Kamis, 30 Juni 2011

Menjaga Hati Anak, Itu Mendidik


Konsekuensi mendaftar ke sekolah-sekolah yang dianggap favorit masyarakat, jika anak hanya berkemampuan pas-pasan, bisa saja tidak diterima. Tidak hanya anak yang (akhirnya) mengalami rasa sedih, kecewa, dan barangkali marah pada diri sendiri, tetapi juga orang tua. Hanya, orang tua acapkali melampiaskan rasa sedih, kecewa, dan amarah itu kepada anak.  Apalagi jika anak, selalu harus diperintah-perintah saat belajar. Tidak mau belajar secara mandiri. Ada kemauan belajar jika disuruh/dinasihati orang tua terlebih dahulu.

Keberadaan anak yang demikian itu umumnya menjadi pemicu amarah orang tua ketika ia gagal masuk ke sebuah sekolah alias tidak diterima. Sekalipun amarah itu tidak diwujudkan dalam perilaku fisik, tetapi sering dimunculkan lewat sikap bicara atau ekspresi raut wajah. Ketika bertemu anaknya, misalnya,  berkata-kata kasar, tidak seperti biasanya. Juga berwajah “seram’, tidak ramah serupa kebiasaannya. Disadari atau tidak, anak akhirnya merasa tersudut. Merasa bersalah. Dan, bukan tidak mungkin secara psikologis anak kehilangan kepercayaan diri. Murung. Tidak bergairah. Menyendiri. Kehilangan potensi untuk bersosialisasi.

Jelas anak yang demikian “jatuh” dalam dua himpitan. Anak tersebut malu terhadap teman-temannya. Karena ia merasa bodoh jika dibandingkan dengan teman-temannya. Terlebih ketika ia mengingat-ingat teman-temannya yang diterima di sekolah tempat ia mendaftar. Temannya diterima, sementara ia tidak. Rasa minder menghunjam dirinya. Belum lagi sikap orang tua yang memarahinya. Ini benar-benar petaka bagi anak. Ia kehilangan ruang untuk bertumbuh. Di lingkungan teman-temannya, ia malu; di hadapan orang tuanya, ia takut. Matilah karakter anak.

Bukankah jika anak mengalami rasa depresi semacam itu, kita, orang tua, sedih? Semestinya sedih kita justru bertumpuk-tumpuk. Karena kegagalan anak berarti kegagalan kita, orang tua. Hal itu menunjukkan bahwa orang tua tidak mampu “membawa” anak pada dunia pendidikan yang baik. Jadi, semestinya bukan melampiaskan amarah kepada anak, tetapi pada diri sendiri. Menyadari diri bahwa ada kelemahan yang harus diperbaiki.

Oleh karena itu, bagaimana pun keberadaan anak, orang tua, sebagai pribadi yang paling dekat dengan anak, harus menjaga hatinya. Menjaga hati anak berarti mendidik anak dalam pertumbuhannya secara wajar. Memahamkan kegagalan sebagai sebuah keberhasilan yang tertunda kepada anak sangat perlu dilakukan oleh orang tua. Bahwa sebuah proses tidak selalu berhasil. Itu ya. Sehingga, ada kegagalan itu hal yang wajar. Dan, perlu diingat, sekolah tidak satu bukan? Ada banyak sekolah yang dapat dituju. Tidak diterima di sekolah tujuan pertama, bisa bersekolah pada sekolah yang lain.

Yang justru harus ditanamkan pada diri anak adalah belajar di sekolah lain pun, sama. Yang terpenting adalah belajar lebih giat agar “kegagalan” yang pernah teralami, tidak terulang di kelak kemudian hari. Itu yang harus dilakukan orang tua manakala anaknya mengalami kegagalan dalam memasuki sekolah. Sebab, orang tua memiliki “akses hati” kepada anak lebih mudah ketimbang orang lain.

5 komentar:

  1. saya kadang lupa kalau anak memerlukan kita untuk menumbuhkan percaya diriya dikala sedang kecewa krn tidak berhasil.

    salam kenal

    BalasHapus
  2. Tulisan ini persis seperti apa yang sedang saya renungkan, Pak. Saya dan istri saat ini pas sedang sedikit stress menghadapi kenyataan nilai anak sy yang di luar dugaan. Tak hentinya saya bilang pd istri agar jangan memarahi anak berlebihan.
    Kadang jadi beban pikiran ketika kita terlalu sibuk ngurusi anak orang sementara anak sendiri malah terkesan kurang perhatian. Tetapi Alhamdulillah, nampaknya anak saya akan selamat dari degradasi jurnal PPDB di sekolah pilihannya.

    BalasHapus
  3. banyak lho pak teman-teman guru yang sering memaksakan kehendak ke anak-anaknya, makanya saya selalu mengampanyekan kepada rekan-rekan guru untuk ngeblog, supaya bisa ikut baca-baca artikel bagus seperti ini dan bisa saling berbagi

    BalasHapus
  4. @M Mursyid PW

    Semoga putra Bapak mendapat yang terbaik sesuai pilihannya, sebab dengan begitu semangat belajarnya pasti terus akan terpacu.

    BalasHapus
  5. @budies

    Ya, Pak Bud, mari kita terus berbagi lewat pengalaman-pengamalan dan renungan kita.

    BalasHapus

""