Selasa, 23 Agustus 2011

Menghargai Ikhtiar Anak

Kemarin siang saya meminta tolong kepada salah seorang siswa didik di sekolah sebelum pulang sekolah. Ia saya mintai tolong mencari anak sekolah (sesekolahnya) yang orang tuanya menjadi pelaku seni barongan. Karena kebetulan saja saya mendengar informasi dari temannya bahwa tempat tinggalnya agak dekat dengan orang yang bermain (pelaku) barongan. Barongan, yang boleh dibilang salah satu kesenian daerah itu, kini, memang jarang manggung. Beberapa tahun yang lalu sekalipun tidak setiap hari saya masih mendengar kelompok pelaku barongan berlatih. Namun, akhir-akhir ini sama sekali tidak mendengarnya.

Bahkan, di Agustusan kali ini, tidak juga saya dengar ada seni barongan manggung. Padahal, dulu, hampir dapat dipastikan setiap Agustusan, seni barongan itu ikut menyemarakkan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI. Itulah salah faktor yang mendorong saya (ingin) mencari informasi seni barongan. Yang, harapan saya (dalam pencarian itu) ditemukan  salah satu atau beberapa siswa didik saya ada yang orang tuanya sebagai pelaku seni barongan. Akan tetapi, harapan itu (agaknya) belum kesampaian.

Sebab, salah satu siswa didik, yang saya mintai tolong oleh karena pengakuannya teman ibunya ada yang menjadi pelaku barongan, baru beberapa menit berlalu sebelum catatan ini saya tulis, mengirim sms kepada saya yang bunyinya ia tidak sanggup mencarikan lagi. Karena tidak mudah baginya menemukan siswa didik yang orang tuanya menjadi pelaku seni barongan. Saya pikir karena sekolah kami (kata beberapa orang) dekat dengan paguyuban seni barongan, mudah dijumpai siswa didik (kami) yang orang tuanya menjadi pelaku seni barongan. Ternyata, hingga sms saya baca, bahkan sampai catatan ini saya tulis belum ada informasi menggembirakan.

Sebenarnya saya memesan siswa didik saya tidak menyuruh menyampaikan informasi malam ini. Apalagi lewat sms. Saya hanya berpesan agar besok paginya ketika bertemu di sekolah saya diberi informasi. Itu keinginan saya sehingga ia (seharusnya) tidak perlu repot meng-sms. Entah mengapa siswa didik saya itu memberi informasi lebih dulu dari waktu yang saya tawarkan. Barangkali (saja) ia memang ingin segera memberi laporan kenyataan (hasil) kerjanya itu. Ia menyadari bahwa sampai waktu yang ia tentukan toh tidak memperoleh “hasil” yang diharapkan.

Namun demikian, saya percaya ia telah menanyakannya lewat ibunya, yang diakuinya memiliki teman pelaku seni barongan. Bahkan, boleh jadi ia bersama ibunya sudah menemui teman kerja ibunya itu. Berikhtiar menanyakan apa yang saya inginkan. Kalau pada akhirnya tidak dapat menemukan seperti apa yang saya harapkan, itu baginya mungkin beban berat. Terbukti, ia segera meng-sms saya.

Ketika belum meng-sms, saya pastikan pikirannya kurang  -untuk menghindari penggunaan kata “tidak”-  nyaman. karena merasa memiliki tanggung jawab yang masih belum terselesaikan. Sementara itu waktu yang saya tawarkan kepadanya (hanya) sampai besoknya (hari ini). Jadi, tidak ada waktu lagi untuk mencarinya lebih jauh lagi. Karena itu, boleh jadi, daripada membuat kurang nyaman benaknya, ia segera meng-sms saya untuk (mungkin) mengurangi beban yang dirasa menekan.

Kesanggupan dimintai tolong, itu saja sudah baik. Karena bagaimanapun juga menyatakan sanggup berarti berani melakukan perbuatan. Ia berarti berani mempertaruhkan waktu, tenaga, dan pikirannya. Yang, bukan mustahil ia harus mengesampingkan kegiatannya sendiri. Mengendalikan keinginannya untuk sementara waktu. Sebaliknya, ia fokus terhadap “kesanggupannya”. Karenanya, saya pikir, muatan keberanian dan pengorbanannya itu memang perlu dihargai.

Apalagi ketulusannya dalam memberi laporan sekalipun tugasnya tidak tuntas. Ia katakan terus terang tidak sanggup (saya yakini) setelah melalui ikhtiar sungguh sungguh. Tentu ia telah memerhitungkan pula risiko apa yang akan dihadapi ketika menyampaikan laporan itu. Mungkin ia berpikir, akan kena marah atau paling tidak membuat seseorang (saya) kecewa. Kejujuran berkata apa adanya (sekalipun lewat sms) menandakan ia berjiwa besar. Tidak takut menghadapi kenyataan yang ada, seburuk apa pun. Bukankah ini sikap yang harus dihargai?

Apalagi jika kita mengingat bahwa keadaan di zaman sekarang banyak orang yang tidak mudah dimintai pertolongan. Karena sanggup memberi pertolongan berarti berani berkorban. Ini sikap yang (sudah) langka dijumpai di negeri ini. Demikian juga tidak gampang menemukan orang yang memiliki keberanian menanggung risiko. Apalagi jika risiko itu dipandang berat. Nyaris tak ada yang dijumpai. Kini, yang barangkali mudah dijumpai adalah orang “berlari”, lantas bersembunyi sejauh mungkin demi menghindari risiko (hukum) yang semestinya dihormati.

4 komentar:

  1. Meskipun masih anak-anak kalau saya mesti tetap harus dihargai apapun itu bentuk ihtiarnya karena bentuk penghargaan kita padanya akan terekam sampai mereka dewasa.

    BalasHapus
  2. @Amin

    Dengan begitu anak-anak kita akan dapat juga "menghargai" orang lain dalam keberadaan bagaimanapun orang lain tersebut, ya Pak.

    BalasHapus
  3. memang gag mudah buat memahami dan bisa dimengerti oleh para anak .. yg saiia liad dari keponakkan saiia sii.. orang tuanya justru gag seperti akangnya... :( sulit buat pihak luar kasih masukan atau apalah namanya karena.. kita emang orang luar... ikut campur ajje lu.. ntar gtu lagi katanya ;( hiks hiks hiks :(

    BalasHapus
  4. @Belajar Photoshop
    Padahal sekalipun pihak luar, sesungguhnya memiliki peran penting sebagai penyeimbang. hiks.

    BalasHapus

""