Rabu, 24 Agustus 2011

Atmosfer Liburan Mulai Bergentayangan, Awas !

Mempertahankan stamina sampai batas dapat mengantarkan keberhasilan. Sekalipun tidak sebagai pemenang, tetapi mempertahankan stamina hingga dapat mencapai batas akhir, tetap meninggalkan kesan berwibawa. Ada nilai yang tidak mudah luntur. Tetap akan diingat sampai kapan pun juga. Bahkan, sekalipun si tokoh sudah meninggal, misalnya, kesan yang ditingglkan tetap akan dikenang banyak orang entah sampai kapan. Bisa jadi tidak (akan) berujung karena setiap generasi dapat saja merantingkan ke generasi berikutnya. Bisa-bisa kesan itu akhirnya melegenda.

Kesan yang dirantingkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tentu kesan yang dihasilkan melalui perjuangan yang berat. Perjuangan yang tidak mengenal letih. Perjuangan yang dapat merantas rintangan. Melalui usaha yang sungguh-sungguh. Ada semangat yang tidak pernah pudar. Sekalipun barangkali ada banyak faktor yang menghambat, baik dari luar maupun dalam.

Jika faktor-faktor penghambat itu terbiarkan memengaruhi, bukan mustahil akhirnya tidak ada sejarah yang terukir. Tidak ada "prasasti" yang ditinggalkan. Seluruh peristiwa yang terjadi biasa-biasa saja. Atau bahkan, terlihat merosot dari yang biasanya. Oleh karena masa liburan  menjelang tiba, misalnya, di beberapa segmen kerja suasana kerjanya mulai terlihat kehilangan gairah. Tidak tampak keantusiasan. Justru yang terlihat adalah gerak kerja mulai lambat. Sekalipun jam kerja sudah tiba, orang belum beranjak ke ruang kerja. Masih tampak berbincang-bincang dengan rekan. Rasa malas menjadi hantu bergentayangan, menerpa siapa saja.  Apakah hal yang demikian terjadi di tempat kerja Anda? Suasana liburan, sekalipun belum dimasukinya, seolah-olah telah menguasainya.  

Yang, bukan mustahil hal serupa menerpa para guru dan siswa didik di sekolah. “Atmosfer” masa liburan yang tinggal sesaat lagi, menerobos ke ruang guru dan ruang-ruang kelas. Guru dan siswa didik seakan-akan sudah terasapi “hawa” liburan. Sehingga proses pembelajaran terlihat agak lamban. Kehilangan semangat. Tidak jelas pihak mana yang mendahului, guru atau siswa didik. Bisa saja guru yang mengawali, yang akhirnya memengaruhi gerak belajar siswa didik. Atau sebaliknya, dapat saja siswa didik yang memulai sehingga memengaruhi kinerja guru. Atau bahkan kedua-duanya mengalami kemerosotan semangat secara bersamaan.

Dan, fakta seperti itu hampir pasti terjadi setiap tahun, saat menjelang liburan apa saja. Sepertinya sudah menjadi tradisi. Jika Anda sebagai guru atau siswa didik, coba introspeksi diri, ya atau tidak? Demikian juga yang berkecimpung di segmen lain. Kalau atmosfer tersebut sungguh telah merambah di berbagai segmen kehidupan di negeri ini, tradisi “loyo” itu barangkali perlu dicermati lebih serius.

Yang juga sering terjadi, selepas liburan, atmosfer itu pun masih bergentayangan mencari mangsa. Maka, tak heran jika sering dijumpai kantor-kantor pelayanan publik masih terlihat sepi, meski masa liburan sudah usai. Sekalipun sudah “buka kantor” masih banyak pegawai/karyawan yang malas masuk bekerja. Dari tahun ke tahun fenonema semacam itu terus terjadi sekalipun para pemimpin telah mengadakan inspeksi mendadak (sidak) dari satu tempat ke tempat lainnya. Begitulah kira-kira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""