Minggu, 17 Juli 2011

Mengubah Cara agar Siswa Mau Berperan


Umumnya sehabis kita memberi kesempatan menyimak teks bacaan yang diperdengarkan kepada peserta didik, kita menginginkan peserta didik mengungkapkan hasil simakannya. Mungkin dalam bentuk catatan-catatan (informasi) penting yang bisa didata, mungkin juga dalam bentuk ringkasan. Keduanya dapat dipergunakan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik kita mampu memperoleh pesan dari teks bacaan. Tentu saja semakin banyak pesan yang diperoleh dari teks bacaan tersebut semakin baik karena berarti peserta didik tersebut mengerti isi teks bacaan.

Mencatat atau meringkas hasil simakannya dalam bentuk tulisan, bukan sebatas di pikiran. Ditulis di buku mereka masing-masing. Aktivitas ini umumnya berlangsung dengan baik, sekalipun jika kita lihat barangkali ada peserta didik yang sulit menuangkan ingatan-ingatannya ke lembar-lembar bukunya. Dan memang begitu faktanya sebab satu anak dengan anak yang lain memiliki kemampuan berbeda dalam aktivitas menyimak. Namun sekalipun begitu, mereka tetap berusaha. Entah yang ditulis di lembar bukunya itu benar atau salah. Sampai pada langkah ini, peserta didik, saya pastikan tidak mengalami persoalan yang begitu membebani karena masih bersifat pribadi. Maksudnya, apa yang ditulis baru sebatas untuk diketahui dirinya sendiri.

Yang menjadi persoalan adalah ketika hasil simakannya itu harus disampaikan di depan kelas di hadapan guru dan teman-temannya. Di sekolah-sekolah tertentu yang memang peserta didiknya “pilihan”, hal ini barangkali tidak menjadi persoalan. Mereka tentu antusias untuk memresentasikan hasil simakannya, baik dalam bentuk tulisan maupun ujaran. Tetapi, begitu berbeda dengan di sekolah-sekolah yang memang peserta didiknya, katakanlah bukan peserta didik pilihan, bukan pekerjaan mudah untuk meminta mereka maju menunjukkan hasil pekerjaannya di hadapan guru dan teman-temannya. Yang saya temukan di kelas adalah peserta didik saya begitu berat untuk maju menuliskan  hasil pekerjaannya. Kebanyakan dari mereka takut jika salah.

Memang beberapa hari sebelumnya dalam materi yang sama, ada peserta didik yang maju menuliskan hasil kerja diskusi (jelas tidak menggambarkan kemampuan individu) di papan tulis. Ia sebagai wakil kelompok. Beberapa bagian dalam tulisan di papan tulis itu ada yang salah. Bagi saya, kesalahan itu perlu dibetulkan (apakah oleh peserta didik lain atau guru) agar dapat dimengerti oleh semua peserta didik. Saya tidak berpikir bahwa tindakan itu menimbulkan rasa malu, karena hasil kerja diskusi kelompok bukan pribadi. Saya hanya berpikir, agar peserta didik saya ke depan tidak mengalami kesalahan yang sama.

Tindakan itulah yang barangkali di antaranya mengakibatkan “ketakutan” peserta didik untuk mau maju menuliskan hasil pekerjaannya di papan tulis di lain waktu. Apalagi jika hasil pekerjaan sendiri. Karena menulis memang membutuhkan keterampilan yang lebih kompleks ketimbang keterampilan berbahasa yang lain (menyimak, berbicara, dan membaca). Peserta didik tidak hanya harus menguasai tata tulis, tetapi juga logika teks. Karena yang terjadi pada peserta didik, bahasa yang ditulis sering berbeda dengan bahasa yang dilisankan. Maksudnya, sekalipun kalimat yang ditulis itu salah, misalnya, tetapi ketika kalimat itu dilisankan terdengar benar.

Itulah sebabnya, ketika beberapa lama saya tunggu sembari memberi motivasi tak juga ada peserta didik yang mau maju, saya mengubah cara mencari nilai pribadi peserta didik. Yaitu, dengan cara menyuruh mereka untuk membacakan hasil pekerjaannya. Saya tidak sempat berpikir membaca di depan kelas (yang  tentu saja lebih “berbobot” ketimbang membaca di meja masing-masing peserta didik) karena waktu memang tinggal beberapa menit. Peserta didik yang tunjukkan jari, sebagai tanda siap membacakan hasil pekerjaannya, saya persilakan untuk membacakan hasil pekerjaannya. Hasil pekerjaan yang dibaca, terdengar tidak mengecewakan.

1 komentar:

  1. betul pa, kemungkian tidak maju karena tidak bisa, atau yang sudah bisa juga takut di sangka sok bisa, disini peran guru harus bijaksana dan akhirnya tunjuk langsung. kalo sy, dalam tunjuk langsung dengan cara< mis: hari ini tanggal berapa? maka absen yang sesuai dengan tanggal tersebut yang harus maju..
    salam kenal pa guru

    BalasHapus

""