Rabu, 10 Agustus 2011

Anak Perlu Bersosialisasi Secara Luas

Ketika melayat teman yang meninggal siang tadi, saya bertemu salah satu orang tua mantan siswa didik. Ia bercerita bahwa anaknya, mantan siswa didik saya (baca: kami), sekarang harus membangun hubungan dengan teman-teman baru lagi, berangkat dari nol. Kebiasaannya berteman hingga akrab dengan beberapa teman ketika masih SMP, ternyata tidak dapat dilanjutkan lagi di bangku SMA karena mereka saling berpisah.  Satu masuk di SMA sana, satu di SMA sini, satu lagi di SMK sana, dan lainnya mencar di sekolah lain. Hubungan yang telah demikian akrab tidak dapat dipertahankan karena mereka sibuk dalam kegiatan di sekolah masing-masing.

Dikatakan, sekalipun di satu sekolah yang lebih tinggi itu ada teman yang berasal dari SMP yang sama, tetapi karena ketika di SMP tidak begitu akrab, pertemanan di SMA pun kurang dapat dinikmati. Seperti halnya pertemanan dengan teman-teman baru lainnya yang berasal dari sekolah lain. Tidak ada hubungan yang dirasakan lebih mengikat. Semuanya memiliki hubungan pertemanan yang intensitasnya relatif sama. Biasa-biasa saja.

Hubungan pertemanan antaranak biasanya memang ada latar belakangnya. Mereka dapat berteman akrab barangkali oleh karena mereka memiliki minat yang sama, pemikiran yang tidak jauh berbeda, dan faktor-faktor lainnya. Seperti mantan siswa kami itu memiliki kepintaran di bidang musik. Sehingga teman-temannya yang akrab di SMP kala itu mereka yang menyukai musik dan menyanyi. Oleh karena memiliki persamaan dalam bidang yang serumpun, itu akhirnya mereka memiliki hubungan yang begitu mengikat satu dengan yang lain. Bahkan, ke mana-mana sekalipun tidak ada urusannya dengan musik dan menyanyi, mereka tetap guyub.

Namun keguyuban inilah yang boleh jadi mengikat anak-anak  sehingga mereka kurang dapat membangun hubungan dengan teman lain, dengan intensitas yang sama. Mereka tetap dapat berhubungan, tetapi keeratannya tidak seerat dengan teman yang memiliki bidang serumpun. Dengan teman yang memiliki minat, bidang, dan keterampilan yang serumpun, misalnya, hubungannya seperti saudara sendiri. Ibaratnya satu mengalami penderitaan, yang lain pun mengalami penderitaan. Suka dan duka mereka alami bersama-sama. Sikap empati antarmereka bertumbuh.

Hanya, kelemahan yang telah disaksikan oleh salah satu orang tua mantan siswa didik kami, itu menyadarkan saya bahwa kebiasaan anak-anak membentuk kelompok pertemanan di sekolah tidak selalu baik. Anak-anak yang, entah sadar entah tidak, dalam membentuk kelompok dengan teman tertentu berdasarkan apa pun mampu membawanya enggan berhubungan dengan yang lain. Mereka barangkali tidak menyadari kalau pada akhirnya membentuk eksklusivitas. Tidak terbuka kepada yang lain. Mereka seolah-olah mempunyai kelompok khusus.

Dengan demikian, anak-anak lain yang merasa tidak memiliki “kesamaan” tidak akan berani bergabung. Karena anak-anak lain memandang bahwa mereka kelompok khusus. Bukankah kita sering menemukan siswa didik kita demikian? Ada kelompok poni (untuk putri), ada kelompok ceking, ada kelompok yang lain. Hidup bersosialisai, dengan demikian, tidak dapat anak-anak rasakan seutuhnya.

Saya yakin anak-anak tidak menyadari dampak buruk yang akan timbul ketika membentuk kelompok pertemanan seperti itu. Karenanya, rasanya kita sebagai guru perlu lebih waspada dalam memandang “kebiasaan-kebiasaan”  yang dialami siswa didik kita terkait hal tersebut. Membentuk pertemanan yang dipandang hanya diperuntukkan bagi anak-anak tertentu perlu segera diingatkan. Perlu dijelaskan kepada siswa didik bahwa membangun hubungan pertemanan itu sangat penting dan tidak boleh pilih-pilih secara emosional. Pilih-pilih teman secara emosional maksudnya memilih teman berdasarkan kesamaan asal, minat, hobi, keterampilan, bakat, warna kulit, agama, misalnya. Terhadap sesama yang tidak seperti itu kurang minat berteman. Jika perbuatan itu yang dilakukan boleh jadi anak akan kehilangan kontak sosial, yang dapat terjadi kapan saja.

Oleh karena itu, satu-satunya tindakan yang ditanamkan dalam diri siswa didik adalah siswa didik perlu membangun pertemanan dengan semua teman. Tidak perlu pilih-pilih, apalagi pilih-pilihnya sangat emosional. Membangun hubungan dengan banyak teman menutup kemungkinan kehilangan kontak sosial dengan sesama di mana dan kapan saja. Bagaimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""