Senin, 08 Agustus 2011

Jadikan Sekolah Basis Komunitas Ramah Lingkungan Lewat Bersepeda


Sore tadi saya menyerviskan motor di Servis Motor Astra. Sembari menunggu penyelesaian servis, saya membaca majalah, entah lupa apa titelnya, tapi saya masih ingat majalah itu dikeluarkan oleh Honda. Salah satu tulisan berisi tentang sebuah laporan mengenai kegemaran seorang anak bersepeda sampai ketertarikannya membentuk komunitas pecinta sepeda, yang akhirnya mengantarkannya ke ajang komunitas pecinta sepeda internasional. Intinya, komunitas itu mencintai lingkungan melalui bersepeda dalam beraktivitas keseharian. Dengan menaiki sepeda berarti mengurangi produk karbondioksida yang notabene sebagai salah satu penyebab pemanasan global.

Yang menarik bagi saya adalah, anak yang masih remaja (siswa SMA) itu memiliki sebuah pemikiran yang begitu mulia. Sementara banyak orang mengupayakan memiliki motor untuk beraktivitas, yang boleh jadi semakin memperparah pemanasan global, anak itu justru mengampanyekan menaiki sepeda kepada banyak orang, terutama teman-teman sekolahnya. Dan, ternyata upaya itu disambut dengan gembira oleh teman-temannya. Dalam laporan itu, ia katakan bahwa menaiki sepeda tidak hanya efisien, tetapi juga menyehatkan badan dan lingkungan.

Setelah membaca laporan itu, saya merenung. Tiba-tiba dalam pikiran saya terpampang sebuah keinginan, sekali lagi, sebuah keinginan (lo!), bagaimana ya mengajak anak-anak didik saya (baca: kami) agar dapat memanfaatkan sepeda saja jika beraktivitas bersekolah. Memang selama ini anak didik kami banyak yang menaiki sepeda jika bersekolah. Sebagian kecil, kecil sekali, yang mengendarai motor. Itu pun tentu kucing-kucingan sama polisi. Sebab, mereka itu memang belum memiliki izin secara hukum formal mengendarai motor. Umur mereka masih belum sampai pada umur yang dipersyaratkan untuk mempunyai surat izin mengemudi (SIM). Masih terlalu kecil untuk mengendari motor, apalagi di jalan-jalan umum, yang sekarang ini begitu ramainya kendaraan bermotor berlalu-lalang. Agak berbeda dengan anak-anak SMA dan yang sederajat. Mereka hampir semuanya dapat dipastikan mengendarai motor sekalipun belum ber-SIM.

Dengan begitu risiko kecelakaan sangat mudah terjadi. Anak-anak kita yang belum ber-SIM itu bagaimana pun juga (karena merasa bersalah) ketika berjumpa dengan polisi, sekalipun polisi itu tidak melakukan operasi, akan terkejut. Dan, keterkejutan itu secara psikologis sangat mengganggu konsentrasinya dalam mengendarai motor. Dalam situasi hati yang tidak tenang seperti itu, diakui atau tidak, mengundang terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Maka, keinginan saya, sekali lagi keinginan (lo!), mengajak anak-anak didik bersepeda ketika beraktivitas bersekolah (barangkali) dapat mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas sekaligus membangun karakter anak-anak mencintai kesehatan dan lingkungan. Sekalipun tadi telah saya katakan bahwa anak didik kami banyak yang memanfaatkan sepeda ketika bersekolah, saya yakin mereka belum memiliki pandangan seperti anak remaja (siswa SMA) dan teman-teman sekomunitasnya yang saya ceritakan di atas. Yang, telah memiliki pandangan bahwa lewat bersepeda, mereka mencintai lingkungan, kesehatan, dan kesederhanaan (efisien). Barangkali ini yang penting untuk dipahamkan kepada anak didik kami. Bersepeda tidak hanya sebagai alat transportasi sekolah, tetapi menjadi budaya hidup yang bertujuan mulia, yakni (di antaranya) meramahi lingkungan.

Kalau semua sekolah, baik SMP maupun SMA (sederajat), di kota-kota mau peduli akan hal itu dengan mewajibkan siswa didiknya menaiki sepeda ketika beraktivitas bersekolah bukan hal yang sulit. Sekolah memiliki wewenang untuk itu. Dan kalau kenyataannya kini di desa-desa anak sekolah juga mengendarai motor, relevan juga hal yang sama diwajibkan. Tentu terkecuali bagi mereka yang kesehariannya (memang) telah berlangganan angkutan umum. Siswa didik yang jumlahnya relatif banyak agaknya memilki “potensi baik” untuk diajak hidup meramahi lingkungan (melalui bersepeda).  Oleh karena sekolah dapat dijadikan basis komunitas ramah lingkungan, dengan demikian, sedikit banyak, turut mengurangi keresahan warga bumi akibat pemanasan global. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""