Jumat, 01 Juli 2011

“Membesarkan” Hati Anak, Itu Mendidik

Oleh karena pagu di sekolah-sekolah negeri tak dapat menampung semua anak yang mendaftar, maka yang terjadi adalah ada anak-anak yang harus tersisih. Anak-anak yang tersisih ini, umumnya masih mencari sekolah negeri yang masih membuka peluang untuk menerima anak yang tereliminasi dari sekolah lain. Karena yang lazim terjadi adalah sekolah-sekolah favorit menjadi “serbuan” calon peserta didik; sementara sekolah-sekolah yang kurang favorit menjadi pilihan “kemudian”. Jadi, awal-awal masa penerimaan peserta didik baru (PPDB), ada sekolah-sekolah yang pendaftarnya berlebih, tetapi ada juga sekolah-sekolah yang pendaftarnya kurang.

Anak-anak yang tidak diterima di sekolah favorit, dapat dipastikan “menyerbu” ke sekolah yang kurang pendaftarnya, yang boleh jadi sekolah-sekolah tersebut kurang difavoritkan masyarakat. Hanya, karena statusnya sekolah negeri, tetaplah sekolah itu menjadi pilihan masyarakat sekalipun pilihan yang entah keberapa. Masyarakat selalu memilih ke sekolah negeri daripada ke sekolah swasta. Sekalipun tidak selalu begitu bagi semua orang. Sebab, ada juga masyarakat yang justru memilih sekolah swasta, yang tentu dengan pertimbangan-pertimbangan khusus. Akan tetapi, hingga saat ini, sekolah negeri tetap menjadi pilihan pertama.

Itulah sebabnya, ketika tidak diterima di sekolah negeri yang satu, masyarakat (anak) akan mencari sekolah negeri yang lainnya. Akan tetapi, pada titik ini, anak, diakui atau tidak, sudah mengalami beban psikis. Apalagi jika ada banyak temannya yang diterima di sekolah pilihan pertama, sedangkan dia tidak. Anak yang tidak diterima itu akan semakin merasa terbeban. Barangkali yang membenaninya di antaranya adalah rasa malu karena dirinya merasa tidak menyamai teman-temannya; harus mencari sekolah lain, yang boleh jadi di sekolah itu tidak ada temannya, dan kalau toh ada jumlahnya tidak banyak; terbayang jika diterima, banyak teman baru yang belum dikenalnya (akan sangat terasa bebannya terutama anak SD ke SMP); dan bukan tidak mungkin akan terbayang juga tidak diterima di sekolah pilihan yang “kemudian”; bahkan, semakin terbeban berat ketika harus masuk di swasta karena terpaksa, daripada tidak sekolah.

Boleh jadi karena itu anak berkecil hati. Kehilangan semangat belajar. Kalau pun belajar, barangkali tidak merasa nyaman karena begitu banyak “gangguan” dalam pikirannya. Anak menjadi pesimistis. Tidak memiliki harapan lagi. Bukankah anak (kita) yang demikian itu membutuhkan tempat untuk “mengadu”? Segala yang “mengganggu” dalam pikirannya tentu ingin ditumpahkan bukan? Tetapi, acapkali anak tidak dapat (bagaimana) cara dan di mana menumpahkannya. Di sinilah peran orang tua untuk setia memberi pendampingan. Orang tua perlu membuka komunikasi yang “cantik” sehingga anak akhirnya “tertolong”.

“Membesarkan” hati mereka menjadi langkah yang terpenting. Kita perlu bercerita ada banyak tokoh yang terkenal sekalipun awal-awalnya mengalami kegagalan. Dan, justru tokoh yang demikian itu yang pada akhirnya akan tetap memiliki kekuatan (survival) dalam menghadapi segala situasi (bahkan sejelek apa pun) yang melingkupi keberlangsungan hidupnya. Karena tokoh-tokoh ini telah memiliki banyak pengalaman hidup. Sehingga ketika ada terpaan yang melanda, ia akan (tetap) bertahan.

“Bayangan-bayangan” yang mengganggu pikiran anak harus dijelaskan bahwa hal itu boleh saja terjadi, tetapi jangan menghanyutkan pikiran dalam kesedihan/kekecewaan mendalam. Ceritakan bahwa siapa pun pernah mengalami itu meski dalam hal dan kapasitas yang berbeda-beda. Bahkan, perlu disharingkan kepada anak jika kita (orang tua) pernah mengalami hal serupa sekalipun dalam keberadaan yang berbeda. Kita dapat melampauinya dengan baik. Dan, begitu banyak orang yang dapat melampaui keadaan itu dengan tenang, yang pada akhirnya menjadikan hidup sukses.

Bukan mustahil ketika sharing itu didengar bahkan dipahami anak, anak yang mengalami keterbebanan itu, akhirnya menjadi lega dan berpengharapan lagi. Anak menjadi semangat sekalipun ia bersekolah di sekolah yang bukan pilihannya pertama. Anak tumbuh rasa berani dan optimis sekalipun berkumpul dengan teman-teman baru yang sama sekali belum dikenalnya. Anak berbesar hati dalam mengarungi hari-hari baru di tempat dan teman serta suasana yang baru. Anak menjadi bahagia, orang tua merasa sukacita. Bukankah begitu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""