Jumat, 15 Juli 2011

Mengakrabi Anak yang Menyimpang


Fakta yang tentu dijumpai oleh guru di sekolah salah satunya adalah adanya anak-anak yang kurang dapat “menyelaraskan” sikap, harapan-harapan, gagasan-gagasan, ide-ide, atau keinginannya dengan peraturan sekolah. Anak-anak yang demikian sering melakukan penyimpangan perilaku di sekolah. Di antaranya, rambut disemir, menyisir rambut tidak sewajarnya, memasukkan baju bagian depannya saja, memakai kaus kaki logonya tersembunyi, membawa hp berkamera ke sekolah, dan loncat tembok sekolah.  Akibatnya mereka tidak pernah merasa nyaman di sekolah. Takut ketika berpapasan dengan guru sehingga menyimpang/berlari. Bahkan, boleh jadi ketika berlangsung pembelajaran kurang dapat mengikutinya karena perasaan tidak nyaman dan sejahtera. Akibatnya, mereka tidak menguasai materi yang diajarkan.

Betapa pun sekolah tidak mungkin menghilangkan peraturan, yang tentu telah dikaji untuk dapat diterima semua anak didiknya demi menciptakan ketertiban dan kedisiplinan. Peraturan sekolah dibuat tentu menurut batasan-batasan yang wajar. Dalam pengertian untuk mendidik, agaknya tidak ada peraturan sekolah yang bermotif “menghancurkan” pribadi anak. Justru semua peraturan yang dibuat itu untuk mengondisikan pribadi anak bertumbuh positif. Saya pikir tidak hanya sekolah, komunitas lain juga memiliki aturan yang diberlakukan bagi warganya.

Itulah sebabnya jika ditemukan anggota/warga yang melakukan penyimpangan perilaku, dalam arti tidak mematuhi aturan yang ada, rasanya tidak tega jika dibiarkan begitu saja. Karena, di samping akan membawa dirinya pada pertumbuhan pribadi kurang positif, juga dapat berpengaruh kepada anggota/warga lain, yang boleh jadi warga lain itu sejatinya berpribadi baik. Oleh karena pengaruh, ia ikut-ikutan berperilaku meyimpang. Bukankah pengalaman sering mengajarkan kepada kita bahwa yang negatif justru lebih mudah mewarnai yang positif dan tidak sebaliknya?

Maka, sikap mengakrabi anak-anak yang berperilaku menyimpang itu lebih baik ketimbang membiarkannya. Hanya, mengakrabi dalam motivasi untuk mendampingi mereka agar mau “menyelaraskan” sikap dan perasaannya terhadap peraturan sekolah bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan. Sebab, bukan tidak mungkin mereka justru memandang kita sebagai “musuh”. Komunikasi “yang menghargai” mereka yang saya (dan seorang teman guru) praktikkan tampaknya sangat efektif. 

Kami mengumpulkan anak-anak yang berperikalu menyimpang itu dalam satu tempat, di halaman sekolah yang suasananya teduh. Mereka berasal dari beberapa kelas. Sengaja tidak kami kumpulkan di ruang karena menurut kami situasi ruang akan mengurangi nilai keakraban kami. Di awal-awal waktu berkumpul, wajah mereka memang terlihat tidak bersahabat. Melihat kami dengan tatapan yang “berat”. Tetapi, ketika kami mengomunikasikan apa yang mereka lakukan/perbuat dengan segala akibatnya secara terbuka, mereka mulai “ringan” menatap kami. Bahkan, ketika kami memberi kesempatan bagi mereka untuk mensharingkan apa yang selama ini menjadi “beban” sehingga berperilaku menyimpang di sekolah, mereka mengungkapkannya secara gamblang.

Apa yang diungkapkan barangkali Anda sudah dapat menebak. Apa itu? Sikap, perasaan, harapan-harapan, ide-ide, dan keinginan-keinginan mereka yang tetap “diperjuangkan”. Memperjuangkan agar sikap dan keinginan-keinginan mereka (perilaku menyimpang) tetap diakomodasi sekolah. Misalnya, bagaimana jika rambut di bagian belakang disisakan agak panjang saat potong dan sepatu yang tidak polos hitam, tetapi ada stripnya warna lain? Kami katakan terus terang bahwa itu kurang baik. Kami pun tidak segan-segan mensharingkan di hadapan mereka bahwa sejatinya motivasi mereka masuk sekolah ke sekolah pilihannya ini tentu karena sekolah ini baik di mata mereka. Kalau tidak baik tentu mereka tidak akan masuk ke sekolah ini. Itu artinya, sekolah (ini) memiliki citra baik di tengah-tengah masyarakat.

Kalau pada kenyataannya (akhirnya) mereka sendiri justru berperilaku menyimpang, apalagi jika perilaku menyimpangnya itu didengar dan dilihat masyarakat, bukankah itu berarti mereka telah mencoreng citra sekolah? Membuat buruk kondisi sekolah? Ini yang kami sharingkan juga di hadapan anak-anak itu. Mereka biar memahami. Siapa tahu mereka memang kurang mengerti tentang apa yang sebetulnya mereka perbuat. Jangan-jangan mereka melakukan penyimpangan perilaku itu karena memang mereka belum mengetahui apa yang seharusnya mereka lakukan. Atau, kalau toh  mereka sudah mengetahui bahwa yang mereka lakukan itu salah, melalui sharing itu, biarlah mereka menjadi sadar. Sadar untuk tidak berperilaku menyimpang.  Kami ingin ada perubahan perilaku terjadi atas mereka. Perubahan oleh karena kesadaran mereka sekalipun kami harus lebih mengakrabinya terlebih dahulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""