Senin, 29 Agustus 2011

Anak-anak Telah Berani

Barangkali hingga sekarang masih ada orang yang memiliki perasaan “takut” terhadap orang meninggal. Maksudnya bukan takut meninggal dunia, tetapi takut melihat orang yang meninggal dunia. Bahkan bukan mustahil, sekalipun tidak melihat, tetapi jika di sebuah kampung ada orang meninggal dunia, biasanya malamnya menjadi sepi. Suasananya seolah-olah menakutkan. Jadi, tidak ada orang keluar rumah. Apalagi jika meninggalnya tidak semestinya. Misalnya, bunuh diri.

Hal itu sangat dirasakan oleh anak-anak. Apalagi, orang tua (tertentu) sering melarang anaknya keluar rumah ketika di kampungnya ada orang meninggal. Ada pertimbangan-pertimbangan “keyakinan” yang membuat orang tua bersikap demikian. Sikap seperti itu, disadari atau tidak, semakin membuat anak merasa takut. Dan rasa takut tersebut dapat menyebar pada anak yang lain melalui cerita ini cerita itu.

Rasa takut terhadap orang meninggal juga disebabkan oleh adanya pikiran-pikiran yang kurang “membangun”, yang berkembang di masyarakat. Misalnya, orang meninggal bisa menjadi ini, menjadi itu, yang bermuatan menakutkan dan mengerikan. Orang daerah saya lebih sering mengatakan menjadi “memedi” (sesuatu yang membuat rasa takut).  Ini yang sering membuat sebagian orang dewasa dan anak-anak merasa takut terhadap orang mati dan suasana yang melingkupinya.

Tetapi, kalau toh kemarin sore saya mengajak si sulung melayat orang meninggal, sejatinya, tidak semata-mata bermaksud untuk membawa perasaan si sulung agar tidak takut ketika ada orang meninggal. Atau, belajar tidak merasa takut terhadap orang meninggal. Tidak. Tetapi lebih pada “menemani” saya karena perjalanan dari rumah sampai tempat melayat (boleh dibilang) jauh. Sekitar 60 km.

Hanya, karena dalam kebiasaan kami ketika melayat orang meninggal, di bagian penghujung acara sebelum jenazah dibawa ke pemakaman para pelayat memberi penghormatan yang terakhir dengan cara melihat jenazah, si sulung saya ajak melihatnya. Sepertinya ia tidak takut. Boleh jadi karena (memang) di tempat layat itu banyak anak seusianya bersama orang tuanya turut memberikan penghormatan terakhir. Dan tidak saya sangka, sesampai di rumah (setelah usai melayat), ia mengatakan bahwa jenazah yang dilihatnya tadi mirip dengan salah satu anggota keluarga yang “ditinggalkan” (yang ia maksudkan adalah salah satu anak ibu yang meninggal itu, yang memang ia sudah mengenalnya). Akhirnya saya berpikir berarti tadi si sulung melihat jenazah dengan jelas, yang dibaringkan dalam peti yang masih terbuka.

Saya tidak bertanya kepada si sulung, apakah tadi ia takut atau tidak. Saya hanya berpikir bahwa “keberanian” si sulung melongok ke dalam peti mati yang masih terbuka yang di dalamnya ada jenazah itu barangkali karena jenazah seolah-olah sedang tidur. Dalam tradisi kami jenazah memang dirawat dengan pakaian seperti ketika masih hidup. Bahkan umumnya, pakaian yang dikenakan lebih bagus daripada pakaian yang dikenakan ketika masih hidup. Misalnya, jika yang meninggal masih muda, umumnya dirawat dengan pakaian bernuansa pengantin. Kalau yang meninggal masih anak-anak, biasanya dirawat dengan mengenakan pakaian pesta anak-anak.

Tetapi saya harus mengatakan bahwa sekarang “keberanian” anak untuk melihat orang meninggal lebih meningkat ketimbang seperti masa kecil saya. Sekalipun tradisi serupa itu sejak saya kecil sudah diterapkan, tetapi ketika itu anak-anak masih merasa takut ketika ada orang meninggal. Orang tua memang sering melarang anaknya keluar rumah, apalagi mendekati tempat (rumah) orang yang meninggal. Sikap “kurang terbuka” itu barangkali yang membuat anak-anak ketika itu merasa takut.

Sekarang, jika ada orang yang meninggal, anak-anak malah banyak yang melihat. Ketika dijumpainya di jalan saat jenazah dibawa ke pemakaman, misalnya, anak-anak tidak berlari menjauh. Tetapi, (sering) malah melihat iring-iringan pelayat yang mengantarkan jenazah ke pemakaman. Orang tua pun, kini, lebih bersikap terbuka. Jarang melarang anak-anak itu.  Bahkan, di beberapa pemakaman, tak sedikit anak yang dengan sengaja melihat proses pemakaman dilakukan, sekalipun anak-anak itu bukan dari keluarga (yang meninggal). Barangkali awalnya mereka bermain-main di area pemakaman, tetapi begitu ada proses pemakaman, mereka berhenti bermain dan beralih melihat proses pemakaman itu dari dekat. Anak-anak telah berani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""