Senin, 11 Juli 2011

Hari Pertama Masuk Sekolah, Anak Perlu Dukungan Moral

Ketika melihat nama terdaftar di papan pengumuman penerimaan peserta didik baru (PPDB), bisa dipastikan merasa senang. Sebab, memang itulah keinginan setiap anak (juga orang tua) ketika mendaftar di sekolah sebagai peserta didik. Keinginan untuk dapat diterima menjadi hal yang utama. Tidak ada keinginan lain. Dapat diterima berarti berkat yang luar biasa. Barangkali, boleh dikata, fase “kesetresan” telah dapat dilampaui. Tinggal memasuki masa-masa bahagia. Dalam masa-masa itu seolah tidak ada yang perlu dipikirkan lagi.

Akan tetapi, akan terasa berbeda manakala anak-anak memasuki hari pertama sekolah. Memasuki hari pertama sekolah, saya pikir, membawa dampak psikologis tersendiri bagi peserta didik baru. Karena, mereka akan bertemu dengan teman, guru, lingkungan, budaya, dan kebiasaan baru. Keserbabaruan itulah yang menimbulkan banyak hal terjadi dalam pikiran dan perasaan mereka. Barangkali ada pikiran dan perasaan suka, duka, takut, sedih, khawatir, cemas, dan minder, yang semuanya itu bercampur aduk.

Kenyataan itu dapat dilihat dari raut muka dan tingkah laku mereka. Apalagi jika mereka tidak memiliki satu pun teman dari asal sekolah yang sama. Mereka satu-satunya di sekolah baru itu. Semua teman baru dari asal sekolah yang berbeda. Saya pastikan anak itu mengalami “kecanggungan”. Raut muka terlihat tegang, bingung, dan tidak ceria. Sementara itu, tingkah lakunya mungkin terkesan lucu, aneh, dan kurang sigap.

Dan, saya pikir, kenyataan itu dapat dialami oleh siapa saja. Tidak hanya dialami olah peserta didik baru. Karyawan, pegawai, pejabat, anggota komunitas tertentu, dan lain-lainnya yang serba baru selalu mengalami “kondisi” seperti yang disebut di atas. Hanya, oleh karena tingkat kedewasaan yang akan membedakan. Semakin dewasa (tentu) semakin kecil tingkat “kecanggungan” yang muncul.

Karenanya, dalam konteks anak (dalam hal ini peserta didik baru) perlu ada dukungan moral dari berbagai pihak agar “kecanggungan” yang dialami tidak menjadi-jadi, yang jika tidak diperhatikan dapat menjadi kendala pertumbuhan dalam pembelajaran di kemudian hari. Oleh karena itu, orang tua perlu memberi dukungan lebih kepada anaknya. Secara mental perlu dipahamkan bahwa di sekolah baru akan berbeda dengan di sekolah yang ditinggalkan. Misalnya, teman yang berbeda dengan latar belakang yang jelas beragam, guru dengan gaya dan cara mengajar yang berbeda, aturan-aturan sekolah yang berbeda (maksudnya berbeda dengan yang ada di sekolah dulu/lama).

Sekolah baru pun (dalam hal ini, peserta didik, guru, karyawan, misalnya) harus bersikap familiar terhadap mereka. Sekolah baru harus menyambut dengan ramah, suka cita , dan terbuka. Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang menarik, baik secara fisik maupun psikis. Ikhtiar menunjukkan suatu tempat secara ramah dan terbuka, memberi salam kepada peserta didik baru, misalnya, sudah termasuk penciptaan suasana psikis lingkungan. Bukan tidak mungkin, di antaranya dengan sikap yang demikian itu, akhirnya merangsang peserta didik baru untuk bersikap lebih “berani”. Yang, akhirnya menumbuhkan inisiatif, kreativitas, dan karakter positif mereka. Bukankah begitu?

4 komentar:

  1. Benar sekali pak,adik saya baru pindah sekolah..dia takut berbicara dengan teman" lain heheh

    BalasHapus
  2. @adib mahdy

    Oleh karena itu, perlu terus didukung agar "keberaniannya" muncul. Salam.

    BalasHapus
  3. sekolah yg rajin dan benar nak...biar besar ndak jadi koruptor

    BalasHapus
  4. @Skydrugz Pesan orang tua yang memuat kepentingan hidup sejahtera bersama.

    BalasHapus

""