Jumat, 08 Juli 2011

Belajar Melalui Adik

Sebenarnya di paruh liburan ini saya sedih. Sebab, barangkali karena stamina tubuh saya lemah, tiba-tiba saya terserang virus herpes. Penyakit yang berawal dari rasa gatal-gatal plus panas, lantas berubah menjadi merah, luka, dan lebam pada bagian tubuh. Begitu menyedihkan karena herpes yang mengenai saya tepat di seputaran mata kiri. Jadi, mata saya ikut merah, seperti orang sakit mata.

Hingga tulisan ini saya buat, penyakit itu belum sembuh, sekalipun sudah saya periksakan ke dokter. Obat yang saya oleskan di kulit seputaran mata, sebenarnya berkhasiat, tetapi obat itu ternyata mampu membuat mata berkaca-kaca. Mata mengeluarkan air mata meski tidak menangis. Jadi, luka-luka yang  terkena obat olesan itu tidak bisa lekas kering. Setiap diberi obat olesan selalu basah. Dan, itu yang saya pikir membuat penyakit yang satu itu tidak segera sembuh.

Tetapi satu hal yang membuat batin saya senang, sekalipun dalam kondisi  fisik kurang senang, adalah si sulung akhirnya dapat belajar banyak hal melalui si bungsu. Selama liburan, semenjak saya terkena herpes itu, si sulung lebih banyak melakukan kegiatan yang seharusnya saya lakukan sehubungan dengan si bungsu yang harus masih minta dilayani. Mulai dari menyeduhkan susu, memandikan, mengganti baju, menyisiri rambut, menyediakan makanan bahkan ketika si bungsu ngambek tidak selera makan, dia harus menyuapinya, sampai menemaninya bermain-main.

Itu semua dilakukan selama ibunya bekerja. Sebab, bekerja sebagai karyawan di rumah sakit swasta sebagai tenaga kesehatan, tidaklah pernah libur seperti liburnya guru dan anak sekolah. Saya dan si sulung libur sekolah, ibunya tetap sibuk bekerja. Bahkan, bekerjanya bisa pagi, siang, dan malam secara berganti-ganti. Hanya, saat ibunya libur (paling satu hari, sehabis masuk malam biasanya) di sepanjang musim liburan sekolah ini, semua yang dilakukan si sulung terhadap si bungsu itu dapat diambil alih oleh ibunya.

Saya menemukan pada diri si sulung belajar kesabaran untuk melayani si bungsu, adiknya. Sekali-kali saya melihat dan mendengar kesabaran itu (memang) menghilang karena kemanjaan si bungsu, yang membuat kakaknya jengkel. Tetapi, dalam waktu yang tidak lama, si sulung mencoba merayu-rayu adiknya untuk mau makan, mandi, dan salin baju. Bukankah perbuatan itu membutuhkan kesabaran? Memang tidak selalu berhasil si sulung dalam merayu adiknya untuk makan, misalnya. Tetapi, paling tidak melalui proses itu, si sulung belajar untuk menjadi sabar. Kesabaran memang membutuhkan proses. Tidak dapat langsung jadi, semudah orang membalik telapak tangan. Perlu diperjuangkan. Dan, si sulung sudah melakukan itu.

Di samping itu, si sulung juga belajar tidak egois. Sebelum dia mandi, si sulung harus memandikan adiknya. Yang, lebih dulu harus membersihkan botol susu si bungsu, yang sekaligus dipanaskan di air masak agar steril dari kuman-kuman. Lantas,  air yang untuk memanasi botol adiknya itu selanjutnya dipakai untuk campuran air dingin untuk memandikan si bungsu. Si bungsu memang masih mandi dengan air hangat. Sekalipun zamannya telah canggih, tetapi kami mengerjakan hal-hal serupa itu masih sangat alamiah karena kami memang belum mampu mengadakannya. Toh si sulung akhirnya mengenal pekerjaan-pekerjaan lain. Tidak hanya mengenal pekerjaannya sendiri yang setiap hari dihadapi. Ada bagian lain yang memerlukan perhatiannya. Jika tidak diperhatikan, ada hal yang kurang.

Dan, tidak dapat berlambat-lambat seperti ketika melayani dirinya sendiri. Jika biasanya mau mandi saja kadang masih harus disuruh-suruh dulu karena biasanya lihat TV dulu, berkaca dulu, dan berbagai kebiasaan yang lain. Baru setelah itu, mandi. Saat-saat  melayani adiknya, dia harus cepat. Tidak dapat dibuat berlambat-lambat. Si sulung harus melakukannya dengan tepat waktu. Coba kalau misalnya sedang memanasi botol susu ditinggal beraktivitas sembarangan, bisa-bisa botol susu adiknya rusak karena kepanasan. Begitu juga misalnya hendak memandikan adiknya dengan air hangat tidak secepatnya, bisa-bisa airnya juga keburu dingin. Si sulung harus belajar mengelola waktu dengan tepat. Jika tidak memanfaatkan waktu dengan tepat, semua kegiatan melayani adiknya tentu tidak dapat berjalan dengan baik.

Si sulung pun belajar menjadi guru. Guru bagi adiknya. Bagaimana tidak. Dia harus membimbing adiknya dalam melakukan semua aktivitas yang adiknya lakukan. Bahkan, tak jarang dia harus memberi contoh terlebih dahulu jika adiknya melakukan kegiatan yang baru. Ketika makan bersama, saat adiknya tidak ngambek, misalnya, si sulung kadang menasihati adiknya jika sikap makan adiknya tidak benar. Si sulung memberi contoh sikap makan yang benar.

Akan tetapi, namanya saja belajar. Sekali waktu si sulung mengalami kekurangan. Kadang kesabarannya hilang, sikap egoisnya muncul, kurang disiplin waktu, dan kurang dapat memberi teladan baik kepada adiknya. Tetapi, begitulah anak-anak. Sekalipun sulung, sikap kontrol diri kadang masih lepas. Bahkan, bukankah kita juga kadang mengalami hal yang serupa?     

2 komentar:

  1. Wah... Pak, anak sy 2 laki semua sukanya berkelahi terus he he he. Tapi waktu belajar si kakak sy perhatikan suka juga ikut membimbing adiknya.

    BalasHapus
  2. @M Mursyid PW

    Dan, sering-sering cara begitu lebih efektif ketimbang diajari oleg kita (orang tuanya), Pak.

    BalasHapus

""