Selasa, 21 Juni 2011

24 Jam, Kegelisahan Sebagian Guru


Oleh karena tuntutan salah satu syarat sertifikasi, guru harus mengajar 24 jam seminggu. Jika tidak memenuhi 24 jam tatap muka seminggu dengan peserta didik, maka sekalipun guru tersebut telah panjang jam terbang mengajarnya, bisa jadi tidak berhak diajukan mengikuti sertifikasi guru. Yang, kita tahu bahwa begitu mendapat sertifikat sebagai guru tersertifikasi, ia berhak mendapat tambanhan penghasilan satu kali gaji pokok per bulan. Sekalipun penerimaan guru-guru yang kini telah sertifikasi, hingga kini, masih dirapel beberapa bulan dalam sekali terima. Itu pun, diakui oleh beberapa guru yang telah tersertifikasi itu, “datangnya” berkah itu tidak tepat waktu, alias mundur.

Meski demikian, hal itu tetap menjadi idaman semua guru, baik negeri maupun swasta. Karena, tentu, lebih baik agak telat menerima daripada tidak menerima sama sekali. Akan tetapi, yang tampaknya akhir-akhir ini menjadi persoalan adalah banyaknya guru yang kekurangan jam mengajar. Beberapa hal  yang menyebabkan guru kekurangan jam, diakui oleh banyak pihak, di antaranya karena distribusi guru yang tidak merata. Di sebagian wilayah, guru berlebih; di sebagian yang lain kekurangan guru. Umumnya, distribusi guru di kota-kota, atau paling tidak wilayah yang relatif mudah terjangkau, kelebihan. Sementara itu, wilayah-wilayah pedesaan, yang relatif sulit terakses, kekurangan guru.

Tentu di dalam rangka pemberian layanan pendidikan secara merata terhadap masyarakat dan yang akhirnya berdampak pada terpenuhinya guru yang kekurangan jam mengajar sehingga dapat memenuhi syarat sertifikasi, pemerintah telah (jauh-jauh hari) berencana menata ulang guru. Sebagian guru yang terkena (langsung) dampak rencana itu adalah guru-guru yang berada di wilayah-wilayah perkotaan, atau wilayah mudah terjangkau. Karena memang di sana terkonsentrasi guru. Sehingga, mereka kebanyakan kekurangan jam mengajar.

Karenanya, sebagian ada yang, untuk memenuhi kekurangan itu, harus mencari jam mengajar di sekolah lain. Saya memiliki teman, guru olahraga, di sekolah induk (sekolah pertama ia mengajar) hanya memiliki 12 jam. Maka, mau tidak mau, ia mencari tambahan jam mengajar di sekolah lain. Kebetulan sekolah yang didapat tidak sejenjang, karena SMA. Di SMA itu, ia mendapat 12 jam, sehingga kalau diperhitungkan, sudah mencapai 24 jam mengajar dalam seminggu. Teman saya yang satu ini, saya pikir, masih beruntung karena ada SMA yang dapat menerimanya oleh karena memang masih kekurangan guru olahraga. Apalagi lokasi SMA itu relatif dekat dengan lokasi SMP, sebagai sekolah induk. Sehingga mudah terjangkau.

Yang (barangkali) sangat kurang beruntung adalah guru-guru yang jam mengajarnya sedikit, namun di sekolah-sekolah lain yang lokasinya relatif mudah terjangkau dari sekolah induk tidak tersedia jam. Dan, memang, rata-rata sekolah yang berada di perkotaan/wilayah mudah terjangkau telah penuh dengan guru. Dengan demikian, tidak ada jam tersisa. Itu berlaku di sekolah negeri dan swasta. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk merespon rencana pemerataan guru, itu dengan tindakan pemutasian guru. Yang, mungkin terkena mutasi adalah guru-guru yang kekurangan jam itu tadi dan guru yang masih sedikit jam terbangnya.

Sekalipun ikhtiar itu belum terwujud, pemerintah pusat tampaknya menghendaki agar pemerintah daerah  (pemda) segera menatanya. Bahkan,  (barangkali) harus sudah selesai paling tidak selama dua tahun sejak dikeluarkannya Peraturan Mendiknas (Permendiknas) Nomor 39 Tahun 2009 (tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan), yang ditetapkan pada tanggal 30 Juli 2009 sebagai landasan dalam melakukan pengaturan pelaksanaan tugas guru mengajar.  Mau tidak mau, pemda (kabupaten/kota) sesegera mungkin melakukan. Kalau dihitung sejak 2009, berarti tahun ini, 2011, penataan itu sudah harus selesai.

Maka, menjelang memasuki tahun pelajaran 2011/2012 ini, di kabupaten/kota sangat santer dibicarakan perihal tersebut. Dan, sungguh ini menggelisahkan sebagian guru yang sulit mencari jam mengajar di sekolah lain yang masih terjangkau dari sekolah induk dan guru yang masih sedikit jam terbangnya.  Mereka besar kemungkinan terkena dampak mutasi. Sementara itu, guru-guru yang sudah tersertifikasi sangat kecil kemungkinannya untuk dimutasi karena memang jam mengajarnya sudah terpenuhi.

Kalau memang kemungkinan itu yang terjadi, bisa saja ke depan guru tidak lagi selalu dekat dengan keluarga. Karena, sangat kecil kemungkinan untuk mendapatkan sekolah yang dekat dengan sekolah tempat sekarang mengajar untuk memeroleh tambahan jam mengajar, yang umumnya memang telah dekat dengan tempat tinggal tetap mereka. Tetapi, andai toh begitu, pemda, baik kabupaten maupun kota, tidak akan gegabah menempatkan guru-guru itu. Artinya, demi tetap menjaga kesejahteraan guru dengan keluarganya, yang diakui atau tidak sangat berdampak pada profesinya dalam membawa generasi penerus bangsa ini ke kemajuan, tentu kebijakan yang diterapkan tetap “berpihak” kepada guru. Semoga. 

1 komentar:

  1. walaupun begitu semoga pemerintah tetap harus memberikan yang terbaik kepada guru, pak mendapatkan 24 jam itu gimana caranya ya? saya kurang paham

    BalasHapus

""