Minggu, 19 Juni 2011

Mendidik Anak Seharusnya (Saling) Terbuka


Barangkali sikap yang ditempuh itu dianggap benar. Sebab, dengan menutupi kesalahan anak atau lebih tepatnya memberi informasi yang baik-baik saja akan anaknya, dapat mengurangi fakta anaknya di muka guru. Fakta yang kurang baik tidak diberitahukan, alias ditutup-tutupi. Selalu mengatakan bahwa anak itu di rumah senantiasa berperilaku baik. Menuruti nasihat orang tua, belajar dengan rajin, dan bersikap sopan, misalnya. Perihal malas bangun, lebih banyak melihat televisi daripada belajar di setiap harinya, dan tidak mau membantu orang tua, tidak pernah diceritakan di hadapan guru.

Itu sering saya jumpai ketika mengundang orang tua/wali murid yang anaknya berperilaku menyimpang di sekolah. Misalnya, rambut yang disemir, mengenakan kaus kaki tak sewajarnya, memasukkan baju tak semestinya, tidak mengerjakan PR, dan tidak mengerjakan tugas sekolah. Ketika orang tua/wali murid diberi tahu bahwa anaknya berperilaku begitu sering kurang dapat menerima. Mereka berkilah, di rumah tidak begini kok, tidak begitu kok, dan sebagainya. Intinya menutupi kelemahan anaknya.

Bagi saya ini sikap yang lucu. Buat apa ditutupi-tutupi. Kalau memang anak kita berperilaku begitu harus diceritakan begitu.  Maksudnya, cerita apa adanya. Kurang baik, misalnya, katakana kurang baik; jika baik katakan baik. Dengan begitu guru akan mendapat informasi yang sejatinya. Sehingga, guru akan mudah menentukan tindakan yang sebenar-benarnya terhadap anak tersebut di sekolah. Sebaliknya, ketika orang tua/wali murid memberi infomasi tentang anaknya tak sejujurnya, guru teramat sulit memastikan tindakan yang setepat-tepatnya bagi anak itu.

Disadari atau tidak, hal tersebut justru akan menjerumuskan anak ke “jalan” yang tidak benar. Kelemahan anak yang ditutup-tutupi akan menjadikan anak merasa mendapat “perlindungan”. Perlindungan yang tidak benar akan berdampak pada sikap anak menjadi congkak, sombong, dan besar kepala. Akhirnya anak tidak memiliki prinsip yang sejati. Karena, ia, sekalipun merasa berperilaku tidak benar, tetap dibela oleh orang tuanya. Jadi, kesempatan itu akan “dimanfaatkan” senikmat-nikmatnya untuk berbuat semaunya karena merasa ada yang melindungi. Bukankah hal itu (justru) akan semakin membuat anak berperilaku parah?

Dan bukan mustahil atas sikap orang tua/wali murid yang demikian itu, membuat guru, termasuk saya, kehilangan rasa simpati lagi terhadap anak itu. Sudah diberi “perhatian” yang sejauh itu, ternyata orang tua/wali murid tidak memberikan sambutan yang positif. Ini bukan berarti “memaksa” orang tua/wali murid untuk mengakui apa yang disharkan guru akan anaknya. Bukan. Bukan begitu. Yang diinginkan oleh setiap guru, tentu saja, adanya keterbukaan orang tua/wali murid terhadap guru akan keberadaan anaknya. Sebab, keterbukaan dalam memberikan informasi itu akan sangat membantu membangun karakter anak.

Dugaan saya, ketika orang tua/wali murid memberikan informasi yang baik-baik saja  -yang kurang baik bahkan buruk sengaja disembunyikan-  akan keberadaan anaknya kepada guru barangkali agar guru berpikir bahwa orang tua/wali murid itu berhasil dalam mendidik anaknya. Memerhatikan anaknya di rumah dengan baik. Dengan sepenuh hati mengikuti perkembangan anak. Memberikan pendampingan yang sesungguhnya. Menjadi orang tua yang baik bagi anak. Atau paling tidak, ingin menunjukkan bahwa anaknya baik-baik saja, tidak seperti yang diketahui guru ketika berada di sekolah. Dengan begitu, guru akhirnya membuang kesan “kurang baik” akan anak tersebut. Lalu, berbalik memberi kesan “baik”.

Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Itu kalau saya. Entah, guru yang lain. Saya tidak tahu. Saya malah di samping tidak simpati lagi terhadap anak tersebut, tidak simpati pula terhadap orang tua/wali murid yang bersikap begitu. Hendak diajak mendidik baik-baik terhadap anaknya kok malah kurang proaktif. Padahal kerja sama dalam mendidik anak, antara sekolah (dalam hal ini guru) dan orang tua/wali murid, sungguh menjadi ikhtiar yang seharusnya terjadi. Kerja sama yang dilandasi keterbukaan akan sangat membuka jalan terang bagi penyelesaian masalah. Bukankah begitu? 

2 komentar:

  1. p cabar mas
    blue sellau sennag membaca postinganmu
    sukses dan asalam

    BalasHapus
  2. Kenyataannya seperti itu, banyak orangtua yang tidak paham ilmu tumbuh kembang anak. namun jika ada kegagalannya sekolah yang disalahkan.

    BalasHapus

""