Sabtu, 09 Juli 2011

MOPD, Siapa Takut?


Setiap tahun pelajaran baru selalu ada ritual masa orientasi peserta didik (MOPD). MOPD selalu dibayangkan sesuatu yang menakutkan oleh peserta didik baru. Yang didengar dari orang-orang pasti cerita yang tidak menyenangkan. Mereka telah terbayang kegiatan-kegiatan yang keras. Disuruh berlari, baris-berbaris, menari, memakai pakaian yang aneh-aneh, membawa sarana yang tidak lazim (misalnya, satu permen yang  beraneka rasa), dan sebagainya dan sebagainya.

Kalau tidak percaya, silakan bertanya kepada anak Anda atau anak tetangga, saudara, adik, keponakan, atau siapa saja yang baru masuk ke SMP atau SMA/SMK tahun ini. Mereka pasti berpikir bahwa kegiatan MOPD menjadi beban tersendiri. Kalau dalam pikiran mereka telah tergayut bayangan begitu, barangkali,  itu tidak terlalu salah. Sebab, dari tahun ke tahun, MOPD, baik di SMP maupun SMA/SMK belum dapat melepaskan kegiatan-kegiatan yang boleh jadi “keras” menurut anak-anak zaman sekarang, yang memang tidak pernah merasakan susah.

Anak-anak sekarang memang telah “dimanja” oleh kondisi. Apa-apa selalu tersedia. Tidak mengalami kesulitan untuk mencari sesuatu yang dibutuhkan. Bahkan, orang tua pun acapkali “membantu” secara berlebihan. Anak benar-benar tinggal menerima. Kalau pun ada yang berusaha sendiri, barangkali, jumlahnya tidak banyak. Paling hanya satu dua dari sekian ratus bahkan ribu anak. Keadaan itu, disadari atau tidak, sebenarnya telah mengarahkan karakter anak menjauhi tantangan. Menghadapi sedikit kesulitan saja, sudah putus asa. Menghadapi sesuatu yang tidak seperti biasanya saja, merasa ketakutan.

MOPD, boleh jadi, bagi mereka sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak seperti biasanya. Dan, karenanya menakutkan mereka. Padahal, sebenarnya, sejauh saya mengetahui dan mengikuti keberlangsungan MOPD di sekolah-sekolah beberapa tahun terakhir ini, kegiatan yang diadakan biasa-biasa saja. Peserta MOPD menerima materi, baik di kelas maupun di luar kelas. Mereka pada prinsipnya dikenalkan di antaranya pada 1) lingkungan fisik sekolah, 2) budaya dan kebiasaan sekolah, dan 3) kegiatan-kegiatan sekolah, baik intra maupun ekstra. Ada juga kegiatan-kegiatan fisik, semisal baris-berbaris, upacara bendera, bahkan kegiatan yang bersifat hiburan pun tidak ketinggalan disajikan.

Memang harus diakui bahwa kakak-kakak kelas yang mengampu selalu berpembawaan disiplin. Mereka bersikap tegas, bersuara lantang, bertindak cepat, dan tampak “berjarak” dengan peserta karena memang belum begitu mengenal. Hal-hal itu yang acapkali menjadi “bumbu-bumbu” yang menakutkan bagi peserta MOPD. Mereka takut boleh jadi karena umumnya kebiasaan hidup sehari-hari mereka kurang mempraktikkan  sikap disiplin. Anak-anak yang sudah terbiasa hidup disiplin, pembawaan kakak-kakak pengampu tentu tidak menakutkan. Karena, bagi mereka, hal itu telah menjadi “santapan” sehari-hari. Mereka menghadapi MOPD sangat menikmati dan tidak menjadi beban.

Itu yang seharusnya terjadi pada setiap peserta MOPD. Mereka dapat menikmati keberlangsungan MOPD tanpa merasa terbeban. Justru MOPD dapat dijadikan sebagai wahana untuk bersikap “berani” mengenal lebih dekat pada sekolah dan seluruh warganya. Selama MOPD harus selalu aktif mau mencari tahu akan keberadaan sekolah lewat kakak-kakak pengampu atau guru pemateri. Dengan demikian, ketika mulai memasuki proses pembelajaran efektif, tidak lagi mengalami kecanggungan “lingkungan” karena saat MOPD telah mengenal secara dekat keberadaan sekolah yang baru.

Sikap itu (mengenal secara dekat keberadaan sekolah) akan sangat terbuka lebar sebab MOPD (beberapa tahun terakhir ini) harus benar-benar menjauhi tindakan perpeloncoan. Secara tegas, pemerintah melarang itu. Sehingga, sangat kecil kemungkinannya ada sekolah (dalam hal ini peserta didik pengampu atau guru pemateri) yang  berani memelonco peserta MOPD. Perpeloncoan, disadari atau tidak, bukan membangun karakter, tetapi justru membunuh karakter peserta didik. Karenanya, MOPD, siapa takut?   

2 komentar:

  1. Setuju, pak Sungkowo Astro... Segala sesuatu yang memasuki lingkungan beru selalu butuh perkenalan (orientasi), sebagai sarana untuk beradaptasi... Salam kenal, pak....

    BalasHapus
  2. sami lah abdi ge stuju, kalersan nju mopd yeuh ! he

    BalasHapus

""