Jumat, 17 Juni 2011

Siami-Alif, Pendidik Karakter Bangsa

Hidup di sebuah negeri yang penuh ketidakjujuran, yang kini dapat dirasa merambah hampir di seluruh segmen kehidupan, membutuhkan keberanian untuk bersikap jujur. Ketidakjujuran dapat beragam wujud. Tindak korupsi, kolusi, nepotisme, dan janji politik yang tidak terbukti, misalnya. Jujur begitu mahal harganya. Berani mengahadapi risiko yang tidak ringan. Jujur di tengah-tengah komunitas pemuja ketidakjujuran ibaratnya menggali lubang untuk diri sendiri. Siami dan Alif, anaknya, telah mengalaminya. Siami dan Alif harus menerima caci maki bahkan usiran dari komunitas tempat tinggal mereka. Siami dan Alif masuk lubang keterkucilan.

Keterkucilan yang diterimanya itu (tentu saja) telah diprediksi sebelumnya. Sebab, oleh Siami sendiri diakui bahwa awalnya upaya melapor adanya ketidakjujuran dalam ujian nasional (UN) di sekolah Alif, anaknya, SD 2 Gadel, Tandes, Surabaya, Jawa Timur, itu didukung oleh dua orang tua murid lain. Hanya, barangkali karena mengingat risiko yang dihadapi kelak tidak ringan, kedua orang tua murid itu akhirnya mundur sebelum “bertempur”. Mereka akhirnya, diakui oleh Siami (Kompas.com, 16/6), hanya mendukung dari belakang. Dengan demikian, ketegaran Siami untuk terus maju melaporkan kecurangan dilakukan sesadar-sadarnya.

Bahwa kejujuran masih dapat dijumpai di negeri ini, dengan demikian, bukan sesuatu yang nihil. Sekalipun barangkali tidak banyak jumlahnya. Bisa-bisa satu berbanding seribu. Artinya, ada seribu orang, baru ada satu yang jujur. Ini sangat langka. Dan, yang menarik justru munculnya kejujuran ini dari kalangan rakyat, yang boleh jadi hidupnya pas-pasan. Yang barangkali banyak orang menduga hidup pas-pasan apalagi serba berkekurangan lebih mudah untuk berbuat curang. Saya tidak tahu persis, apakah Siami ini termasuk keluarga berada atau tidak. Siami hanya keluarga penjahit. Siami bukan pejabat. Itu artinya, kejujuran ditemukan dalam pribadi tidak pejabat. Sebaliknya, ketidakjujuran justru (sering) muncul dari kalangan pejabat publik, misalnya guru, bupati, menteri, ataupun anggota legislatif.

Buktinya, di antaranya, dua guru Alif, yang harus “dirumahkan” selama dua tahun karena berlaku sebagai sutradara drama penyontekan dalam UN. Kepala sekolah Alif dicopot dari jabatannya. Kalau mereka tidak benar berbuat curang, tentu ada pembelaan bukan? Dan, hingga catatan ini ditulis, sepertinya belum ada upaya hukum dari mereka untuk menolak sanksi yang dijatuhkan bagi mereka. Itu berarti, mereka yang adalah pejabat negara di bidang pendidikan, itu betul-betul berbuat tidak benar.

Siami dan Alif, orang-orang yang (sekalipun) tidak memiliki pengaruh politik-sosial-budaya, karena keteguhannya memegang kejujuran dan keberanian yang melawan “arus kebanyakan” itu, dengan begitu pantas menjadi pendidik karakter bangsa. Pendidik karakter bangsa, yang sungguh dirindukan. Karena, memang selama ini, terutama dari masyarakat bawah, belum ada yang berani menegakkan kejujuran lebih-lebih melawan institusi. Kok melawan institusi, menghadapi sesama tetap teguh pada kejujuran saja teramat sulit dijumpai. Yang ada justru (sebaliknya) hanyut dalam arus yang kebanyakan. Tidak berani bergerak melawan arus. Melawan arus lebih termaknai mencari mati. Maka, lebih baik mudah kompromi dengan situasi dan kondisi. Itu fakta yang ada saat ini.

Sejatinya jika kita mau ”melek hati”, peristiwa Siami dan Alif ini menjadi kritik pedas terhadap lembaga hukum negeri ini, yang terkesan mangu-mangu dalam setiap menangani kasus, lebih-lebih kasus besar (maksudnya melibatkan “orang besar”). Juga kritik berat terhadap pejabat publik, yang barangkali termasuk kita, yang kurang bersikap jelas. Atasan begitu mengikuti begitu, atasan begini mengikuti begini. Yang penting hidup aman dan sejahtera.

Sekalipun mereka (Siami dan Alif) tidak berpendidikan tinggi, tetapi pendidikan karakter yang mereka peroleh dari kehidupan sehari-hari dalam kesederhanaannya boleh jadi melebihi kualitas pendidikan karakter para elite negeri ini dan (juga) kita. Karenanya, setiap kita yang barangkali bersikap takut membongkar kecurangan yang telah diketahui perlu belajar banyak dari Siami dan Alif. Karena nilai keberanian dan kejujuran mereka itu, menurut saya, tidak berlebihan jika akhirnya banyak pihak yang bersimpati.

Tak kurang dari banyak petinggi negeri ini yang mengundang Siami dan Alif (Kompas.com, 16/6). Harapan kita tentu Siami dan Alif dijadikan tempat berguru tentang pendidikan karakter sehingga negeri ini ke depan sungguh berkarakter. Bahkan, oleh komisi perlindungan anak Indonesia (KPAI), karena kejujurannya itu Alif akan dijadikan ikon anak jujur Indonesia. Dan, tak segan-segan untuk mencarikan beasiswa baginya hingga perguruan tinggi. Ya, Siami dan Alif layak menjadi pendidik karakter bangsa ini.

4 komentar:

  1. yang membuat saya heran, kenapa berdasarkan penelusuran melalui lembar jawab tidak ditemukan bukti adanya kecurangan contekan massal, ya, pak. rumit juga. semoga saja peristiwa seperti ini tak terulang lagi.

    BalasHapus
  2. saya pikir, banyak pihak lebih memilih jalan aman untuk maksud menjaga prestise dan imbas besar di balik kecurangan yang terjadi_
    pendidikan kita kian berjarak dengan pengalaman hidup sesungguhnya dengan lebih mengagungkan nilai sebagai paradigma_

    BalasHapus
  3. yang paling jelas adalah kejujuran memang sudah seharusnya menjadi pilihan pertama dalam setiap hal

    BalasHapus

""