Kamis, 25 Agustus 2011

Liburan Bernuansa Keluarga juga Bermakna

Libur sekolah telah tiba. Anak-anak dalam mengisi libur sekolah, satu dengan yang lain pasti berbeda. Apalagi masih di bulan Puasa ini. Anak-anak yang menunaikan Ibadah Puasa tentu masih menjalankan Ibadah Puasanya. Boleh jadi di antara mereka banyak yang tetap tinggal di rumah bersama keluarga. Mereka menghabiskan Ibadah Puasa bersama orang tua dan saudara. Kalaupun beraktivitas, boleh jadi, lebih banyak di dalam keluarga (sendiri) ketimbang di luar.

Tetapi, begitu ritual Ramadhan usai, biasanya mereka beraktivitas di luar keluarga karena masih masa libur. Mereka (akan) lebih bebas dalam melakukan aktivitas. Aktivitas-aktivitas yang memerlukan fisik tidak (lagi) menjadi pertimbangan khusus. Berbeda dengan ketika masih masa Puasa. Kegiatan-kegiatan yang bersentuhan dengan fisik cenderung dikurangi. Ini tentu bagi anak-anak yang menjalani Ibadah Puasa.

Anak-anak yang tidak menjalani Ibadah Puasa oleh karena keyakinan berbeda, tentu lebih banyak memiliki waktu untuk beraktivitas fisik. Sejak awal liburan (sekalipun masih masa Puasa), kegiatan-kegiatan yang berhubungan fisik dapat mereka lakukan dengan leluasa. Baik kegiatan yang diadakan dalam keluarga maupun  di luar. Anak-anak, umumnya, lebih menyukai aktivitas di luar keluarga jika memasuki masa liburan seperti kali ini.

Ada yang sengaja menerencanakan liburan menjadi saat yang menggembirakan. Mereka mengadakan rekreasi keluar daerah. Yang biasa hidup di daerah pegunungan berlibur ke pantai, ke kota, dan objek-objek lain yang tak ditemukan di lingkungannya. Sebaliknya, mereka yang hidup di perkotaan, mereka berlibur ke pegunungan dan pantai yang menyuguhkan panorama alam nan indah. Ada juga yang, oleh karena memiliki banyak dana, berpelesir ke luar negeri. Mencari hiburan yang sama sekali baru, baik alam, budaya, maupun sejarah. Tetapi, tak sedikit, oleh karena dana relatif kecil, cukup berlibur ke rumah saudara atau kakek-nenek.

Akan tetapi, sekalipun hanya berlibur ke rumah saudara atau kakek-nenek, bukan berarti tidak bermanfaat. Ada banyak manfaat yang dapat dipetik dari liburan bernuansa keluarga ini. Sekalipun kesannya bersahaja, tetapi membawa keuntungan yang bermakna. Yang, barangkali tidak dapat ditemukan ketika berlibur ke luar daerah atau luar negeri, yang cenderung bersifat mencari hiburan. Liburan bernuansa keluarga dapat membangkitkan rasa kekeluargaan.

Untuk anak-anak, liburan demikian akan (semakin) mempererat hubungan persaudaraan. Karena dapat mengenal masing-masing keluarga. Mengenal saudara dari bapak atau ibu. Membangun kesadaran anak-anak bahwa mereka bersaudara. Mereka masih memiliki hubungan yang dekat, hubungan kekerabatan. Yang. diakui atau tidak, “gerakan” ini akhirnya akan melestarikan keberlangsungan ikatan kekeluargaan secara turun-temurun. Ini barangkali salah satu nilai mahal yang dapat dibangkitkan melalui liburan bernuansa keluarga.

Apalagi kini nilai-nilai persaudaraan semakin terkikis. Yang disebabkan mobilitas kehidupan manusia cenderung cepat, praktis, dan instan. Seakan-akan manusia hanya berpikir untuk diri sendiri. Di sinilah tumbuh sikap-sikap individualistis. Sekalipun berasal dari satu moyang  jika tidak pernah berjumpa, anak-anak akan merasa asing. Mereka tidak saling mengenal. Sehingga sulit dijumpai keakraban antarmereka sekalipun masih ada pertalian keluarga. Momen libur, yang selalu ada di setiap tahun, dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan nilai-nilai kekerabatan dalam ikatan keluarga besar.

Di samping itu, liburan bernuansa keluarga juga dapat mendidik anak-anak berbagi pengalaman. Masing-masing sangat mungkin menceritakan pengalamannya. Bahkan sekalipun tidak ada yang menyuruh, misalnya, mereka akan tetap saling bercerita. Bercerita tentang sekolahnya, kebiasaannya, makanan khas daerahnya, budaya khas daerahnya, temannya, dan sebagainya. Sehingga mereka akan saling bertambah pengetahuan.

Tentu akan berkunjung juga ke objek-objek khas jika ada. Apakah objek bernuansa industri, budaya, alam, atau sejarah. Mengenal dari dekat objek-objek itu sangat menambah pengetahuan. Objek-objek itu pun bernilai hiburan sehingga memberi penyegaran. Kesuntukan oleh karena kesibukan belajar dapat terobati sehingga kesegaran diperoleh kembali. Dan yang pasti, pengetahuan dan hiburan itu dapat diperoleh dengan “harga” yang relatif ekonomis dibandingkan dengan berekreasi.

Beruntung jika kakek-nenek masih ada. Karena lewat beliau biasanya anak-anak mengenal sopan santun. Baik kesantunan dalam bertutur kata maupun bertingkah laku. Beliau sangat memerhatikan “pembiasaan” kesantunan itu. Terhadap cucun-cucunya beliau menanamkan nilai-nilai moralitas dengan cinta, kesabaran, dan kesetiaan. Sebuah pembelajaran yang sesungguhnya mahal harganya. Dan, cucu-cucunya, anak-anak kita, itu umumnya lebih patuh kepada beliau ketimbang kita, orang tuanya. Begitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""