Minggu, 07 Agustus 2011

Gejala Baru Buber di Kalangan Anak-anak


Di bulan Ramadhan ini, yang baru beberapa hari berlangsung, telah saya temui sebuah gejala yang mulai dilakukan anak-anak. Mereka, anak-anak didik saya, yang kebetulan si sulung berada di antara mereka sekalipun berbeda keyakinan, mengadakan janji untuk melakukan Buka Puasa bersama, atau buka bersama (buber). Buber, yang dulu-dulu (telah) dilakukan anak-anak sekolah, kini pun terus berlanjut. Hanya, gejalanya barangkali mulai berubah. Kalau dulu, mereka mengadakan buber di sekolah bersama-sama siswa satu kelas atau mungkin malah satu sekolah dengan dikoordinasi oleh sekolah (OSIS). Sekarang, gayanya berbeda. Anak-anak mulai menembus tempat makan siap saji di mal-mal, misalnya di Kentucky Fried Chicken (KFC), untuk buber.

Gejala begitu tidak dilakukan satu dua kali. Anak-anak melakukannya seolah sesukanya. Dalam keberlangsungan Puasa yang baru satu minggu ini ternyata beberapa anak didik saya sudah melakukan dua kali buber bergaya serupa itu. Itu yang saya dengar dan tahu. Saya dengar karena si sulung bercerita kepada saya kalau teman-temannya mengadakan buber di sebuah rumah makan siap saji. Yang diceritakan si sulung itu, sebenarnya juga hendak melibatkannya untuk turut buber, tetapi karena waktunya tidak memungkinkan saya tidak mengizinkan. Bukan karena dia tidak menjalani Ibadah Puasa lantas tidak saya izinkan buber dengan teman-temannya yang menjalankan Ibadah Puasa karena kebetulan berkeyakinan berbeda. Bukan. Bukan karena itu. Hanya karena waktunya yang kurang tepat karena waktu itu dia harus wajib belajar di rumah karena besoknya masih sekolah.  

Baru tadi sore, tepat pada malam Minggu, si sulung saya izinkan untuk menerima ajakan teman-temannya, yang gagal diajak ketika buber yang pertama. Ya saya pikir biar juga si sulung menghormati ajakan teman-temannya untuk buber sekalipun dia tidak Puasa. Sudah gagal di ajakan pertama, masa mau gugur di ajakan kedua. Dengan begitu, berarti saya menyediakan ruang komunikasi antara si sulung dengan beberapa teman sekelasnya, yang saya ikuti (perkembangannya) mereka itu tampaknya teman-teman yang akrab.

Buber yang kedua itu diadakan di KFC. Cerita si sulung, ternyata yang mengadakan buber di tempat yang sama itu tidak hanya kelompok dia dan teman- temannya, tetapi ada juga dari kelompok siswa sekolah lain, bahkan dikatakannya lebih dari dua sekolah. Jadi, mau tidak mau, harus antre cukup lama. Benar apa yang dikatakan si sulung. Ketika saya mau menjemputnya karena saya pikir bubernya sudah selesai karena sebentar lagi mau memasuki waktu Tarwih, ternyata (waduh!) ruang makan di KFC itu masih penuh sesak. Saya akhirnya batal menjemput. Saya pulang kembali ke rumah dengan tanpa si sulung karena lewat sms si sulung menyampaikan bahwa dia dan teman-temannya baru saja pesan makanan.

Saya berpikir ternyata benar-benar gejala buber di tempat makan siap saji, semacam KFC, itu telah mewabah ke banyak anak. Tidak hanya anak-anak didik saya, tetapi anak-anak di sekolah lain juga melakukan hal yang sama. Itu baru yang terjadi di Kudus, yang tergolong kota kecil. Bagaimana jika anak-anak yang hidup di kota-kota besar. Boleh jadi gejala itu malah semakin menjadi-jadi. Mungkin saja, buber di mal-mal telah menjadi tradisi baru yang dilakukan oleh anak-anak kota di negeri ini.

Banyangkan, kalau Puasanya saja baru berlangsung satu minggu, anak-anak telah mengadakan acara buber dengan teman-temannya dua kali di mal. Berapa kalikah mereka nanti mengadakan acara buber dengan tren yang sama pada putaran minggu-minggu berikutnya? Jangan-jangan malah dibuat lebih sering karena boleh jadi anak-anak lebih bisa menikmati buber yang bergaya begitu. Saya pikir satu dua kali tidak masalah. Tetapi kalau sering dilakukan, ini yang kurang baik.

Karenanya, kalau benar itu telah menradisi (menjadi tradisi) di kalangan anak-anak, maka sejatinya hal itu memrihatinkan. Sebab, anak-anak berarti (kalau boleh saya katakan) mengabaikan sajian Buka Puasa yang ada di rumah, yang barangkali telah disediakan secara lebih dari hari-hari biasa oleh orang tua. Saya yakin anak-anak yang buber di mal-mal itu tergolong keluarga mampu. Sebab, sekali makan dalam bentuk paket untuk satu anak, kata si sulung, sudah menghabiskan Rp15.000,00. Barangkali bagi keluarga mampu, uang sejumlah itu tidak menjadi masalah. Tetapi, betapa pun jika tren begitu dibiarkan terus terjadi di kalangan anak-anak meskipun (hanya) di sepanjang bulan Puasa, ini agaknya kurang membangun karakter.

Apalagi tren begitu hanya dapat dinikmati anak-anak tertentu. Semantara anak-anak lain yang kurang mampu yang berada dalam satu kelas, misalnya, tidak dapat menikmati. Bukankah justru akan menimbulkan “kekastaan” dalam satu kelas? Anak-anak dari keluarga mampu karena mereka dapat melakukan buber di mal-mal, bukan mustahil akhirnya “ditakuti” oleh anak-anak lain, yang tergolong kurang mampu. Akhirnya nilai kebersamaan yang semestinya harus (terus) dibangun di kelas itu malah merosot. Itulah sebabnya, gejala baru buber di kalangan anak-anak itu perlu menjadi perhatian khusus, terutama (oleh) orang tua. Maaf, ini bukan tulisan yang memrovokasi orang tua untuk melarang anaknya menikmati sajian, misalnya, di KFC dan sejenisnya di bulan Puasa ini. Selamat menunaikan Ibadah Puasa!

2 komentar:

  1. Kreatif juga ya anak-anak sekarang, mungkin anak sekarang sudah punya saku yang berlebihan kali ya...

    BalasHapus
  2. Ya benar juga, tetapi kreatif yang konsumtif. hiks.

    BalasHapus

""