Jumat, 26 Agustus 2011

Kekuatan Emosi Anak-anak

Si kecil sesaudara jika sudah bertemu umumnya sulit untuk berpisah. Tidak memandang seberapa waktu mereka berjumpa. Dalam waktu sebentar berjumpa, mereka sulit berpisah. Dalam waktu yang agak lama bertemu, mereka juga sukar berpisah. Demikian juga dalam waktu yang lama bersua, mereka pun juga tidak mudah berpisah.  Kalau dipaksakan untuk berpisah, dipastikan mereka menangis. Yang menangis bisa salah satunya, tetapi dapat juga semuanya.

Apalagi jika mereka memang lama tidak pernah berjumpa. Sehingga ada rasa kangen segera ingin bertemu. Rasa kangen berjumpa, yang “terjawab” itu barangkali mereka manfaatkan secara sungguh meluapkan kerinduan mereka. Hanya, kita, orang tua, sering kesulitan menemukan bukti bahwa mereka saling meluapkan rasa rindu tersebut. Bagaimana tidak, ketika selama mereka berjumpa tidak selalu dialami dengan suka cita. Kadang ada waktu-waktu tertentu yang oleh mereka malah digunakan untuk “bertengkar”, yang mungkin saja dipicu oleh sesuatu yang sederhana. Bahkan, bukan mustahil, hingga mereka menangis.

Tetapi toh demikian, ketika salah satunya diajak pulang, sering menolak. Ini yang dialami si bungsu kemarin ketika kami ajak bermain ke rumah saudara. Di rumah saudara memang ada anak seusianya, meski sedikit agak lebih tua ketimbang usia si bungsu. Sehari sebelum berkunjung ke rumah saudara, si bungsu memang mendesak-desak kami segera “bermain” ke rumah sepupunya itu. Tetapi karena kami belum memiliki kesempatan oleh karena kesibukan, baru kemarin keinginan itu terwujud.

Selama si bungsu bertemu dengan saudara sepupunya, benar bahwa waktu itu digunakan untuk bermain-main. Tetapi, tidak selama mereka bertemu itu selalu bermain bersama. Sebab, beberapa kali si bungsu meninggalkan sepupunya itu. Beralih  “mengganggu” bincang-bincang kami. Konsentrasinya tidak melulu ke hal bermainnya dengan sepupunya itu. Dalam beberapa saat sepupunya akhirnya bermain sendiri.

Saya tidak mengerti, apakah si bungsu sudah mulai bosan. Kalau benar mulai bosan, berarti kerinduannya telah tertumpahkan semua kepada sepupunya itu. Rasa rindunya yang terlihat begitu menggebu-gebu saat masih belum bertemu, sepertinya sudah terobati. Tetapi toh demikian, ketika kami beraba-aba hendak pulang, ia menolak “mati-matian”. Artinya, penolakannya begitu kuat. Ia seolah-olah marah karena tidak mau diajak pulang. Berperilaku memberontak dan mengutarakan kata-kata penolakan. Sekalipun kami (sedikit berkelakar) hendak pulang, ia tetap bersikukuh tidak mau pulang. Sepertinya, ia “berani” kami tinggal. Terlihat begitu berat berpisah dengan sepupunya itu.

Saya ketika masih SMP mengalami hal yang serupa dengan si bungsu. Ketika saya bertemu adik kandung saya, karena sudah sangat lama tidak berjumpa, ketika waktu saya harus pulang, rasanya begitu berat. Berat berpisah dengannya. Padahal, ketika itu, seingat saya, hanya semalam tidur bersamanya. Rasa kangen belum tertumpah semua. Saya menangis ketika hendak kembali pulang. Barangkali yang dirasakan adik tak jauh berbeda dengan yang saya alami. 

Kami memang berpisah sejak ibu meninggal. Barangkali karena tidak ada keluarga dekat (maksudnya kakak) yang merawat, adik akhirnya ikut bulik dan saya ikut bulik satunya. Tempat tinggal kami akhirnya berjauhan. Adik tetap berada di desa (tempat tinggal asli kami), sementara saya agak ke kota. Waktu itu, saya harus berjalan kaki berkunjung ke tempat adik. Kira-kira memakan waktu tiga sampai empat jam. Sekalipun begitu, saya merasa menikmati perjalanan jauh. Karena suasana alam ketika itu masih sangat alami dan nyaman. Panas belum menyengat seperti sekarang  sekalipun dalam jam yang sama, siang hari. Menyeberang sungai yang berair jernih sungguh menggembirakan. Mendengar kicauan burung dan melihat ketangkasannya terbang ke sana ke sini menumbuhkan rasa syukur. Sehingga waktu tiga sampai empat jam itu tidak terasa lama. 

Kalau saya pulang ketika itu atas inisiatif sendiri karena harus mematuhi nasihat bulik, yang dinasihatkan kepada saya saat menjelang berangkat mengunjungi adik. Tangisan kami mengantar “perpisahan” kami,  kakak-adik, yang masih saling merasa kangen. Sementara (kemarin) si bungsu mau diajak pulang, berpisah dengan sepupunya, itu ketika saya (terlebih dulu) berkelakar hendak mengajaknya melihat seni barong. Memang perjalanan kami dari rumah saudara ke rumah kami (dan sebaliknya) bisa melewati sebuah kelenteng. Kadang-kadang pengelola kelentang itu menyuguhkan pertunjukan barong. Sayang, saat itu tidak ada pertunjukannya. Untung si bungsu sepertinya tidak “menagih janji” melihat pertunjukan barong itu. Mungkin ia sudah lupa. Jadi, kami bisa langsung pulang.

Itulah alam kehidupan anak-anak. Emosi mereka lebih dominan ketimbang logika sehingga apa yang diingini hampir-hampir harus dapat dipenuhi. Keinginan bertemu saudara, misalnya, sulit dikendalikan. Hingga diperjuangkannya sampai menggunakan “senjata pamungkas”, yakni menangis sejadi-jadinya. Begitu pun setelah bertemu, oleh karena kekuatan perasaannya, mereka sulit untuk berpisah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""