Jumat, 05 Agustus 2011

Menanamkan Perilaku Menghargai Sejak Usia Dini

Perilaku menghargai begitu mahal. Barangkali tidak cukup (bahkan tidak dapat) hanya dibeli dengan uang, seberapa pun besarnya. Tidak ada orang yang dapat menjamin bahwa dengan banyak uang, perilaku menghargai dapat diraih seseorang. Perilaku menghargai jauh dari nilai uang itu. Perilaku menghargai justru dekat dengan hati nurani.

Itulah sebabnya, sekalipun ada orang yang banyak uang belum tentu memiliki perilaku menghargai. Bahkan jika tidak hati-hati, banyak uang dapat menghantarkan orang kehilangan perilaku menghargai. Betapa tidak, karena setiap mengingini sesuatu selalu dapat diperoleh. Pensil hilang, misalnya, dapat segera dipenuhi dengan cara membeli yang baru. Tas ketinggalan lantas diambil orang dibiarkan begitu saja (tidak diurus) sebab membeli yang baru toh pasti ada dan bahkan lebih baik. Memiliki banyak uang jika tidak hati-hati ternyata dapat menghilangkan sikap menghargai terhadap apa yang diempunya.

Anak-anak kita barangkali sering melakukan perilaku begitu. Coba Anda perhatikan baik-baik perilaku anak Anda kalau Anda memiliki waktu untuk memerhatikannya. Kalau waktu Anda habis untuk pekerjaan, barangkali dapat meminta bantuan kepada orang yang merawat anak Anda. Hanya memang orang itu harus dapat diberi kepercayaan. Jangan malah nanti menjadi bumerang bagi Anda. Maksudnya orang itu seolah-olah bersikap baik, tetapi pada kenyataannya tidak baik. Ya barangkali maksudnya (memang) baik bagi anak Anda biar anak Anda tidak repot-repot. Segala sesuatu selalu dilakukannya, yang pada akhirnya menimbulkan sikap bergantung selalu ada dan terus tumbuh dalam diri anak Anda.

Sekalipun tidak melalui penelitian, saya yakin, pasti di antara kita (akan) banyak yang menjumpai perilaku anak yang kurang dapat menghargai kepunyaannya. Apalagi jika yang merawat tadi (olah karena kesibukan kita), entah sadar entah tidak, membuat kondisi seperti yang di atas, yakni memanjakan mereka. Akibatnya, ada bukunya yang tergeletak di lantai, misalnya, sekalipun tahu tidak segera diambil untuk disimpan pada tempatnya. Nah, ketika buku itu diambil oleh adiknya yang masih “belum nalar” dan dibuat main-main, kakaknya (yang kurang dapat menghargai tersebut) lantas marah-marah.

Marah-marahnya itu boleh jadi akibat dari dirinya yang (memang) tidak memiliki sikap menghargai itu. Tidak menghargai bukunya. Tidak menghargai keadaan bahwa dirinya telah mengetahui bukunya tergelatak di lantai. Tidak menghargai jerih lelah orang tua. Bahkan, tidak terlalu berlebihan jika pada akhirnya saya katakan bahwa banyaknya orang dewasa yang saat ini tidak memiliki sikap menghargai itu akibat dari masa kecilnya yang memang sudah terbiasa hidup tidak menghargai. Karena dibiarkan, semakin lama perilaku menyimpang itu semakin mendarah daging. Sampai dewasa pun perilaku itu tetap bersemanyam dalam dirinya dan bukan mustahil malah bertumbuh subur. 

Sikap tidak menghargai ini tidak terkait dengan orang itu pandai atau tidak. Sebab, telah disinggung di awal tulisan ini sikap menghargai itu lebih dekat dengan hati nurani. Karenanya, banyak orang pintar yang ternyata menjalani hidupnya bergelimang dengan sikap tidak menghargi. Bahkan, tidak menghargai dirinya sendiri, contohnya para koruptor itu. Anda percaya atau tidak jika para koruptor, yang sejatinya orang-orang pintar itu, tidak menghargai hidupnya sendiri? Bukankah mereka mengotori dirinya sendiri dengan berperilaku amoral? Jumlahnya di negeri ini bejibun, hingga tak bisa dihitung dan sulit ditangani karena tampaknya telah membentuk “bangunan” yang begitu kokoh, satu dengan yang lain saling berkait-kaitan. Maksudnya ialah yang seharusnya menangani korupsi malah turut korupsi. Hayo, bagaimana kalau sudah begini?

Maka, penting bagi kita untuk memerhatikan anak-anak kita, yang menjadi generasi masa depan bangsa ini, agar mereka memiliki sikap menghargai. Agar ke depan dapat membawa gerak bangsa ini ke jalan yang benar. Membiasakan anak-anak kita sejak usia dini untuk menghargai apa yang mereka miliki, termasuk (misalnya) mainan mereka yang barangkali tak seberapa harganya, dengan demikian menjadi sebuah keniscayaan dalam keseharian mereka. Sebaliknya, membiarkan mereka berperilaku tidak menghargai sekalipun di mata kita itu perilaku yang (kita anggap) kurang penting rasanya tidak patut. Apalagi jika kita berpikir konyol, yaitu paling-paling nanti toh hilang dengan sendirinya oleh karena perilaku itu (kita anggap) kurang penting. Ini namanya menyerderhanakan persoalan. Sangat berbahaya. Sebab, bukankah hal-hal yang besar awalnya dari hal-hal yang kecil? Karena dibiarkan, yang awalnya kecil dan sederhana itu dapat semakin membesar dan menjadi bara, yang pada akhirnya sulit dipadamkan.

1 komentar:

  1. selain menanamkan, orang tua pun juga harus membiasakan, dan yang lebih penting juga harus mampu menjadi teladan.
    salam.

    BalasHapus

""