Sabtu, 02 Juli 2011

Siapkan Anak Memasuki Sekolah Bukan Pilihannya

Anak-anak yang tidak diterima di sekolah pilihannya, tentu saja tidak sedikit. Mereka inilah yang harus menghadapi kenyataan, mau tidak mau, akhirnya memasuki sekolah yang bukan pilihannya sejak awal. Mereka memasuki sekolah pilihan yang entah keberapa. Masih beruntung jika di sekolah pilihan pertama tidak diterima, namun di pilihan sekolah kedua diterima. Andai saja di sekolah pilihan pertama tidak diterima dan terjadi hal yang sama di sekolah kedua, tentu anak benar-benar merasa terpukul. Apalagi kalau pada akhirnya anak hanya bisa masuk (maaf) sekolah swasta, lebih-lebih yang keberadaannya (sekolah swasta itu) kurang dipedulikan masyarakat. Harapan tidak sesuai dengan kenyataan acapkali dihadapi banyak orang dengan kurang adanya persiapan.

Anak-anak kita yang akhirnya hanya dapat masuk di sekolah yang bukan pilihan awalnya  sering tidak siap bukan? Ketidaksiapan anak ini, diakui atau tidak, akan sangat mengganggu proses pembelajaran kelak yang akan diikuti. Dan, bukan tidak mungkin jika kondisi tersebut tidak diperhatikan, anak mengalami kekacauan dalan belajar. Belajar tidak sejahtera. Yang, tentu saja akan menghambat pertumbuhan semua sisi keberadaan anak, baik personal, sosial, maupun potensial. Anak akhirnya gagal dalam belajar. Bisa jadi tidak naik kelas atau tidak lulus sekolah.

Itulah sebabnya, kita (orang tua, terutama) harus mempersiapkan mereka dengan sesungguh-sungguhnya. Menyediakan waktu secara khusus berkesimbangunan dengar-dengaran dengan anak. Tentu tidak dalam situasi resmi. Sebaliknya, perlu membawanya dalam situasi yang sedemikian akrab, terbuka, dan rileks. Anak, secara pribadi perlu dipersiapkan, baik fisik maupun psikis. Sekolah-sekolah alternatifnya entah yang keberapa, itu bisa jadi lokasinya jauh dari rumah. Oleh karena itu, anak perlu didukung dalam memahami jarak tersebut. Anak nanti akan terus diantar,  naik sepeda sendiri, jasa antarjemput, naik angkutan umum, membonceng teman, atau jalan kaki. Ini penting dipersiapkan pada diri anak. Sebab bersekolah itu tidak hanya satu dua hari atau bulan, tetapi beberapa tahun. Dalam rentang waktu yang boleh dibilang panjang itu, sangat dibutuhkan ketahanan fisik untuk menghadapinya.  Demikian juga ketahanan psikis. Karena, bagaimana pun dalam rentang waktu tersebut anak akan menghadapi berbagai-bagai hal, baik di rumah, perjalanan, sekolah, dan tengah-tengah masyarakat yang dijumpainya. Berbagai-bagi hal itu dapat bersifat menyenangkan, menjengkelkan, atau bahkan menyedihkan.

Persiapan sosial pun tidak boleh diabaikan. Anak-anak yang dapat masuk di sekolah pilihan pertama, barangkali, secara sosial, telah memiliki modal sekalipun tidak banyak. Sebab, di sekolah tersebut umumnya mereka telah memiliki banyak teman karena berasal dari sekolah yang sama, misalnya teman-teman ketika SD (jika sekarang masuk SMP). Sehingga sangat membantu pertumbuhan sosial anak lebih cepat ketimbang anak yang bersekolah di sekolah tanpa memiliki teman. Di sekolah-sekolah pilihan yang entah ke berapa itu, lazimnya, anak-anak telah berdiaspora (berpencar) bukan? Tidak saling bertemu. Satu di sekolah sana, satunya lagi di sini. Di sinilah pentingnya orang tua mempersiapkan anak secara sosial.

Anak perlu dibuka pemahamannya bahwa di sekolah baru kelak akan dijumpai berbagai teman yang tentu berasal dari latar belakang yang berbeda. Latar belakang keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah, kebiasaan, budaya, dan sebagainya dan sebagainya. Namun, perbedaan itu perlu direspon dengan baik. Menghargai dan menghormati adanya perbedaan itu. Sekali lagi, orang tua perlu memahamkan hal itu kepada anak. Tentu saja upaya itu tidak akan langsung menumbuhkan hasil. Perlu ada proses yang harus dilalui. Ada kemudahan, namun ada pula kesulitan. Karena itu, perlu diusahakan secara maksimal dan berkesinambungan.

Bukan mustahil, oleh karena ikhtiar itu, anak yang dulunya (barangkali) dianggap kurang “bisa”,  sekarang berubah menjadi “bisa”. Tumbuh dengan baik kepribadian dan sikap sosialnya. Saya pikir, pertumbuhan itu akan memacu tumbuhnya potensi anak secara akademik maupun nonakademik. Dengan demikian, sekalipun bersekolah di sekolah yang tidak pilihan awal, tidak selalu membuat anak tidak berkembang. Hanya, barangkali orang tua (memang) harus mengeluarkan “energi” agak lebih untuk mempersiapkan anak tersebut. Dan, saya pikir, ini sesuatu yang harus diperjuangkan oleh setiap orang tua, di mana dan kapan pun juga. Semoga.

3 komentar:

  1. ya...anak itu tidak boleh dimasukan ke sembarang sekolah....

    jgn sampai dia ketemu gang nero...bisa berabe

    BalasHapus
  2. bener sekali, pak. persoalan sebenarnya bukan diterima di sekolah pilihan atau tidak, melainkan pada upaya ortu utk benar2 mengondisikan anak2 agar benar2 dalam kondisi siap utk bersekolah. ya, di mana pun mereka akan belajar di sekolah formal nantinya.

    BalasHapus
  3. Tanggung jawab orangtua memang tidak mudah terutama dalam mendampingi tumbuh kembang putra-putrinya. Terima kasih telah menginspirasi saya untuk membantu ibu-ibu mempersiapkan mental putra-putrinya beradaptasi di sekolah baru.

    BalasHapus

""