Rabu, 17 Agustus 2011

Anak-anak Kami Memang Bukan Pahlawan

Sering kita jumpai anak-anak begitu bekerja keras karena ada tugas yang harus diselesaikan. Kerja keras mereka itu tentu saja karena mereka ingin mendapatkan capaian yang maksimal. Mereka tidak mau mendapat capaian yang tidak berarti. Mendapat capaian yang hanya setengah-setengah pun tentu mereka alergi. Itulah sebabnya, mereka bekerja keras.

Kerja keras mereka sering tidak terkontrol karena saking senangnya terhadap kegiatan tersebut. Kegiatan yang telah menjadi kesenangan, sekalipun harus berletih-lelah, sering tidak mereka rasakan. Semuanya dilakukan dengan enjoy saja. Tidak ada beban sama sekali. Karena itu, tanpa disuruh pun mereka mendisiplin dirinya dalam melakukan aktivitas itu. Tidak perlu disuruh-suruh, mereka selalu siap sedia melakukannya. Di sinilah muncul tanggung jawab pribadi mereka. Tanggung jawab yang tidak diajarkan oleh siapa pun, tetapi dihayatinya dengan sesungguhnya.

Ini yang saya temukan pada beberapa siswa didik kami yang turut menjadi Tim Paduan Suara, yang turut ambil bagian dalam Upacara HUT ke-66 Proklamasi Kemerdekaan RI. Beberapa tahun terakhir ini siswa didik kami memang selalu ditunjuk oleh panitia 17 Agustus menjadi Tim Paduan Suara dalam Kegiatan Upacara HUT  Proklamasi Kemerdekaan RI tingkat kecamatan.

Anak-anak yang telah tergabung dalam tim tersebut benar-benar merasa menikmati. Setiap diadakan latihan beberapa hari sebelum hariannya, mereka tidak ada yang merasa keberatan. Mereka lakukan tugas itu dengan sunggug-sungguh. Mereka barangkali menyadari sungguh telah terpilih untuk menjadi tim berarti sangat dibutuhkan. Apalagi sebelum dibentuk tim diadakan  seleksi vokal. Karenanya, mereka yang telah terjaring dalam tim termasuk yang terbaik dari yang baik. Saya yakin, mereka tidak mau menyia-nyiakan pilihan itu. Sehingga sekalipun di bulan Puasa, mereka diminta datang ke sekolah untuk berlatih, tetap hadir meskipun sore. Padahal, paginya mereka berlatih. Semua itu dilakukan agar mendapatkan capaian yang optimal.

Hanya, yang agak sulit bagi kami adalah ketika memerhatikan bahwa di antara mereka ternyata ada yang menjadi tim inti Tata Upacara Bendera (TUB) sekolah. Berarti mereka punya tugas untuk menjadi petugas upacara yang diadakan di sekolah. Rasanya tidak mungkin bagi kami mengikutkan mereka dalam kegiatan yang beruntun dalam sehari di 17 Agusutus 2011, baik di sekolah maupun di tingkat kecamatan. Barangkali sekalipun dipaksakan mereka kuat-kuat saja, tetapi hati kami tidak tega. Pagi, menjadi petugas upacara di sekolah; agak siang sedikit menjadi Tim Paduan Suara di Upacara HUT ke-66 Proklamasi Kemerdekaan RI di tingkat kecamatan; sorenya, saat penurunan Bendera Sang Saka, mereka juga harus hadir sebagai Tim Paduan Suara Aubade (juga) di tingkat kecamatan. Di bulan Ramadhan ini, agaknya tak mungkin kami memaksakan mereka untuk mengikuti aktivitas itu secara berkelanjutan. Kasihan mereka.

Tetapi, agak sulit juga bagi kami untuk “memutus” peran mereka yang sudah dipersiapkan berhari-hari itu. Jangan-jangan kalau nanti sekalipun kami bermaksud baik untuk “mengistirahatkan” mereka sementara tidak ikut tergabung dalam Tim Paduan Suara (oleh karena mereka telah menjadi tim inti TUB di sekolah), mereka kurang bisa menerima. Kalau tidak di bulan Puasa, barangkali kami tidak berpikir sampai sedemikian.  Karena kami yakin, mereka pasti kuat sekalipun harus marathon berkegiatan selama sehari (pagi hingga sore). Tenaga yang mereka miliki dijamin lebih baik ketimbang seperti di bulan Puasa ini bukan?  

Maka, demi kebaikan mereka dan juga kualitas berjalannya semua aktivitas 17 Agustusan, baik di sekolah maupun tingkat kecamatan, kami pun menyampaikan “kesulitan” itu. Beberapa anak yang memiliki peran ganda tersebut kami hubungi. Kami sampaikan maksud kami sebaik-baiknya. Kami tawarkan kepada mereka, apakah mereka tetap mau berperan ganda atau tidak, dengan segala konsekuensinya. Ternyata mereka memilih berperan ganda. Kami tidak mengetahui alasan mereka. Tentu mereka sendiri yang mengetahui bahwa mereka merasa kuat atau tidak mengikuti aktivitas marathon itu.

Kami (akhirnya) tidak kuasa menolak pilihan mereka itu. Kami berpikir penolakan justru akan menyakitkan benak mereka. Memadamkan bara semangat mereka dalam menghayati nilai-nilai Prokalamai Kemerdekaan RI jelas sangat bertentangan dengan penerapan nilai-nilai nasionalisme. Kami menyadari harus mendukung mereka. Bukankah mereka dapat mengaplikasikan nilai-nilai  nasionalisme itu secara nyata sekalipun tidak kami ajari lewat teori yang muluk-muluk?

Anak-anak kami itu memang bukan pahlawan. Tetapi, kami memandang mereka memiliki hati seperti hati para pahlawan bangsa. Kalau pahlawan bangsa ketika itu berjuang melawan penjajah untuk memerdekakan negara Indonesia yang terjajah; kini, anak-anak kami berjuang melawan nafsu untuk melakukan tugas-tugas mulia demi martabat bangsa. Jayalah anak-anak, jayalah Indonesia!

6 komentar:

  1. saya sering memotivasi anak-anak bahwa mereka semua adalah pahlawan. yaitu pahlawan yang mengisi kemerdekaan dengan terus semangat belajar untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti amanat pembukaan

    BalasHapus
  2. Saya sering mengucapkan "Selamat berjuang' pada siswa maupun alumni. Karena pada dasarnya mereka adalah pejuang.

    BalasHapus
  3. Anak2 adalah generasi penerus bangsa. Kita semua bertanggung jawab atas kesiapan mereka dalam meneruskan tongkat estafet perjuangan bangsa.

    BalasHapus
  4. @budies
    Ya, Pak Bud, semangat anak-anak kita serupa semangat pahlawan.

    BalasHapus
  5. @M Mursyid PW

    Mari Pak, kita siapkan mereka untuk tak takut-takut menghadapi masa depan yang semakin penuh tantangan.

    BalasHapus

""