Kamis, 16 Juni 2011

Harus Mengakui Kemampuan Anak

Kemarin saya bertanya kepada teman guru di sekolah, yang kebetulan wali kelas si sulung. Yakni, mengenai apakah si sulung tetap (bisa) bertahan di kelas imersi atau harus pindah ke reguler. Kelas imersi ditandai dengan penggunaan bilingual (bahasa Indonesia dan Inggris) dalam proses pembelajaran untuk beberapa mata pelajaran (mapel). Mapel yang menggunakan bilingual di antaranya mapel Matematika, IPA, IPS, dan TIK. Dalam proses pembelajaran materi tersebut sedapat-dapatnya antara guru dengan peserta didik dan antarpeserta didik berinteraksi dengan bahasa Inggris dan Indonesia. Sementara itu, kelas reguler ditandai dengan pemakaian monolingual (bahasa Indonesia) dalam proses pembelajaran untuk semua mapel, tentu saja kecuali mapel Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.

Dengan demikian, sebetulnya peserta didik kelas imersi memiliki (sedikit) kelebihan dibandingkan reguler. Karenanya, ketika ada pembicaraan “perpindahan” dari kelas imersi ke reguler, yang (barangkali) diharapkan dapat menjaga bahkan meningkatkan mutu kelas imersi, saya terpancing menanyakan posisi si sulung di kelas imersi. Karena bagaimanapun juga “perpindahan" itu akan membawa dampak terkuranginya peserta didik kelas imersi. Beberapa peserta didik kelas imersi, dengan kriteria dan jumlah (terbaru) rombongan belajar yang telah ditentukan, barangkali harus ikhlas pindah ke reguler. Mereka ini yang dimengerti kurang dapat mengikuti dinamika pembelajaran di kelas imersi.

Memang sejatinya kasihan jika kenyataannya anak kurang -untuk menghindari pemakaian kata “tidak”- berkemampuan. Mereka tidak dapat dipaksakan untuk mengikuti keberlangsungan belajar di kelas imersi. Sebab, jika dipaksakan dampak yang akan dialaminya tentu parah. Mereka akan tertinggal dalam belajar. Dan, ini menjadi beban tersendiri bagi anak. Bukan mustahil pada akhirnya anak malah tidak mengalami pertumbuhan dalam pendidikannya karena merasa “tersiksa” oleh ketertinggalannya itu.

Namun demikian, bukan berarti pindahnya mereka ke kelas reguler bebas dari masalah. Anak-anak itu, bagaimana pun juga, tetap akan mengahadapi masalah. Dari kelas imersi pindah ke reguler itu saja sudah memberi beban psikologis pada anak. Bagaimana tidak. Kalau pada mulanya ia berada dalam kelompok anak yang dipandang memiliki kelebihan, tetapi tiba-tiba masuk dalam kelompok belajar biasa, tidakkah itu akan menimbulkan berbagai sikap? Perasaan malu, rendah diri, dan kehilangan kepercayaan diri paling tidak menghantuinya. Karenanya, perlu pendekatan persuasif edukatif terhadap anak-anak itu jika memang mereka harus diregulerkan. Dan tidak cukup kepada anak, tetapi juga perlu memahamkan orang tua/wali murid akan keberadaan anaknya. Sebab, yang sering menjadi kendala justru gengsi orang tua/wali murid. Keinginan mereka agar anaknya tetap berada di kelas yang dianggap bergengsi itu yang kadang sulit dihilangkan.

Ketika saya bertanya kepada teman guru yang sekaligus sebagai wali kelas si sulung, seperti yang telah saya singgung di awal tulisan ini, boleh jadi berkaitan dengan sikap (gengsi) itu. Terus terang, ketika itu, dalam batin saya muncul perasaan kurang nyaman. Sebab jangan-jangan si sulung oleh karena (mungkin) kekurangmampuaannya harus pindah ke kelas reguler. Si sulung kalah berkompetisi dengan teman-temannya. Dua kelas imersi yang ada harus disusutkan menjadi satu kelas berkonsekuensi beberapa peserta didik harus ada yang (maaf) tereliminasi, masuk ke reguler. Andai si sulung tereliminasi, ketika itu, saya kurang dapat menerima kenyataan. Ini yang saya maksudkan gengsi orang tua/wali murid, yang kadang menjadi kendala pertumbuhan pendidikan anak.

Saya, demikian juga orang tua yang lain, semestinya menyadari akan keberadaan anak-anak. Sebab kompetensi anak-anak bukan kompetensi kita. Mereka memiliki kompetensi sendiri. Kompetensi yang unik dan khas, yang tidak dapat disamakan dengan milik orang lain, termasuk kita sekalipun orang tuanya. Karenanya, sikap mau mengakui kemampuan anak, seberapa pun kemampuan, itu yang barangkali terbaik bagi pertumbuhan pendidikan anak-anak kita.

3 komentar:

  1. :D

    pasti si sulung bisa bertahan di kelas imersi :D

    BalasHapus
  2. mengurus dan membimbing anak kecil ternyata memang tak semudah yg kita pikir... saya sedang mengalaminya sekarang ini :(

    BalasHapus
  3. karena tak ada satupun anak yang bodoh di dunia ini. tapi cara dan karakter belajarnya berbeda.


    Urgently Required
    Easy Speak, A fast-growing National English Language Consultant, is hunting for
    English Tutors (English Teachers)
    Qualifications:
    1) Competent, Experienced, or Fresh Graduates
    2) Proficient in English both spoken & written
    3) Friendly, Communicative, & Creative
    4) Available for being placed in one of the following cities:
    a. Pekanbaru 0761-7641321/ 081 363 133 003 (Ms Lie)
    b. Balikpapan 0542-737537
    c. Batam 0778-460785
    d. Palembang 0711-350788
    e. Banjarmasin 0511-7069699
    f. Makassar 0411-451510
    g. Semarang 024-3562949
    h. Bandung 022-76660044
    If you meet the qualifications above, please send your resume to: easyspeak.recruiting@gmail.com.
    Or contact our branch offices mentioned above to confirm prior to sending your resume.
    Deadline: June 31th, 2011.
    Visit http://www.easyspeak.co.id for further information.
    Make sure that you won’t miss this golden opportunity as the day after tomorrow might be too late for you to compete for this position

    BalasHapus

""