapi tak mudah memublikasikan karya lewatnya, internet secara leluasa dan terbuka dapat memuatnya. Internet, dengan demikian, menjadi alternatif yang baik untuk mengenalkan karya kita kepada publik. Tanpa ada syarat-syarat kerekdaksian seperti yang diterapkan di koran, tabloid, atau majalah. Sebab, kita sendiri bisa menjadi redaktur. Mengedit karya sendiri, lantas memostingkannya ke blog, misalnya, yang adanya lewat jaringan internet itu.

Dan, saya merasa, selama ini, menulis semakin bergairah sejak ada blog pribadi. Bagimana tidak, kalau melalui blog pribadi, tulisan yang kita hasilkan (bagaimana pun kualitasnya) selalu dapat termuat. Terpublikasikan dan akhirnya terbaca oleh banyak orang. Berbeda dengan ketika kita mengirim naskah/tulisan ke redaksi media cetak. Belum tentu akan dimuat. Sebab, selera redaksi menjadi ukuran yang tidak dapat ditawar-tawar. Kalau tidak sebahasa dengan redaksi, tamatlah riwayat naskah/tulisan yang kita kirim. Terbuang di tong sampah. Dan bahkan, bukan mustahil, akhirnnya kita menjadi tak memiliki semangat lagi untuk menulis karena tak dimuatnya tulisan kita itu.

Yang lebih menyedihkan (lagi) adalah sekalipun naskah/tulisan kita dimuat, tak jarang ada redaksi yang abai terhadap kerja keras kita. Dimuat, tetapi tidak ada penghargaan. Itu yang pernah saya alami beberapa kali. Saya akhirnya malas mengirimkan naskah/tulisan ke redaksi yang sama. Saya kirim ke redaksi lain, yang menyediakan penghargaan, itu lebih baik. Karena, diakui atau tidak, penghargaan yang diberikan itu, seberapa pun jumlahnya atau apa pun wujudnya, akan merangsang kegairahan untuk terus menulis.

Namun, untuk tetap menjaga stamina menulis, blog menjadi penting kehadirannya sebagai media publis. Sekalipun, katakanlah belum menghasilkan secara finansial, tetapi paling tidak ada ruang yang secara familiar dapat dimanfaatkan untuk mencuatkan ide-ide pribadi, yang dapat dikonsumsi publik. Apalagi sebagai seorang  guru, yang setiap hari senantiasa bersentuhan dengan dinamika pembelajaran peserta didik, baik di kelas maupun lapangan. Tentu ada banyak gagasan yang dapat menjadi inspirasi terlahirnya tulisan, yang layak untuk dipublikasikan. Yang, akhirnya tidak hanya menambah kualitas profesionalismenya sebagai seorang guru, tetapi dapat juga berbagi kepada sesama guru.

Blog, dengan demikian, dapat menjadi lumbung inspirasi pendidikan, tetapi juga menjadi  media penyalur gagasan-gagasan pendidikan. Maka, penting kiranya guru memiliki blog, yang sejatinya dapat menjadi pengasah kompetensi itu. Membudayakan guru ngeblog, rasanya tak perlu ditunda-tunda lagi. Yuk, guru di Kudus go-blog! Sejak lama saya merindukan ada banyak guru di Kudus yang suka ngeblog. Tetapi, sejauh ini belum ada tanda-tanda yang menggembirakan. Andai saja di Kudus ada banyak guru yang suka ngeblog, barangkali tak hanya komunikasi antarguru dapat terjalin secara akrab, tetapi kualitas profesionalisme guru di Kudus terangkat, yang berarti pula pendidikan terdongkrak. Itu yang ada dalam piukiran saya.

Sebagai catatan, di Kudus, jika mau jujur, guru yang go-blog, tak banyak jumlahnya. Hingga tulisan ini saya  tulis, (30/4, malam), yang mengikuti lomba Blog Guru, yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus bekerja sama dengan PT Telkom dan beberapa instansi lain dalam acara Ngenet Sehat Bareng Kang Mus, ternyata baru ada enam guru. Padahal, pendaftaran ditutup pada 2 Mei 2011. Kenyataan itu tak jauh berbeda dengan lomba Blog Guru Tingkat Jateng yang diadakan oleh Balai Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BPTIKP) Dinas Pendidikan Provinsi Jateng, yang hingga kini masih membuka pendaftaran. Hingga tulisan ini dipublikasikan, jumlah peserta lomba itu tak sampai 15 guru, padahal lombanya itu free (bebas uang pendaftaran).

3 komentar:

  1. guru2 terlalu sibuk ngajar kali jadi ndak sempat ngeblog...

    BalasHapus
  2. Wah semangatnya luar biasa...
    Blog memang bisa jadi media alternatif sekaligus media yang sangat individu bagi siapapun mengemukakan pikiran2 positifnya...

    Dan guru kupikir bagus sekali untuk semakin nyemplung ke dunia per-Go Blog-an Pak, heheheh!

    BalasHapus
  3. butuh proses dan tahapan, pak. mudah2an nanti makin banyak rekan sejawat yang demam "go-blog".

    BalasHapus

""