Senin, 18 Juli 2011

Mendidik Anak agar Peduli Lingkungan (Temu Anak Mitra Lingkungan 2011)

Hutan kini berduka/Ia mencari kita/yang mau setia menemani//Ia berkata:/“Masih adakah manusia/yang mau menemaniku?”//Kutumpahkan lahar di Yogya/Kuberi air bah untuk Mentawai/Kukirimkan banjir untuk Wasior/dan kubuat Jakarta tenggelam………//Kutitipkan surat ini pada kalian/Agar semakin jelas/Hijau hutan mesti kalian kembalikan//

Kutipan puisi di atas karya Indy A.R. Susanti, siswa didik kelas IV SD Mangunkusuma 1 Tegal, Jawa Tengah, yang dimuat di buku Materi Temu Anak Mitra Lingkungan (TAMI) 2011. Puisi yang berjudul “Surat Titipan dari Hutan” itu mengingatkan kita betapa lingkungan yang menjadi tempat manusia untuk menjalani keberlangsungan hidup hingga beranak-pinak, ini telah mengalami penderitaan yang luar biasa. Di mana-mana terjadi musibah alam, dari ujung Timur hingga Barat Indonesia. Penderitaan alam, yang diakui atau tidak, oleh karena ulah manusia itu akhirnya juga menjadikan manusia hidup dalam penderitaan. Penderitaan manusia akan semakin menjadi-jadi kalau saja lingkungan dibiarkan terus merana oleh karena tindakan eksploitasi alam secara membabi buta dengan mengatasnamakan kesejahteraan ekonomi.

Barangkali kesejahteraan ekonomi itu memang dapat dirasakan, namun jika tidak memerhatikan pelestarian alam, hanya akan dinikamti oleh satu dua generasi. Generasi yang berikutnya tidak akan mendapatkan apa-apa. Itulah sebabnya, Djarum Foundation Bakti Lingkungan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kudus, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus, mengadakan pendidikan kilat terhadap generasi muda untuk mencintai lingkungan.

Acara yang dikemas dalam Temu Anak Mitra Lingkungan 2011, dengan Tema “Senandung Hidup” (Senang Menanam Melindungi Kehidupan), berlangsung empat hari, sejak Senin (18/7) hingga Kamis (21/7). Acara, yang bermuatan pendidikan berwawasan lingkungan itu untuk dua kelompok siswa, yaitu SMP/MTs dan SMA/MA/SMK. Untuk kelompok SMP/MTs diadakan Senin (18/7) sampai dengan Selasa (19/7), sementara itu SMA/MA/SMK hari Rabu (20/7) sampai dengan Kamis (21/7).

Kelompok SMP/MTs diikuti oleh 100 siswa, yang setiap SMP/MTs diwakili oleh sepuluh siswa. Jadi, untuk kali ini hanya diikuti oleh sepuluh SMP/MTs. Demikian juga untuk kelompok SMA/MA/SMK. Dengan demikian, di angkatan ini akan diikuti oleh 200 siswa didik.

Kegiatan yang dihadiri oleh jajaran Manajer Djarum dan unsur Pemda Kudus (dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, dan Dinas Tata Ruang dan Karya Cipta) dilangsungkan di Green House Djarum, GOR Djarum Kaliputu Kudus. Dalam sambutannya, perwakilan Djarum Foundation Bakti Lingkungan menyatakan bahwa Temu Anak Mitra Lingkungan itu sudah diadakan sejak 1989, tepatnya Desember 1989. Setelah tahun itu setiap tahunnya selalu diadakan dua kali. “Angkatan pertama diadakan Juli dan angkatan kedua, Oktober. Masing-masing angkatan diikuti oleh 200 siswa didik, sehingga dalam setahun dapat melibatkan 400 siswa didik dalam pendidikan kilat tentang lingkungan itu,” katanya. Ditambahkan, karena alam ini diperuntukkan bagi seluruh umat manusia secara terus-menerus, maka perlu ditradisikan sepanjang generasi ke generasi dengan cara menjaga kelestarian lingkungan, yang sekarang ini nyata-nyata lingkungan telah mengalami pemanasan global. Itulah sebabnya, Djarum Foundation Bakti Lingkungan melibatkan generasi muda secara berkelanjutan untuk mewujudkan misinya, yakni menanam pohon konservasi untuk menangani pemanasan global.  

Sementara itu, Bupati Kudus dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, menegaskan bahwa para siswa agar menjadi insan-insan yang sungguh peduli terhadap lingkungan. Eksplorasi alam secara berlebihan yang orientasinya untuk kesejahteraan, malah dapat berbalik mengancam hidup manusia. Karenanya, kegiatan ini sebagai momentum untuk membangun komitmen generasi muda peduli lingkungan.  

Untuk menambah wawasan tentang lingkungan, peserta, yang didampingi oleh para guru memperoleh materi dari dua pembicara. Materi pertama, “Hutan sebagai Penyangga Kehidupan” dan kedua, “Teknik Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah”. Kedua materi tersebut sangat berhubungan. Manfaat hutan (dan lingkungan) yang menyangga kehidupan, yang kini telah mengalami penurunan kualitas, itu perlu direhabilitasi dan bahkan mendesak untuk diadakan gerakan konservasi. Dengan demikian, hutan, lahan dan tanah kembali produktif. Sayang, kedua materi tersebut lebih banyak disampaikan dalam bentuk ceramah sehingga kurang menarik peserta. Sekalipun begitu, peserta tetap mengikuti acara hari pertama itu hingga selesai.

Di penghujung kegiatan, peserta menerima sosialisasi kegiatan untuk hari kedua, Selasa (19/7). Kegiatan di hari kedua tampaknya lebih menarik karena peserta tidak lagi “diceramahi”, tetapi diajak untuk melakukan kegiatan praktik lapangan dan melihat dari dekat pengolahan limbah di instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan pembuatan pupuk kompos PT Djarum. Para peserta juga menerima kaus, yang bertuliskan “Temu Anak Mitra Lingkungan 2011”, yang harus dipakai di hari kedua. Selamat ber-Temu Anak Mitra Lingkungan!

5 komentar:

  1. Bagus...acaranya rame...sukses selalu!

    BalasHapus
  2. sejak dulu saya salut dengan djarum kudus yang concern dan peduli terhadap masalah pendidikan, bahkan juga sastra. kini meluas ke lingkungan hidup. semoga jejaknya diikuti oleh institusi lainnya. selamat berkarya, pak.

    BalasHapus
  3. acara yang sangat mendidik...
    oleh Djarum Foundation Bakti lingkungan.

    BalasHapus
  4. Ya, Mas, acara yang sungguh mendidik anak-anak untuk lebih mengenal dan peduli melestarikan alam. Terima kasih.

    BalasHapus

""