Rabu, 13 Juli 2011

Merangsang Potensi Anak di Kelas

Hampir dapat dipastikan seorang guru suatu waktu menemui anak yang sulit diminta untuk mengungkapkan hasil pekerjaannya. Mengungkapkan hasil pekerjaan di depan kelas di hadapan guru dan teman-teman acapkali menjadi beban berat bagi sebagian (besar) anak. Jika kita menanyakan alasan mereka, mereka di antaranya memberi jawaban begini. Takut kalau hasil pekerjaan salah, malu dengan teman, tidak “enak hati” kepada teman (jangan-jangan dikira berlagak pintar), pekerjaan belum selesai, dan sebagainya dan sebagainya.

Saya pikir tidak salah jika oleh karena kondisi seperti itu, akhirnya guru memberi pemahaman kepada anak. Pemahaman tentang hasil pekerjaan satu anak dengan anak yang lain (tentu)  berbeda. Ada baik, kurang baik, dan (maaf) tidak baik, itu sesuatu yang wajar. Dan memang boleh jadi tidak pernah dijumpai ada pekerjaan yang sama persis dari dua tiga anak yang berbeda. Sedikit pun, perbedaan itu tetap ada. Kalau toh ada yang sama barangkali ketika anak-anak mengerjakan tugas yang bersifat objektif karena, misalnya, ada pilihan jawaban yang sudah disediakan.

Rasanya tidak salah (juga) andai diteruskan memahamkan tentang “kelemahan” dan “kelebihan” yang ada di tiap-tiap orang, termasuk anak-anak. Tidak pernah ada dua tiga orang memiliki “keberadaan” yang sama. Sekalipun dijumpai orang kembar, tetapi mereka tetap memiliki perbedaan. Sekecil apa pun perbedaan itu. Jangan karena dibayang-bayangi perasaan “lemah”-nya itu, anak lantas tidak mau mengekspresikan kemampuannya di depan kelas. Demikian juga, anak yang sejatinya memiliki “kelebihan” hanya oleh karena tidak “enak hati” karena dikira sok oleh temannya, misalnya, lalu mengurungkan keinginannya untuk maju.

Bahkan, menurut saya, sangat memotivasi jika, guru (kita) menekankan kepada anak-anak bahwa “kelemahan” dan “kelebihan” yang ada di antara mereka itu justru akan saling “menyempurnakan” sekalipun “sempurna” itu tidak pernah ada dalam sejarah karya manusia. Menciptakan suasana “kesetaraan”, maksudnya sikap saling mau menerima, menghargai, menghormati satu dengan yang lain atas semua “kelemahan” dan “kelebihan” masing-masing dimungkinkan membangun sikap keberanian anak.

Akan tetapi sejauh itu, di kelas, boleh jadi masih belum dijumpai sikap keberanian anak. Motivasi itu belum berefek. Anak-anak masih senyam-senyum saja. Belum berani mengekspresikan hasil kerjanya secara terbuka. Meski, sepertinya ada perasaan ingin maju. Toh tetap tidak ada yang maju. Sekalipun faktanya begitu, ada saja guru yang sengaja tidak menunjuk salah satu anak untuk maju. Hanya menawarkan siapa yang mau maju. Cara demikian dimungkinkan (membiasakan) agar “keberanian” itu muncul dari diri anak sendiri dengan cukup dorongon moral. Toh kalau pada akhirnya gagal juga, itu urusan lain.

Proses belajar melalui diskusi yang, akhirnya mampu membangun keberanian anak. Anak-anak yang semula pasif, paling tidak ketika memasuki diskusi, menunjukkan “kegairahan”. Mereka terlihat senang dan mulai berani berbicara. Hanya memang, hasil kerja anak yang dikompetisikan dalam kelompok diskusi, belum maksimal. Sebab, ternyata masih sulit menjumpai anak yang “berani” memromosikan hasil kerjanya di hadapan anggota kelompok diskusi sekalipun hasil kerja itu bagus. Yang terjadi justru sebaliknya, banyak anak yang “menyembunyikan” hasil kerjanya, tetapi memromosikan hasil kerja teman, yang bisa jadi kurang memerhatikan kualitas.

Karenanya perlu dipandu guru dalam mengompetisikan hasil kerja itu. Kelompok diarahkan berpikir lebih logis dan kritis. Yang dipilih sebagai hasil kerja yang terbaik adalah hasil kerja yang memenuhi kriteria dan tanpa memandang siapa yang mengerjakan. Bahkan, untuk mencapai hasil kerja yang maksimal, kelompok diskusi perlu diberi kesempatan untuk memperbaikinya secara bersama-sama. Dengan pendampingan guru, dimungkinkan kerja kelompok lebih terarah dan bukan mustahil akhirnya menghasilkan hasil kerja yang maksimal.

Dan, sekalipun lewat kelompok diskusi akhirnya ada wakil yang mengekspresikan hasil kerja mereka di depan kelas di hadapan guru dan teman-teman, yang belum dapat menggambarkan potensi pribadi, tetapi paling tidak potensi-potensi anak terangsang bertumbuh.

2 komentar:

  1. memang tidak mudah utk merangsang potensi anak2 agar bisa tumbuh dan berkembang dengan cepat, pak. namun, tidak lantas berarti mustahil. butuh kesabaran dan yang pasti anak2 sangat "alergi" dipaksa-paksa, hehe ....

    BalasHapus
  2. Pendidikan memang berawal dari paksaan. Jadi jangan "alergi" untuk memaksa anak, tetapi jangan sampai berlebihan....

    BalasHapus

""