Minggu, 31 Juli 2011

Membangun Kepercayaan Diri

Ketika anak-anak diberi teks bacaan dan diminta untuk mencatat hal-hal penting dalam bacaan itu sering menjumpai kendala. Sekalipun kendala itu tidak dialami oleh semua anak secara seragam. Ada anak yang dapat mencatat hal-hal penting dalam bacaan dengan baik. Artinya, anak itu dapat mengungkapkannya dengan bahasa sendiri (kalimat sendiri) secara sederhana karena ia telah menguasai isi bacaan. Tidak mengutip salah satu kalimat dari bacaan itu. Kalimat yang diperkatakan/dituliskan sungguh-sungguh kalimat hasil pemikirannya sendiri, namun isinya memuat gagasan utama teks bacaan yang dibaca.

Akan tetapi, tidak jarang ada anak yang hanya sekadar menuliskan salah satu kalimat dari bacaan itu. Memang hal itu sah-sah saja. Bahkan boleh jadi hal tersebut “baik” karena kalimat yang diperkatakan/dituliskan itu memang kalimat yang dipentingkan dalam bacaan itu. Kalimat pokok maksudnya, yaitu kalimat yang memuat gagasan utama bacaan. Sekalipun hanya mengutip, anak itu dapat diduga telah menguasai isi bacaan.

Di samping itu, mungkin dijumpai ada anak yang memperkatakan/menuliskan salah satu kalimat dalam bacaan itu, tetapi kalimat tersebut tidak kalimat yang dipentingkan dalam bacaan. Kalimat tersebut hanya menduduki kalimat pendukung dalam bacaan dan karenanya tidak mewakili isi bacaan. Hal itu tentu saja memberi indikasi bahwa anak kurang memahami isi bacaan.

Anak yang lain barangkali malah memperkatakan/menuliskan kalimat yang tidak utuh dari bacaan itu. Ia hanya mengutip sebagian kalimat dari sebuah kalimat utuh dalam bacaan. Sehingga,  “usahanya” itu kadang sulit dipahami. Karena susunan kata-kata dalam kalimat yang diperkatakan/dituliskan tidak memuat satu pengertian apa pun. Anak yang demikian boleh jadi (memang) belum menguasai isi bacaan.

Fenomena keberagaman kemampuan anak memahami isi bacaan seperti itu saya yakini terjadi di mana-mana. Tidak hanya di sekolah-sekolah pinggiran, yang inputnya memang anak-anak yang tentu berbeda dengan input sekolah-sekolah di pusat kota. Tetapi, di sekolah di pusat kota pun boleh jadi dapat dijumpai hal serupa itu.

Itulah sebabnya untuk memberi ruang kepada mereka agar tetap memiliki “semangat” mengembangkan potensinya secara maksimal, diperlukan sikap yang menghargai. Seperti apa pun potensi mereka, baik yang dianggap telah mampu maupun yang kurang mampu memahami isi teks bacaan, tetap harus disikapi dengan penghargaan yang sama. Untuk memberi penghargaan terhadap anak yang telah mampu bukan pekerjaan yang sulit. Siapa pun akan begitu mudah melakukan.

Akan tetapi, memberi penghargaan terhadap yang kurang atau bahkan tidak mampu memahami materi bukan hal yang mudah. Dibutuhkan sikap hati terbuka. Menerima apa adanya kemampuan anak, tanpa merendahkan mereka. Sekalipun secara verbal, perkataan-perkataan yang membangun motivasi sangat dibutuhkan untuk menjaga semangat mereka. Kepercayaan diri mereka yang telah tumbuh, yang ditandai (misalnya) dengan keberaniannya berpendapat sekalipun kurang benar, tetap harus dijaga. Di antaranya dengan cara tidak mengatakan bahwa pendapat mereka itu salah, tetapi katakan tiap-tiap orang memiliki perbedaan pandangan, persepsi, tanggapan, pendapat terhadap sesuatu dan itu terjadi begitu alamiah. Katakan pula di hadapan semua siswa didik bahwa perbedaan-perbedaan itu terkait dengan latar belakang minat, kebiasaan, dan kesukaan orang per orang.  

Dengan begitu, anak tidak merasa disalahkan, direndahkan, dan dipojokkan, tetapi dihargai. Dengan demikian anak tetap memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensinya. Bahkan, sekalipun mereka mempunyai kekurangan, kekurangan itu tidak menjadi kendala baginya untuk mau menggali potensi dirinya. Ketika maju pertama mengalami kesalahan, misalnya, tidak menyurutkan kemauannya untuk maju yang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga mendapati kebenaran. Rasa malu, takut, khawatir, dan rasa sejenisnya tidak dijumpai padanya karena ruang, tempat tumbuhnya kepercayaan diri, (sengaja) diciptakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""