Jumat, 12 Agustus 2011

Menghargai Keterbukaan Sikap Anak

Beberapa hari yang lalu, di sekolah, saya mengambil sebuah tindakan tegas terhadap seorang siswa didik saya (baca: kami) karena kesalahannya. Kesalahan itu sudah berulang kali dilakukan padahal sejak awal dia masuk sekolah peraturan sekolah telah disosialisasikan. Dia melakukan kesalahan dalam hal mengenakan kaus kaki. Sekalipun tempatnya di bawah, bukan berarti kaus kaki itu dipakai semaunya. Ada aturan yang harus ditepati ketika mengenakan kaus kaki.

Bahkan, aturan itu sebenarnya telah melekat langsung di desain kaus kaki (sendiri). Bentuk kaus kaki telah dibuat sedemikian rupa untuk dipakaikan di kaki. Sekalipun ada logonya, misalnya, letak logo itu pun telah diatur sedemikian rupa sehingga ketika dipakai tetap akan kelihatan “cantik”. Umumnya logo di kaus kaki letaknya berada persis di atas mata kaki ketika kaus kaki itu dikenakan secara wajar. Jadi, sekalipun sekolah tidak membuat aturan memakai kaus kaki, kita (termasuk siswa didik) seharusnya mengenakannya sesuai dengan aturan yang telah melekat langsung di desain kaus kaki itu.

Akan tetapi, desain kaus kaki yang telah dibuat sesuai dengan bentuk kaki kita (juga kaki siswa didik) bahkan telah dibuatkan juga aturan (dalam wujud tata tertib sekolah), masih ada siswa didik yang mengenakan kaus kaki secara tidak wajar. Logo di kaus kaki yang seharusnya berada di atas mata kaki disembunyikan di dalam sepatu. Konsekuensinya kaus kaki itu harus ditarik ujungnya hingga tersisa panjang dan sisanya itu dilipat lalu diinjak di dalam sepatu. Dengan demikian, desain kaus kaki, yang di antaranya telah disediakan tempat bersarangnya tumit, tempat itu tidak berguna. Karena tumit akhirnya “membuat” tempat bersarangnya sendiri pada bagian lain. Kaus kaki akhirnya tidak lagi terdesain rapi alias rusak.

Seorang siswa didik kami yang saya kenai tindakan tegas itu ya karena ia tidak wajar mengenakan kaus kaki. Pelanggaran itu telah dilakukan berkali-kali. Kali yang pertama, saya ingatkan dan sekaligus menganjurkannya untuk mengenakan kaus kaki itu secara wajar. Akan tetapi, sepertinya peringatan dan anjuran itu tidak menjadikan ia lebih baik. Kesalahan serupa terjadi lagi. Pada kesalahan yang berikutnya itu saya memintanya mencopot sepatu dan kaus kakinya untuk sementara ditinggal di ruang guru. Sekolah kami memang belum memiliki ruang khusus penyimpanan barang-barang siswa didik yang tersita sementara karena adanya pelanggaran. Jadinya ruang guru juga kami pakai untuk menyimpan barang-barang “sitaan” itu.

Kalau baru sekali terkena sanksi mencopot sepatu dan kaus kaki karena pelanggaran, siswa didik yang melanggar diizinkan mengambil “miliknya” itu sehabis jam sekolah. Jadi, selama proses pembelajaran berlangsung siswa didik yang bersangkutan tidak mengenakan sepatu. Secara psikologis tindakan tegas semacam itu memang menjatuhkan mental anak. Kami sadar akan hal itu. Tetapi, kami menyadari pula bahwa tindakan itu masih wajar untuk kami lakukan demi tanggung jawab, etika, sikap, dan perbuatan siswa didik lebih baik. Nyatanya ketika tindakan semacam itu dilakukan, ada penyurutan pelanggaran yang serupa terjadi pada siswa didik tersebut atau yang lain. Jadi, ternyata tindakan semacam itu dapat juga menimbulkan efek jera bagi siswa didik secara keseluruhan.

Sebetulnya ketika siswa didik tersebut saya minta untuk meletakkan sepatu dan kaus kakinya di ruang guru, saya tidak menganjurkannya untuk menghubungi orang tua/wali di rumah. Akan tetapi, entah karena apa, beberapa menit kemudian saat saya mengajar pihak kelurga ada yang datang ke sekolah dan hendak menemui saya. Yang datang ke sekolah adalah kakek siswa didik kami itu dan kebetulan saya mengenalnya. Sehabis mengajar, saya menjumpainya di lobi sekolah. Dia tidak mengetahui persis ada persoalan apa sehingga cucunya, yang notabene siswa didik kami, itu menghubunginya lewat sms agar hadir di sekolah menemui saya. Saya menceritakan sesungguhnya apa yang terjadi hingga tindakan tegas saya menyita sementara sepatu dan kaus kakinya. Kakek itu mendengarkan dengan beberapa kali menyampaikan komentar positif.

Hal yang bagi saya menggembirakan adalah bukan karena sang kakek tadi berkomentar positif, tetapi tindakan cucunya yang sungguh terbuka itu. Terbuka menyampaikan yang terjadi atas dirinya kepada kakeknya. Sekalipun saya yakin bahwa siswa didik kami itu tidak menceritakan seutuhnya lewat sms. Itu tidak mungkin, mengingat waktu dan panjangnya cerita. Tetapi, menyampaikan bahwa dirinya di sekolah ada persoalan, itu sebuah tindakan yang perlu dihargai. Karena tidak semua anak berani menghadapi risiko, misalnya, kena marah kakek atau orang tua atas kesalahannya itu. Sikap keterbukaan dan kejujuran inilah yang harus dipupuk.

Tidak sedikit siswa didik yang melakukan pelanggaran serupa, namun tidak mengkomunikasikan kepada orang tua/wali. Ia takut mengahadapi risiko. Berani berbuat, tetapi kurang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia bersikap tertutup dan karenanya tidak ada kejujuran. Bahkan bukan mustahil ada yang justru sengaja mengabaikannya, siapa tahu oleh karena guru memiliki banyak urusan (maksudnya tidak hanya mengurus satu-dua anak saja) akhirnya persoalan yang sedang ditangani terlupakan. Jadi akhirnya seolah-olah urusan (persoalan) yang ada beres.

Bagaimanapun juga dalam sikap keterbukaan dan kejujuran termuat rasa tanggung jawab. Siswa didik kami (yang sms kepada kakeknya) itu berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Ia tidak melepaskan tanggung jawab yang memang harus ditanggungnya. Berani berbuat berani mempertanggungjawabkan. Itu yang menggembirakan saya. Karena saya yakin benar jika sikap-sikap semacam itu terus dipupuk akan membawa anak ke arah hidup yang lebih baik. Karenanya,  tidak ada ruginya jika pengalaman semacam ini disaksikan kepada banyak anak khususnya dan orang dewasa pada umumnya. Apalagi sikap terbuka semacam itu kini begitu sulit dijumpai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""