Selasa, 02 Agustus 2011

Mengenalkan Alam Sejak Usia Dini

Sekarang ini mau mengenalkan anak terhadap lingkungan alam begitu mudah. Bukan hanya alam yang dekat dengan tempat tinggal anak. Alam yang dekat dengan domisili anak umumnya telah akrab. Anak yang  hidup di daerah pegunungan setiap hari bergaul akrab dengan alam pegunungan. Mereka akan mudah mengenal berbagai jenis tumbuhan, hewan, dan sejenisnya yang hidup dan tumbuh, serta ada di pegunungan. Anak yang bertumbuh di daerah pantai setiap hari berhubungan dengan pantai, yang dengan demikian mereka begitu mudah mengenal jenis ikan, hewan, dan tumbuhan laut.

Namun, alam yang jauh dengan lingkungan anak dapat juga diperkenalkan. Anak yang hidup di daerah pantai, yang hanya mengenal jenis ikan, hewan, dan tumbuhan laut, bisa saja diperkenalkan dengan lingkungan alam pegunungan. Pengenalannya tidak hanya berupa cerita, tetapi alam yang ada di pegunungan dapat “didatangkan” di hadapan anak. Hanya, memang perlakuan itu dapat diwujudkan dengan memanfaatkan perangkat modern.

Kalau hanya mendatangkan gambar mati (tidak bergerak) sudah sejak lama dapat dilakukan. Guru-guru sudah memanfaatkan itu sebagai alat peraga dalam pembelajaran. Tetapi gambar mati itu tentu akan sangat membosankan anak. Mereka tidak mengetahui bagaimana misalnya ubur-ubur itu bergerak di air bagi anak yang hidup di pegunungan. Sebaliknya, anak yang hidup di daerah pantai tidak mengetahui bagaimana sebetulnya burung membangun sarangnya di dahan pohon kalau hanya memperlihatkan gambar mati kepada anak.

Adanya perangkat modern memudahkan anak mengenal lingkungan alam yang jauh dari tempat tinggalnya. Sasa, si bungsu, beberapa hari terakhir ini menyuruh saya atau kakaknya untuk memutarkan CD yang berisi tentang kehidupan anak daerah pantai dengan kecintaannya terhadap penyu. Sasa yang awalnya tidak mengenal penyu akhirnya mengenal penyu itu seperti apa. Bahkan, melalui CD itu, Sasa mengenal lebih jauh akan kehidupan penyu. Bagaimana penyu itu hidup, bertelur atau tidak, anak-anak penyu yang masih kecil itu rawan terhadap binatang laut lainnya atau tidak, bagaimana telur penyu itu menetas, dan sebagainya dan sebagainya.

Bahkan, karena barangkali saking tertariknya, hampir setiap hari entah pagi atau sore selalu menyuruh memutarkan. Sampai-sampai ia mengenal secara rinci urut-urutan tayangan itu. Sasa akhirnya mengerti kalau ubur-ubur itu hidup di air. Ditanya mengenai berapa jumlah telur setiap penyu itu bertelur, ia dapat menjawab dengan mudah bahwa jumlahnya banyak. Saya menyadari ia mengetahui jawaban itu dan benar hanya karena ia melihat tayangan dalam monitor komputer sebab hingga kini ia tidak pernah saya ajak berlibur ke pantai. Ia tahu penyu, ubur-ubur, elang laut, dan biawak sejak saat memutar CD itu. Sasa begitu tertarik karena tayangan dalam monitor itu seperti alam laut sebenarnya.

Sayang perangkat modern itu tidak semua keluarga mempunyai. Oleh karena itu, sekolah perlu memedulikan hal tersebut. Sebab, sekolah tentu lebih mudah mengadakan dengan cara mengajukan permintaan bantuan pada pemerintah, baik pusat maupun daerah. Apalagi jaringan listrik sekarang ini hampir dapat dipastikan telah menjangkau daerah-daerah. Barangkali setiap sekolah sejak di TK sekarang ini telah memiliki komputer yang jumlahnya tidak hanya satu. Bukankah perangkat itu dapat dimanfaatkan? Tinggal mengusahakan CD yang isinya berbagai-bagai materi, yang bukan mustahil mudah didapat dengan meminta bantuan pemerintah untuk mengadakan. Dengan demikian, anak-anak sejak usia dini telah mengenal alam lingkungan, baik yang berada dekat dengannya maupun yang jauh dengan biaya yang relatif terjangkau.

Saya yakin, dengan “menghadirkan” alam lingkungan sejak usia dini di hadapan anak-anak, pada diri mereka akan tumbuh rasa mencintai lingkungan. Mereka akan mudah bersahabat dengan alam, bukan (sebaliknya) menjadi musuh, yang senangnya hanya mengeksploitasi  lingkungan alam. Bukankah begitu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""