Senin, 01 Agustus 2011

Membangun Empati Lewat Kepedulian Kolektif Siswa

Semakin terkikisnya rasa empati di akhir-akhir ini telah merambah ke semua kalangan masyarakat. Tidak hanya masyarakat di kota-kota besar (yang di dalamnya banyak kaum elite), tetapi sampai di masyarakat kota-kota kecil bahkan pedesaan. Tidak hanya pada orang dewasa, tetapi terlihat juga pada anak. Anak-anak (termasuk anak terpelajar), diakui atau tidak, tidak mudah diajak melakukan kegiatan misalnya hanya sekadar membantu mengangkat meja, kursi, atau barang lain dari satu tempat ke tempat lain. Tidak jarang ketika seorang siswa diajak oleh gurunya memindahkan pot bunga dari teras depan kelas ke taman belakang sekolah, menghindar. Mau melakukan sepertinya dengan keterpaksaan.

Menipisnya sikap empati ini barangkali di antaranya disebabkan oleh tidak sempatnya orang memikirkan hal-hal yang bernuansa sosial. Karena semua waktu telah tercurahkan untuk memikirkan kepentingan keluarga. Bagaimana mungkin memikir yang lain, jika kondisi keluarga saja masih dalam kekurangan. Bahkan, orang tua memerhatikan anak saja sekarang ini relatif berkurang karena kesibukan orang tua mencari nafkah. Kesejahteraan ternyata sangat berpengaruh terhadap sikap empati seseorang. Semakin tidak sejahtera semakin tidak berempati. Sebaliknya, sekalipun ini tidak mutlak, semakin sejahtera barangkali lebih mudah untuk berempati.

Sayang di negeri ini lebih banyak orang hidup tidak sejahtera. Di lingkungan tempat tinggal saya saja dapat dihitung keluarga yang hidupnya cukup: cukup makan, berpakaian layak, dan menyekolahkan anak. Itu hanya dinikmati orang-orang yang memiliki gaji bulanan. Memrihatinkan kehidupan petani, yang berdomisili di wilayah tempat tinggal saya,  jumlahnya lebih banyak. Menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang SMA dan sederajat saja tidak bisa. Anaknya terpaksa di rumah dan hanya luntang-lantung. Membantu orang tuanya pun belum dapat karena tidak berbekal. Apalagi sekarang ini pertanian tidak lagi menjanjikan oleh karena musim yang tidak bersahabat.

Tipisnya sikap empati, dengan demikian, disebabkan oleh hal yang sistemik dan berlapis-lapis. Pengangguran, sulitnya memenuhi kebutuhan ekonomi, sulitnya pekerjaan, bertambahnya populasi manusia, korupsi, manipulasi, nepotisme, semakin memperparah kehancuran sikap empati manusia. Sepertinya tidak ada ruang lagi untuk membangun sikap empati yang menghilang itu. Hanya ada di keluarga-keluarga tertentu, yang dapat dipastikan jumlahnya tidak banyak. Di masyarakat sulit dibangun sikap empati. Karena masyarakat sendiri telah begitu vulgar menyodorkan perilaku-perilaku yang jauh dari sikap empati manusia. Baik disodorkan lewat media maupun langsung.

Sekolah ternyata dapat digunakan sebagai wadah untuk membangun sikap empati manusia yang semakin lama semakin menipis itu. Anak-anak, sekalipun tidak merasakan secara langsung, pembangunan sikap empatinya dapat dilakukan. Melalui pembiasaan pengumpulan uang tiap hari Jumat, misalnya, dapat dijadikan media untuk membangun sikap empati anak-anak. Anak-anak Muslim mengenal istilah sodakoh dan anak-anak non-Muslim mengenal istilah persembahan. Melalui sodakoh dan persembahan itu ternyata dapat membelajarkan anak-anak untuk bersikap empati terhadap sesama.

Bukankah uang sodakoh dan persembahan yang telah terkumpul dan dikelola dengan arif dan bijak dapat digunakan untuk meringankan beban orang lain? SMP 1 Jati Kudus telah memraktikkan itu sejak beberapa tahun terakhir ini. Uang sodakoh dan persembahan yang dikumpulkan boleh jadi jumlahnya tidak seberapa karena sifatnya seikhlasnya. Hanya, karena jumlah siswa didiknya banyak, jadinya setelah terkumpul ya banyak. Uang sodakoh dan persembahan itu dikelola dengan baik oleh bagian kesiswaan. Peruntukannya memang untuk kepentingan siswa yang membutuhkan bantuan.

Ada siswa yang membutuhkan kacamata karena cacat mata dan ketiadaan biaya, misalnya, uang sodakoh dan persembahan digunakan untuk membelikan kacamata siswa tersebut secukupnya. Demikian juga ada yang membutuhkan kerudung oleh karena keluarga tidak mampu membelikan, uang sodakoh dan persembahan dapat dimanfaatkan untuk meringankan beban keluarga. Kebutuhan-kebutuhan lain bagi siswa didik yang memang kurang mampu dapat dibantu sejauh peruntukannya memang penting bagi pertumbuhan siswa baik secara mental, spiritual, maupun intelektual.

Bahkan, yang masih hangat dilakukan oleh sekolah adalah membantu anak yang telah lulus, namun oleh karena ketidakmampuan keluarga menyekolahkan ke jenjang pendidikan menengah, uang sodakoh dan persembahan dapat digunakan untuk membantu anak mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Anak, sebut saja namanya Bunga (tidak nama sebenarnya) hampir saja tidak sekolah. Ketika diadakan pendataan setiap lulusan akan bersekolah ke mana, Bunga mengatakan tidak akan sekolah karena tidak ada biaya. Dari pendataan itulah akhirnya sekolah (SMP 1 Jati Kudus) berinisiatif untuk memberi bantuan. Bunga akhirnya didaftarkan ke sebuah SMK dengan segala beban biaya ditanggung sekolah dan bahkan untuk meringankan beban keluarga, Bunga juga dibelikan sepeda untuk transportasi selama bersekolah. Tidak itu saja, pihak sekolah juga menghubungi SMK, tempat Bunga bersekolah, agar Bunga mendapat perhatian lebih khusus.

Gerakan-gerakan sosial yang demikian itu dapat berjalan dengan baik hanya oleh karena peran siswa secara bersama-sama. Sekalipun mereka tidak bertindak langsung, tetapi melalui peran mereka dalam mengumpulkan sodakoh dan persembahan, mereka telah berbuat jauh lebih baik. Karena sikap empati mereka terwujud. Oleh karena itu, betapa pun setiap ada program memberi bantuan diumumkan kepada semua siswa didik lewat upacara, misalnya, akan membangun sikap empati mereka semakin bertumbuh. Anak-anak akan turut merasakan betapa beban yang disangga oleh siswa (temannya) yang membutuhkan bantuan itu. Saya yakin, mereka akan merasa lebih beruntung karena dapat memberi bantuan sekalipun disampaikan secara kolektif. Bukankah begitu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""