Kamis, 04 Agustus 2011

Facebookan Boleh, Asal...

Andai Anda sebagai seorang guru, coba murid Anda tanya ketika sedang ngenet, apakah yang dilakukan lebih banyak facebookan atau menjelajah ilmu pengetahuan? Saya jamin mereka pasti akan menjawab dengan cengar-cengir (agak malu) karena yang mereka lakukan lebih banyak facebookan. Itulah fenomena anak-anak di masa kini. Facebookan tentu saja tidak salah. Sebab, melalui facebookan, anak-anak dapat bersosialisasi. Dapat mencurahkan segala perasaan dan pikirannya, yang tidak mustahil akhirnya menjadikannya menemukan “kesegaran” kembali. Sehingga ketika mengerjakan tugas atau pekerjaan sekolah dalam kondisi prima. Begitu kira-kira.

Akan tetapi, jika meletakkan aktivitas facebookan di atas aktivitas menjelajah ilmu pengetahuan, gaya hidup anak-anak itu harus segera diluruskan. Sekalipun facebookan ada nilai positifnya, jika pemanfaatannya berlebihan tidaklah menguntungkan. Anak-anak akan dirugikan sekalipun barangkali mereka tidak merasakan itu seketika. Karena sesuatu yang baru disukai sering-sering membutakan perasaan bukan? Sesuatu itu dianggap menguntungkan saja. Anak tidak melihat dampak buruknya.

Sehingga walaupun telah diingatkan oleh guru ketika di sekolah, anak tetap belum menyadari. Barangkali mereka mengatakan sepakat dengan apa yang dinasihatkan guru saat di sekolah. Facebookan berlebihan dapat berdampak buruk. Tidak hanya mengganggu pembelajaran di sekolah, tetapi dapat saja menghancurkan masa depan anak. Berapa korban yang telah terjadi akibat pemanfaatan facebook secara emosional. Anak yang awalnya berkenalan lewat dunia maya akhirnya dibawa “lari”  karena mencuri-curi bertemu langsung oleh karena emosional. Hanya sayang, nasihat itu melayang hilang begitu mereka keluar dari halaman sekolah. Pikirannya menjadi berubah. Facebookan lebih penting ketimbang belajar melalui ngenet.

Itulah sebabnya “penyadaran” secara terus-menerus perlu dilakukan. Tidak hanya oleh guru di sekolah, tetapi peluang yang lebih banyak untuk menyadarkan anak adalah sikap orang tua. Sebab, orang tua lebih memiliki kewenangan yang mengikat anak ketimbang guru. Pengetatan memberi uang, dalam arti menyeleksi  memberi uang kepada anak untuk kepentingan-kepentingan tertentu perlu dilakukan. Pengetatan memberi uang tidak berarti orang tua bersikap pelit terhadap anak. Tetapi, orang tua perlu hati-hati memberi uang kepada anak mempertimbangkan peruntukannya. Ini tentu berlaku bagi anak-anak yang di rumahnya tidak ada jaringan internet.

Sementara anak-anak yang di rumahnya memiliki jaringan internet, semestinya lebih mudah dikontrol. Orang tua dapat melakukan tindakan disiplin jika anak melanggar aturan yang telah disepakati antara orang tua dan anak. Anak tentu tetap diizinkan berfacebookan asal ada batas-batas yang harus ditaati. Mengubah pola pikir anak yang awalnya mementingkan facebook ketimbang menjelajah ilmu pengetahuan saat ngenet perlu dilakukan terus-menerus oleh orang tua. Bahkan jika diperlukan tidak salah jika orang tua menghendaki anak membuat laporan setelah membuka internet. Apa yang dibuka di internet oleh anak harus dilaporkan kepada orang tua, boleh dalam bentuk tertulis boleh dalam bentuk lisan. Dengan begitu, kontrol masih dapat dilakukan sekalipun orang tua tidak mendampingi anak saat membuka internet.

Yang jelas, keselamatan anak-anak agar tidak menjadi korban facebook (internet) adalah tanggung jawab kita yang lebih dewasa, baik guru maupun orang tua. Mengubah perilaku anak yang memuja facebook ketimbang belajar ilmu pengetahuan lewat ngenet harus dikampanyekan seperti kampanye-kampanye politik. Yang, boleh jadi memang membutuhkan “pengorbanan”. Bukankah begitu? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""