Sabtu, 25 Juni 2011

Berhasil


Kemarin sore, sekitar pukul dua, saya mengantar istri ke kampus. Waktu paginya, sebelum dia berangkat bekerja, sudah mengatakan kepada saya agar saya mau mengantarnya ke kampus. Sebab, dia harus masuk kampus mengikuti ujian tepat pukul tiga, padahal pulang bekerja pukul dua. Waktu satu jam dia pikir tidak akan cukup leluasa untuk berkendara sendiri dari Kudus ke Pati. Kebetulan jalur yang dilewati jalur utama pantura. Jadi, relatif ramai. Dalam waktu yang relatif singkat dengan agenda kegiatan yang harus membutuhkan ketenangan batin, yakni ujian, sangat mengusik pikirannya.

Saya pun memahami bahwa saat-saat ujian memang memerlukan ketenangan batin dan pikiran. Dalam kondisi batin dan pikiran yang tidak tenang, atau katakan kurang tenang saja, akan sangat berdampak pada kesiapan menghadapi ujian. Dimungkinkan akan mengalami kesulitan dalam menjawab soal-soal yang ada. Sebab, secara psikologis akan terganggu. Bukankah jiwa yang kurang tenang tidak dapat berkonsentrasi baik?

Saya menyanggupi. Namun sayang, saya kurang bisa menepati janji. Yang dia harapkan saya sudah harus  berada di “tempat janji” pukul dua, atau barangkali sebelum pukul dua saya sudah harus berada di tempat itu, namun tiada dijumpai. Oleh karenanya, (ini barangkali) dia akhirnya pulang dengan wajah yang jauh dari ramah. Jelek. Dan itu meredupkan sikap simpati saya. Akan tetapi, sekalipun begitu, saya tetap memiliki niat untuk mengantarnya. Pikiran saya masih sangat sadar. Tidak terhanyut dalam sikap emosional.

Saya sadar pula bahwa dia pasti marah. Membenci saya saat itu. Karena, barangkali, dia merasa saya tidak menghargainya, memerhatikannya. Apalagi dia mengatakan bahwa tadi telah menelepon berkali-kali ke HP saya, bahkan ke telepon rumah. Tetapi, tidak ada yang mengangkat. Dan, benar, setelah saya buka HP saya, begitu banyak panggilan istri tidak saya jawab. Jelas dia marah sejadi-jadinya sekalipun cukup dengan menampakkan raut muka pedas. Janji (telah) tidak saya tepati.

Yang ada dalam pikiran saya saat itu hanya satu. Saya tetap akan mengantarnya sampai ke kampus seperti waktu yang dijanjikan awal, yakni pukul tiga. Karenanya, begitu dia naik motor di jok bagian belakang, saya langsung mengendarai motor dalam laju cepat. Di atas motor, dari Kudus ke Pati, kami nyaris tak berbicara. Di samping saya memang konsentrasi mengemudi motor, istri saya dalam kondisi hati yang tak nyaman, tentu membuat dia malas berbicara. Dalam “kebisuan” meski fisik bersentuhan itu, motor dalam kendali tangan saya melaju menerabas kendaraan lain yang berseliweran di jalur itu, hingga selamat sampai tujuan. Pukul tiga kurang limabelas menit. Jadi, sesuai janji awal, tidak melanggar waktu.

Kami berpisah. Istri masuk kampus, yang tentu telah dinanti segala aktivitasnya hari itu. Sementara saya mencari warung makan. Karena memang siangnya saya belum makan. Sempat muter-muter Simpang Lima Pati, bermaksud mencari lontong tahu yang biasanya istri (sewaktu kuliah) membelinya untuk kami. Tapi, ternyata lontong tahu yang terasa enak itu, tidak saya jumpai. Jadinya saya berhenti di warung nasi goreng, yang tampaknya baru saja buka.

Barangkali saya orang yang pertama pesan. Satu piring nasi goreng dan segelas teh hangat. Saya menikmatinya dengan sangat santai karena sembari menunggu istri saya selesai ujian. Saya pikir sekalipun saya buat berlama-lama makannya, waktu menunggunya masih tersisa banyak. Itulah sebabnya, saya akhirnya membangun komunikasi dengan penjual nasi goreng itu. Saya katakan terus terang bahwa saya turut duduk di kursi yang (tentu) telah akrab dengan pantat entah sekian banyak pembeli, untuk menghabiskan waktu menunggu istri. Penjual itu sangat terbuka dan menerima saya, bahkan kami akhirnya akrab berbincang-bincang.

Penjual nasi goreng, yang memakai krek karena pincang itu, ditemani istri dan satu anaknya, laki-laki. Yang menarik bagi saya saat itu adalah bukan karena pincangnya, tetapi anak laki-lakinya yang masih remaja itu turut berjualan. Saya tahu kemudian, anak itu masih SMP, naik ke kelas 9. Saya sejak awal masuk warung itu sudah memerhatikan anak itu karena bagi saya itu “hasil pendidikan” yang sangat menarik. Anak seusia itu sudah mau membantu orang tuanya berjualan di pinggir jalan, yang kata bapaknya sering dilewatii oleh teman-teman sekolahnya. Apalagi posisi gerobak nasi goreng itu berada persis sederat dengan super market yang sering dikunjungi banyak orang, termasuk di antaranya (tentu) teman-teman si anak itu. Dia tidak merasa malu sekalipun diketahui oleh teman-temannya. Bahkan, kata ibunya, pernah juga diejek temannya. Namun, dia tetap saja membantu.

Sementara, ada berapa banyak anak yang sering kita jumpai tidak mau membantu pekerjaan orang tuanya. Apalagi jika pekerjaan orang tuanya sebagai pedagang kaki lima (PKL), misalnya. Bahkan, tak sedikit anak yang merasa malu atas pekerjaan orang tuanya. Malu jika orang tuanya sebagai petani, PKL, tukang becak, buruh pabrik, tukang batu, dan yang sejenisnya. Lebih malu lagi jika teman-temannya mengetahui profesi orang tuanya itu.

Itulah sebabnya, saya sungguh salut terhadap bapak dan ibu penjual nasi goreng itu karena bagi saya mereka telah berhasil mendidik anak. Saya yakin anak-anak yang sejak kecil telah diperkenalkan pekerjaan orang tua dan bahkan diperbolehkan/diajak membantu, dan anak itu (ternyata) mau menerimanya dengan sangat suka cita, anak itu tentu lebih cerdas dan terampil jika dibandingkan dengan anak-anak yang sama sekali tidak pernah membantu pekerjaan orang tua. Sebab, pendidikan keterampilan hidup  (life skill) telah mereka peroleh sekalipun tidak melalui pendidikan formal. Dan, justru yang demikian itu yang membawa karakter anak bertumbuh positif. 
 
Saya sangat bangga sebangga mendengar istri saya yang mengatakan bahwa ujian yang dihadapinya beberapa waktu lalu dan juga kemarin itu membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Ia lulus semua mata kuliah. Bapak dan ibu penjual nasi goreng dan istri saya sama-sama berhasil, meski dalam keberadaan yang berbeda. Saya yakin, keberhasilan mereka itu membutuhkan “perjuangan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""