Selasa, 28 Juni 2011

Bersama Menghargai PPDB 2011


Minggu-minggu ini, sekolah, selain Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), membuka penerimaan peserta didik baru (PPDB). Anak-anak dan orang tua berdatangan ke sekolah tujuan untuk mendaftar. Sejak pagi (Senin, 27/6) di beberapa sekolah pilihan, di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tampak sudah disesaki pendaftar. Sekolah-sekolah negeri, baik yang berada di wilayah perkotaan maupun pinggiran kota, sama-sama diserbu pendaftar. 

Namun, khusus sekolah-sekolah yang berada di perkotaan, yang di mata masyarakat umumnya dipandang lebih berkualitas dibanding sekolah-sekolah di pinggiran kota (sekalipun tidak begitu), lebih banyak diserbu pendaftar. Bukan tidak mungkin “serbuan” pendaftar itu akhirnya jumlahnya melebihi pagu yang ditetapkan sekolah. Sekolah tidak mungkin “membengkakkan” pagu. Hal itu terkait dengan jumlah ruang kelas. Sehingga sekolah mengambil langkah untuk menyeleksi pendaftar.

Bagimana pun, sekolah, yang tentu saja ingin menjaga mutu, menyeleksi pendaftar (anak) didasarkan pada nilai dan prestasi yang pernah dicapai anak. Seperti tahun lalu, sekarang ini, di salah satu SMP negeri di Kudus, penyeleksian tetap didasarkan pada rumus: 2 x Nilai UASBN tiga mata pelajaran (mapel), yakni IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia + Bonus prestasi. Untuk Bonus prestasi (baik akademik maupun nonakademik) dibobot berdasarkan tingkat juara dan kejuaraan. Jika seorang pendaftar, misalnya,  memiliki banyak prestasi (yang dibuktikan dengan piagam penghargaan), ia hanya dapat mengikutkan satu prestasi yang juara dan kejuaraan tertinggi. Prestasi yang lain tidak dipertimbangkan.

Dengan adanya penyeleksian itulah, maka dimungkinkan ada banyak pendaftar yang tidak dapat diterima karena nilainya tidak memenuhi kriteria seperti yang ditentukan oleh sekolah tersebut. Mau tidak mau, pendaftar tersebut harus mencabut berkasnya dan mendaftar di sekolah lain, baik di negeri (yang masih membuka pendaftaran) maupun swasta. Dalam hal ini, sekolah tidak bersikap pilih kasih. Semua kriteria telah dibuka secara terang benderang di hadapan masyarakat. Sekolah justru bersikap adil bagi semua warga bangsa untuk memiliki akses yang sama menuntut ilmu, sekalipun ada kriteria yang ditentukan, karena sekali lagi, sekolah di mana pun saja hendak mempertahankan mutu. Dan, mutu sekolah, diakui atau tidak, terkait dengan inputnya.

Akan tetapi, (hal) yang bisa saja  terjadi adalah ada orang tua yang tetap menginginkan anaknya dapat diterima di sekolah tertentu sekalipun nalainya tidak mencukupi. Mereka dapat saja meminta tolong kepada pejabat daerah, baik eksekutif maupun legislatif, atau pejabat lainnya yang berpengaruh untuk dapat memasukkannya dengan suatu “kompensasi” tertentu atau mungkin karena masih memiliki pertalian kekerabatan. Barangkali ini bukan rahasia umum lagi. Di mana-mana tempat bisa saja terjadi. Dan, kepala sekolah, oleh karena jabatannya ditentukan oleh pemimpin di daerah, tidak dapat “berkutik” lagi. Mau tidak mau, anak yang sekalipun nilainya tidak memenuhi syarat, oleh karena “bawaan”, akhirnya kepala sekolah menerimanya (meski) tentu saja dengan beban moral yang luar biasa berat.

Oleh karena itu, barangkali kita perlu merenungkan “kejujuran” yang dipilih oleh Ibu Siami, sekalipun berada di tengah-tengah masyarakat yang kehancuran moralnya sedemikian “berat”,  jika kita berniat membawa bangsa ini ke depan lebih memiliki “harga”. Semangat (nurani) Ibu Siami perlu dijadikan motivasi oleh siapa saja, baik rakyat maupun elite, dalam segala tindak, termasuk di masa-masa PPDB 2011 ini. Menghargai keberlangsungan PPDB 2011 berarti menghargai kualitas pendidikan yang membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Semoga.

2 komentar:

  1. kejujuran membawa ketenangan, kebohongan membawa kegelisahan

    BalasHapus
  2. @ibnu

    Sebuah ungkapan yang tidak salah.

    BalasHapus

""