Kamis, 11 Agustus 2011

Memberi Ruang Tumbuh si Kecil



Anak-anak kita, terutama yang masih bawah lima tahun (balita), ketika kita ajak untuk bermain-main sekali saja, yang baginya itu hal yang baru dan terutama menyenangkan selalu terus ingin diperbuatnya. Dan, ketika di awal kita dirasakannya  terlibat, untuk perbuatan yang selanjutkan dipastikan kita diminta terlibat. Kesempatan yang sebetulnya menarik bagi kita, orang tua, untuk merangsang anak kita berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat baginya.

Beberapa hari yang lalu si bungsu saya ajak untuk membaca-baca koran bagian yang memuat cerita anak. Ia merasa senang akan isi cerita yang saya bacakan itu. Ceritanya sangat sederhana, tetapi ternyata menarik perhatian si bungsu. Sehingga tiap kali saya sedang berada di rumah dan kebetulan si bungsu tidak tidur, saya selalu dimintanya untuk menceritakan cerita tersebut. Karena cerita itu sangat pendek saya hapal ceritanya. Tanpa koran itu pun sejatinya saya bisa menceritakan secara pasih. Tetapi, oleh si bungsu selalu saja koran itu dimintanya untuk dibaca. Yaitu,  bagian yang memuat cerita kesukaannya itu. Dan demi kesukacitaan si bungsu, permintaannya selalu saya kabulkan sekalipun saya bercerita tanpa melihat teks cerita tersebut.

Yang sangat menggembirakan saya adalah ternyata si bungsu dalam bagian-bagian tertentu (ketika saya bercerita) mengikuti ucapan saya.  Berarti pada bagian-bagian tertentu dalam cerita itu si bungsu telah mengerti, bahkan seakan-akan ia telah hapal. Ia sering mengikuti ucapan ketika saya mengucapkan nama tokoh dalam cerita, misalnya. Tidak hanya nama tokoh dalam cerita, perbuatan tokoh pun yang barangkali bagi dirinya itu menarik, turut ia ucapkan.  Jelas bahwa si bungsu, sedikit banyak, telah mengerti isi cerita yang ia sukai itu dengan baik.

Buktinya, ketika saya beri pertanyaan, siapakah nama tokoh anak dalam cerita itu, dia langsung menjawab. Bahkan karena dalam cerita itu ada ilustrasi gambarnya, ia menunjuk salah satu gambar anak dalam cerita itu, dikatakannya bahwa itu tokoh yang dimaksudkan. Si bungsu mengaitkan gambar anak dengan salah satu nama tokoh dalam cerita itu.  Dalam raut wajahnya (si bungsu) saya melihatnya ada kegembiraan yang tentu saja selalu dirindukan oleh setiap orang tua terhadap anak-anaknya.

Di lain kesempatan saya mengalihkan perhatian si bungsu pada hal lain, yang masih terkait dengan bahan bacaan. Tidak cerita, tetapi tulisan-tulisan judul dalam koran yang sama, yang relatif besar ukurannya dan tercetak cantik huruf-hurufnya. Barangkali karena judulnya besar-besar dan berwarna-warni itu, salah satu faktor yang menarik perhatian si bungsu. Saya tidak membacakan judul-judul itu, tetapi meminta si bungsu untuk menunjukkan warna-warna dalam huruf. Ada warna hijau, merah, biru, kuning, hitam di antaranya. Ia begitu bergairah untuk menunjukkan warna yang ada.

Begitu selesai menunjuk warna-warna itu, saya lantas melanjutkan “menunjuk” salah satu huruf yang mudah untuk diucapkan, terutama huruf-huruf vokal, dalam judul yang warna hurufnya telah disebut tadi. Saya minta si bungsu untuk menunjuk huruf-huruf yang serupa (sama) dalam judul berita atau artikel tersebut. Awalnya agak kesulitan karena ada beberapa huruf yang sama, namun  terlewati ditunjuk. Saya akhirnya membantu untuk menunjukkan itu. Akhirnya lama-kelamaan, ia dapat menunjukkan sekalipun masih pelan-pelan. 

Begitu saya pikir ia telah mengetahui letak huruf-huruf itu, si bungsu saya minta menghitung huruf-huruf itu mulai dari satu. Awalnya (juga) agak kesulitan karena ia menghitungnya meloncat-loncat dari huruf yang ada di sana, tiba-tiba jari telunjuknya mengarah huruf yang ada di sini. Ada huruf yang sama terlewati dihitung. Jadi hitungannya kurang tepat. Huruf yang sama ada empat, misalnya, ia menghitungnya hanya sampai tiga.  Lambat laun ia dapat menghitung dengan tepat. Bahkan, beberapa kali harus menghitung sampai empat-lima huruf yang sama dalam sebuah judul. 

Tidak hanya sampai di situ. Saya melanjutkannya menyuarakan huruf itu. Dan, saya berharap si bungsu menirukan. Si bungsu memang akhirnya menirukan bunyi (setiap) huruf yang saya suarakan. Sementara untuk huruf-huruf vokal yang memang lebih mudah disuarakan ketimbang huruf konsonan. Dalam menirukan ini, si bungsu tidak mengalami kesulitan. Tetapi, ketika saya hanya menunjuk huruf vokal, lalu si bungsu saya minta mengucapkan huruf itu, ia agak kesulitan.  Barangkali ia masih berada dalam kondisi lupa-lupa ingat.

Sekalipun begitu, hampir setiap waktu bertemu dengan saya di hari-hari ini, si bungsu selalu mengajak saya untuk membolak-balik koran. Mencari-cari judul berita yang menarik karena besar ukurannya dan berwarna-warni. Mengajak melakukan tindakan yang sama, mulai menunujuk warna, menunjuk huruf yang sama, menghitung, hingga menyuarakan huruf-huruf itu. Tindakan yang tampaknya sungguh menarik bagi si bungsu sehingga sering mengganggu kegiatan yang harus saya lakukan.

Saya sangat menyadari kalau keinginan itu saya tolak menjadi tidak baik bagi pertumbuhan si bungsu. Jadi, mau tidak mau, saya harus melayaninya dengan muka tetap ceria sekalipun badan sejatinya letih-lelah. Anak-anak seusia si bungsu (3,7 tahun) bahkan bawah tiga tahun (batita)  memang harus diberi ruang untuk bertumbuh agar potensinya dapat terus berkembang.

Boleh jadi pengalaman ini kurang bermanfaat bagi orang-orang tua tertentu, terutama yang berkecukupan apalagi hidup di kota-kota besar, karena barangkali sejak dalam kandungan pun si kecil sudah harus diajak belajar bersama. Tetapi, bagi kebanyakan orang tua, apalagi dalam kondisi finansial yang pas-pasan dan tempat tinggal jauh dari lembaga pendidikan anak usia dini (yang biasanya ada di kota-kota), yang biayanya realatif lebih mahal ketimbang  masuk SD dan SMP, cara sederhana yang saya lakukan itu mungkin tidak terlalu jelek kita lakukan bagi batita atau balita kita. Bagaimana? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""