Selasa, 07 Juni 2011

Guru, Dibenci karena Tanggung Jawab Moral




Tidak ada guru yang membiarkan siswanya melakukan penyimpangan sikap. Penyimpangan sikap yang dimaksud, misalnya, membuang sampah sembarangan, berbicara/menulis kata-kata kotor di buku atau di tempat lain, melompat pagar sekolah, tidak mengumpulkan tugas sesuai dengan waktu yang telah disepakati, mengejek teman, dan tidak mau mengambil peran dalam kerja bakti massal di sekolah. Guru, kebanyakan, tidak akan membiarkan hal itu berlalu begitu saja. Guru pasti akan memberi nasihat kepada siswa tersebut. Minimal memberi teguran.

Nasihat dan/atau teguran yang diberikan oleh guru kepada siswa yang melakukan penyimpangan, jika hendak dihitung, jumlahnya (sangat) banyak. Jumlah itu barangkali dapat dilihat dalam buku “Pelanggaran Siswa”, yang umumnya dimiliki oleh Urusan Kesiswaan pada sekolah-sekolah yang memerhatikan administrasi. Dalam buku itu, sejauh saya tahu, memuat (juga) kolom “cara penanganan”. Sehingga di sana akan dapat kita baca berbagai cara dan berapa kali penanganan. Tidak satu-dua kali saja. Bisa berkali-kali, baik terhadap oknum siswa tertentu maupun siswa lain dalam penyimpangan sikap yang berbeda ataupun sama.

Guru sangat paham bahwa menangani hal itu ada konsekuensi yang ditanggung. Siswa yang sering melakukan penyimpangan sikap akan “tak merasa nyaman” karena boleh jadi nasihat dan/atau teguran dipahami sebagai penghalang kebebasan.  Karenanya, tidak mustahil (akhirnya) siswa itu berbuat “kurang menyenangkan” terhadap guru yang menangani, atau lebih tepatnya, yang memberi perhatian. Hanya memang, “perhatian” guru itu lebih sering dipersepsi agak berbeda oleh siswa, terutama siswa yang berperilaku menyimpang. Bagi guru, perhatian itu tulus untuk mengarahkan siswa ke arah yang baik; tetapi bagi siswa, sering dipersepsikan mengekang.

Persepsi salah oleh siswa itu sering diikuti reaksi “membenci” terhadap guru yang memberi perhatian. Siswa sering bersikap seolah-olah hormat ketika di hadapan guru, tetapi kurang  -untuk menghindari penggunaan kata “tak”- hormat saat di “belakang” guru. Siswa seakan-akan terlihat patuh, bahkan (ini yang mestinya tak boleh terjadi) takut terhadap guru. Disadari atau tidak, siswa yang demikian itu, di sekolah, telah terpetakan. Karena umumnya mereka memiliki komunitas sendiri. Yang, ditandai dengan kebiasaan-kebiasaan tersendiri, berbeda dengan kebiasaan siswa kebanyakan. Jumlahnya memang relatif tidak banyak. Namun, hampir dapat dipastikan setiap ada penyimpangan sikap yang terjadi di sekolah oknum siswa tersebut terlibat.

Sejatinya dapat saja guru merasa bosan karena yang dihadapi lebih banyak pada oknum siswa yang sama. Sejak dulu sampai kini selalu menangani siswa tersebut. Dan bukan tidak mungkin kasus yang ditangani setali tiga uang, sama saja, dari dulu hingga sekarang. Itu artinya tidak ada perubahan. Jadi, nasihat dan/atau teguran yang diberikan berkali-kali tanpa manfaat. Bukan mustahil, oleh   karena sering berhadapan dengan guru dalam perihal yang sama, siswa yang bersangkutan justru menjadi semakin benci.   “Mereaksi” lebih berani dan keras terhadap guru yang “memberi perhatian”.

Kalau guru tidak memiliki tanggung jawab moral, barangkali guru sudah membiarkan begitu saja siswa yang serupa itu. Buat apa diperhatikan dengan sungguh-sungguh jika pada akhirnya justru membuat, katakanlah, “sakit hati”, kecewa, jengkel, dan sebagainya. Menambah beban dan dosa saja. Bukankah lebih baik menghindar saja dari persoalan-persolan demikian? Buat apa mempersulit diri. Masih ada pekerjaan lain yang menanti dan membutuhkan konsentrasi lebih. Siswa-siswa lain, yang jumlahnya lebih banyak, bukankah membutuhkan perhatian juga? Mereka butuh pendampingan, bimbingan, dan pengarahan. Tetapi, oleh karena tanggung jawab moral terpanggul di pundak demi kebaikan masa depan siswa, guru tetap acuh sekalipun kondisi begitu menjengkelkan.

3 komentar:

  1. well...memang banyak kejadian..guru dibenci krn terlalu idealis.

    itulah dunia

    BalasHapus
  2. saya pernah dibawakan parang oleh siswa saya karena menegur dia , padahal saya telah berusaha sambil tersenyum dan memberikan ekspresi sayang

    BalasHapus
  3. Guru itu menjadi tauladan bagi siswanya atau muridnya... kita harus santun dalam bersikap

    BalasHapus

""