Senin, 15 Agustus 2011

Kemauan dan Dorongan Memompa Potensi Anak


Tak ada rotan, akar pun berguna. Sebuah peribahasa yang barangkali sesuai dengan yang dialami si bungsu akhir-akhir ini. Betapa tidak, hulahup (lingkaran rotan sebagai peralatan untuk bermain keterampilan dan ketangkasan), yang diameternya relatif besar, ia pergunakan untuk bermain-main. Awalnya ia hanya memanfaatkan hulahup itu untuk diangkat, dimasuki, diputar-putar, dilemparkan, lama-kelamaan, ia memanfaatkan untuk permainan yang sebenarnya. Istilah “hulahup”, barangkali berasal dari kata “hula-hula”, yang berarti tarian khas orang di Kepulauan Hawai. Makanya, ketika bermain hulahup, tubuh bergoyang-goyang atau berputar-putar. Semakin tubuh bergoyang atau berputar cepat, permainan hulahup semakin menarik.

Si bungsu memainkan alat itu untuk permainan keterampilan dan ketangkasan seingat saya mencontoh kakaknya, yang dulu ketika si bungsu masih kecil melihat kakaknya bermain hulahup.  Memang alat hulahup itu milik kakaknya. Sehingga kalau sekarang dipakai oleh si bungsu ukurannya masih terlalu besar. Memang ada hulahup yang ukurannya lebih kecil, yang tentu saja lebih pas untuk si bungsu. Tetapi, saya tidak berniat membeli. Saya pikir hulahup yang ada itu sekalipun ukurannya kurang pas dengan postur tubuh si bungsu toh masih dapat dimanfaatkan.

Apalagi si bungsu sendiri tidak seperti kakaknya, yang ketika itu memang minta dibelikan hulahup. Si bungsu sepertinya cukup menerima hulahup bekas milik kakaknya itu. Ya barangkali memang ia tidak mengerti kalau sebenarnya ada hulahup yang ukurannya lebih pas untuk dirinya. Tetapi, saya yakin sekalipun ketika kami jalan-jalan dan menjumpai toko yang menjual hulahup serta si bungsu tahu, ia tetap tidak akan minta untuk dibelikan. Karena ia telah merasa memiliki alat yang serupa meskipun ukurannya kurang pas. Si bungsu belum memiliki pengertian apakah hulahup itu pas bagi dirinya atau tidak. Saya pikir, dalam benak si bungsu yang penting ada saja, itu sudah cukup baginya. Tetapi kalau toh meminta untuk dibelikan, saya pasti akan mempertimbangkannya.

Kesukaannya bermain hulahup terpengaruh juga oleh saudaranya, keponakan saya, yang usianya lebih tua sedikit ketimbang dirinya. Keponakan saya itu sudah SD kelas 1. Kalau bermain ke rumah selalu bermain hulahup. Ya permainannya lebih baik kalau dibandingkan dengan permainan si bungsu. Boleh jadi karena saudaranya itu lebih tua, yang saya yakin dalam bernalar lebih maju daripada si bungsu.

Hanya, memang ketika saudaranya itu main ke rumah, semangat si bungsu untuk bermain hulahup semakin bertambah. Seolah-oleh ia ingin menunjukkan kemampuannya bermain hulahup. Anak-anak kecil yang lain, yang seusia dirinya secara umum memiliki sifat yang serupa. Selalu saja ingin memamerkan kemampuannya di hadapan orang banyak. Apalagi di hadapan orang-orang yang sudah dikenalnya. Ia akan menampilkan keterampilan dan ketangkasannya secara allout.

Si bungsu memang belum mengerti hulahup itu pas untuk dirinya atau tidak. Hanya, di mata saya, sekalipun hulahup itu tidak pas untuk si bungsu karena terlalu besar, namun karena si bungsu terlihat dapat menikmatinya ketika memakainya untuk bermain, rasanya tidak salah dibiarkan tetap dimanfaatkan. Tidak pasnya itu kalau (hanya) kebesaran, apalagi (dalam hal ini) hulahup, saya pikir masih baik.  Sekalipun tidak pas kalau dapat dimanfaatkan, apa salahnya? Justru hulahup itu akan dapat dipakai dalam jangka waktu yang relatif lama asal tidak rusak. Sebab, diameternya memungkinkan si bungsu hingga besar masih dapat menggunakannya.

Di balik ketidakmengertian si bungsu (akan kekurangpasan hulahup tersebut untuk dirinya) ada “kebaikan” yang dapat saya jumpai pada dirinya. Yaitu, sekalipun hulahup itu kurang pas, tetapi karena ada kemauan untuk belajar, si bungsu akhirnya dapat bermain keterampilan dan ketangkasan hulahup. Ternyata perkakas yang tersedia kurang mendukung tetap dapat termanfaatkan karena ada kemauan. Kemauan boleh jadi (akhirnya) dapat mengubah sesuatu yang kurang berarti menjadi berarti. Barangkali kalau kita memiliki sesuatu yang sederhana, tetapi kita memiliki kemauan untuk mendayagunakan sebaik-baiknya, itu dapat saja memiliki manfaat tidak hanya bagi kita, tetapi bagi banyak orang. Hal ini yang sering kita abaikan. Saya dapat belajar dari si bungsu karena ternyata hulahup yang kurang pas bagi dirinya dapat dimanfaatkan untuk bermain ketangkasan, yang bagaimanapun hal itu menggembirakan kami.

Dan hebatnya lagi, si bungsu semakin menggebu-gebu menunjukkan ketangkasan itu manakala kami memberikan motivasi, sekalipun sekadar senyum, kata-kata, tepukan, atau angkat jempol tangan. Kegairahan untuk bermain hulahup bertambah hebat. Bahkan ia semakin tampak cerdas karena ketika memainkan hulahup dalam ruang yang kurang luas, ia dapat mencari (sendiri) ruang yang agak longgar sehingga leluasa bermain hulahup. Si bungsu sudah dapat memilih tempat yang sesuai untuk bermain. Dalam konteks ini, si bungsu sepertinya dapat memilah mana yang cocok dan tidak cocok. Saya memandang ini bagian dari “buah” kemauan yang ia miliki. Karena adanya kemauan dan dorongan mampu memompa potensi anak berkembang secara lebih komprehensif.

Maka, tak heran jika sekalipun anak dalam kondisi terbatas dapat saja memiliki prestasi yang luar biasa. Tak jarang anak yang hidup dalam perekonomian yang sulit, di pedesaan gersang, atau dalam situasi dan kondisi  tertekan, masih bisa muncul sebagai pemenang. Mujizat itu boleh jadi karena ada kemauan dan dorongan yang dahsyat.

2 komentar:

  1. artikel yang bagus banget, saya kebetulan kerja dibagian konsultasi tentang potensi anak sehingga bisa jadi masukan buat saya, terimakasih .. mungkin kita bisa sharing di blog saya
    http://www.tesbakatdmi.blogspot.com

    sekali lagi terimakasih ini sangat berguna banget...

    BalasHapus
  2. @Rochim Sama-sama, Sobat. Kita saling berbagi dan mengisi.

    BalasHapus

""