Rabu, 31 Agustus 2011

Keberagaman Itu Orkestra


Barangkali tak ada yang menyangkal bahwa keberadaan tubuh kita ini sejatinya menghargai keberagaman. Satu anggota tubuh dengan anggota tubuh yang lain saling menghargai. Tangan, yang fungsinya berbeda dengan kaki, misalnya, dapat menjalankan tugasnya masing-masing demi mencapai kesejahteraan bersama. Demikian juga mata dengan telinga. Ketika mata melihat keindahan pertunjukan dan telinga mendengar suara merdu, bibir pun akhirnya turut tersenyum bahagia. Tangan, kaki, mata, telinga, dan bibir mempunyai peran masing-masing dengan segala keahlian, keterampilan, dan keunikan yang dimiliknya untuk kesejahteraan bersama.  Kebahagian dirasakan secara bersama oleh karena bangunan harmoni dari keberagaman yang ada.

Sejatinya, jika kita mau mensyukuri, demikian jugalah keberagaman yang ada di negeri ini. Keberagaman yang ada tidak untuk dinikmati sendiri. Keberagaman yang ada tidak untuk diunggulkan demi mengecilkan yang lain. Tetapi, perlu disadari bahwa keberagaman itu perlu disinergikan sehingga memunculkan “energi” yang luar biasa. Yang, pada akhirnya dapat dinikamti secara bersama demi kesejahteraan bersama.

Ada Batak, ada Ambon, ada Madura, ada Jawa, ada Sunda, dan yang lainnya justru menunjukkan bahwa di negeri ini memang ada kekayaan yang luar biasa. Ada Hindu, ada Islam, ada Budha, ada Kristen, ada Konghucu, dan yang lainnya menandakan bahwa di negeri ini ada karunia beragam yang harus disyukuri karena (barangkali) di tempat lain sulit ditemukan. Ada Gambyong, ada Kecak, ada Jaipong, ada Piring, ada Perang, dan yang lainnya mengindikasikan bahwa di bumi pertiwi ini ada berkat beragam budaya yang sungguh berharga.

Tentu keberagaman yang ada itu tidak untuk dipertentangkan. Biarlah Batak, Ambon, Madura, Jawa, Sunda, dan suku lainnya yang ada di negeri ini terus mengembangkan keunikannya masing-masing, tanpa harus mengabaikan yang lain. Biarlah Hindu, Islam, Budha, Kristen, Konghucu, dan keyakinan lain yang ada di nusantara ini menggali tradisinya untuk lebih memeprkokoh jati dirinya dengan tetap menghormati yang lain. Biarlah Gambyong, Kecak, Jaipong, Piring, Perang, dan seni lainnya yang tumbuh subur di Indonesia tercinta ini mengeksplorasi kekayaannya dengan tetap menghargai yang lain. Karena dengan demikian yang namanya bhineka di bumi Indonesia sungguh diberi ruang untuk bebas bertumbuh, yang tetap terikat dalam tali ketunggalikaan.

Keberagaman yang tergambarkan dalam tubuh kita, yang tentu dengan sengaja diciptakan Sang Khalik untuk mencapai kesejahteraan bersama, sejatinya tak berbeda dengan kebhinekaan yang ada di Indonesia ini. Sang Khalik tentu yang menjadi arsiteknya. Dan karenanya, mempunyai maksud yang tak berbeda pula dengan keberagaman anggota tubuh. Membangun harmoni dari kebhinekaan yang ada di Indonesia oleh banyak orang diakui akan memperkokoh dan memperteguh ketunggalikaan (persatuan dan kesatuan) bangsa Indonesia. Yang, menjadi karakteristik berharga di tengah-tengah banyak bangsa di bumi ini.

Bahkan, bukan mustahil oleh karena keberagaman yang diizinkan tumbuh subur  (dan dilindungi dari berbagai ancaman intern dan ekstern) dengan tetap memegang komitmen ketunggalikaan menjadikan bangsa Indonesia yang keberadaannya disegani oleh bangsa-bangsa lain di muka bumi ini. Bangsa, yang akhirnya memiliki posisi tawar di hadapan bangsa-bangsa lain.

Karena itu, Hari Raya Idul Fitri ini menjadi momentum penting  dalam mengangkat nilai-nilai keberagaman untuk hidup bersama, yakni untuk mencapai kesejahteraan hidup bersama. Ritual mudik, bersilahturahmi, dan balik menjadi momen-momen yang penting untuk membangun kebersamaan. Ada banyak pihak yang tidak melihat latar belakang budaya, agama, suku, atau yang lainnya untuk bersama-sama menciptakan kelancaran arus mudik lebaran. Di sediakan sekian banyak pos penjagaan, pos kesehatan, dan pos istirahat dengan segala pelayanannya baik medis maupun logistik yang melibatkan berbagai pihak lebur dalam satu semangat melancarkan arus lebaran. 

Saya melihat (ini barangkali hal yang sangat sederhana) dalam waktu-waktu ini di beberapa tempat ibadah non-Muslim dan di jalan-jalan atas nama komunitas non-Muslim dipasang spanduk ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri. Bukankah ini (juga) menunjukkan bahwa praktik toleransi antarumat beragama masih demikian kental di negeri ini? Ini yang harus terus dipupuk demi  kejayaan bangsa yang kaya keberagaman ini. Karena keberagaman itu jika diberi ruang berkembang dan perlindungan menjadi orkestra kehidupan yang harmoni. Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""