Rabu, 29 Juni 2011

Keunikan Anak Memilih Sekolah

Di musim penerimaan peserta didik baru (PPDB) ini, anak-anak umumnya telah memiliki pilihan sekolah. Menjatuhkan pilihan sekolah itu, bisa saja karena pilihannya sendiri, tetapi bisa juga karena pilihan orang tua. Baik pilihannya sendiri maupun orang tua, kedua-duanya tentu saja memiliki pertimbangan, yang boleh jadi semuanya baik.

Anak memilih sekolah karena sekolah pilihannya itu memang dituju oleh banyak temannya. Anak-anak masih sulit berpisah dengan teman yang sejak lama telah akrab. Apalagi anak-anak SD, yang selama enam tahun berkumpul. Bermain bersama, belajar bersama, mengalami suka-duka di SD bersama, sulit untuk mengalami masa-masa harus berpisah. Ini, sangat berpengaruh atas pilihan mereka untuk tetap bersekolah di sekolah yang sama. Mereka ingin menjalin kebersamaan itu tetap dialami. Ini persoalan perasaan anak. Ikatan emosional mereka sulit dipisahkan.

Sekalipun mereka memilih sekolah berdasarkan ikatan emosional, tetapi anak-anak itu rupanya telah juga memerankan logika mereka. Memanfaatkan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal. Bukankah mereka pasti memilih sekolah-sekolah yang favorit? Sekolah yang “diserbu” banyak orang? Tidak sebaliknya bukan? Memilih sekolah-sekolah yang dinomorsekiankan masyarakat. Tentu tidak. Ini menunjukkan bahwa anak-anak telah berpikir kritis.

Bahkan, yang barangkali tidak kita sadari adalah kekritisan mereka itu bisa saja mengalahkan perasaan mereka sendiri. Sekalipun mereka demikian erat memiliki ikatan emosional dengan teman-teman, tetapi kalau memang “kemampuan” mereka dimungkinkan tidak dapat masuk di sekolah yang sama, mereka tetap berpisah. Mereka menentukan sekolah pilihan (yang dimengerti) sesuai dengan kemampuannya. Anak-anak yang tergolong pandai menuju ke sekolah favorit, sedangkan anak-anak “menengah” ke sekolah yang levelnya agak di bawah. Semantara itu, anak-anak yang kebetulan ada di level agak bawahnya lagi ke sekolah yang berikutnya.  Inilah yang menarik. Mereka (ternyata) telah memetakan diri.

Tetapi, jika orang tua telah intervensi dalam pilihan sekolah anaknya, barangkali keunikan itu tidak ada lagi. Namun, bukan berarti sikap orang tua yang demikian itu tidak baik. Baik, apabila sikap itu tetap memberi ruang kepada anak untuk menyampaikan pendapatnya. Sekalipun mungkin pendapat itu akhirnya tidak diterima oleh orang tua, yang tentu saja harus dibarengi dengan alasan-alasan yang masuk akal. Pertimbangan-pertimbangan yang dapat dimengerti oleh anak. Tidak ada orang tua yang memberikan pendidikan jelek kepada anak-anaknya bukan?  Dengan demikian, anak akhirnya menerima pilihan orang tua itu tetap dengan hati yang suka cita. Karena kecukacitaan itulah yang akan memberi energi positif dalam keberlangsungan pendidikan mereka. Bukankah begitu?

1 komentar:

  1. Pak, saya dulu dibebaskan memilih sekolah. Ingat dulu waktu masuk SMA, papa mama saya cuma bisa manut waktu saya memutuskan masuk SMA De Britto.. padahal saya tau mereka pengen saya masuk Negeri :)

    BalasHapus

""