Sabtu, 06 Agustus 2011

Menyikapi si Kecil yang Suka Manja

Barangkali setiap kita, orang tua, ketika ditanya apakah memanjakan anak atau tidak, pasti jawabnya tidak. Alasannya, pertama, malu jika menjawab ya. Dikira sebagai orang tua yang tidak mengerti mendidik anak. Dinilai sebagai orang tua yang ketinggalan zaman. Dilabeli sebagai orang tua yang tidak mau mengikuti perkembangan ilmu pengetauan yang ada. Jadi, sekalipun kesehariannya memanjakan anak, tetap ia menjawab tidak.

Kedua, karena orang tua menyadarai bahwa memanjakan anak berdampak buruk. Tidak hanya berdampak pada anak tetapi juga orang tua, bahkan orang lain sekalipun tidak memiliki hubungan kekerabatan. Anak akan selalu menjadi orang yang menggantungkan kepada orang lain. Kalau masih berkumpul dengan orang tua, orang tualah yang merasa repot. Namun itu hanya dirasakan bagi orang tua yang tidak suka memanjakan anak. Bagi orang tua yang senang memanjakan anak, tak ada kamus repot padanya sekalipun anak sungguh merepotkannya.

Tipe orang tua yang begini tetap akan menikmati tindakannya itu dengan senang hati. Karena barangkali berpikir, melalui tindakannya itu akan meringankan beban anak. Anak tidak repot-repot. Tinggal menerima enaknya. Dengan begitu anak (kesayangan) dapat menikmati dengan sepuas-puasnya tanpa harus berbuat sesuatu. Saya masih mendengar ada orang tua yang menyuapi anaknya sekalipun anaknya itu sudah SMA. Ada juga anak yang telah kuliah di luar daerah ketika berkumpul bersama orang tuanya masih minta tidur bersama. Ini terdengar aneh, tetapi nyata. Apakah itu termasuk Anda? Semoga saja tidak.

Sebab, sering anak, sekalipun masih kecil, suka memanfaatkan situasi-situasi tertentu untuk “memperdaya” (maksudnya merayu) orang tuanya. Maksudnya ia malas melakukan sesuatu untuk kepentingannya sendiri, namun meminta pertolongan kepada orang tuanya. Padahal sejatinya ia dapat melakukan sendiri. Saya sering direngeki si bungsu (3,7 tahun) untuk mengambilkan ini mengambilkan itu. Padahal saya tahu sebetulnya ia mampu melakukan sendiri. Seperti ketika ia sedang duduk di kursi melihat kartun di tv, tiba-tiba (merengek) menyuruh saya mengambilkan roti di meja yang jaraknya hanya beberapa langkah. Karenanya, rengekan itu sering tidak saya penuhi. Saya justru mengalihkan pada perihal lain (biasanya ke perbuatan/kata-kata yang lucu) agar perhatiannya berubah namun tetap merasa senang. Apa yang saya lakukan itu sering berhasil sehingga si kecil lalai akan kemanjaannya. Bahkan berubah menjadi akrab karena kelucuan itu sering diminta untuk diulang-ulang. Risikonya memang kita lelah. Namun ada kegembiraan. Karena dengan begitu sikap manja anak (suka menyuruh-suruh) menghilang dari pikirannya.  

Menolak keinginan anak secara langsung memang dapat menyakitkan hati mereka. Bahkan dalam waktu seketika mereka dapat bersikap membenci kita.  Si bungsu pernah mengalami itu. Suatu saat ia meminta saya mengambilkan sesuatu. Namun permintaan itu saya kembalikan kepadanya untuk mengambil sendiri karena saya pandang ia dapat melakukannya. Ia malah marah-marah dan langsung membenci saya. Saya menyadari salah dalam hal ini. Saya semestinya mencari jalan terbaik untuk si bungsu agar tidak marah-marah dan membenci saya. Melucu lewat kata-kata dan perbuatan ternyata mampu membangun suasana hati si bungsu tetap ceria sekalipun keinginannya tidak kesampaian.  

Sebab, ketika sekali (saja) anak berhasil “memperdaya” (maksudnya merayu) orang tua, bukan mustahil selanjutnya akan melakukan tindakan yang sama. Memanfaatkan kelemahan orang tua untuk selalu mau melayaninya. Sedikit-sedikit minta tolong. Ambilkan ini ambilkan itu. Kalau tidak segera diladeni merengek-rengek. Bahkan jika sudah terbiasa, dan orang tua belum sempat memenuhi karena ada kesibukan lain, menangis dan marah pun jadi.  

Disadari atau tidak, perilaku anak yang demikian itu sebenarnya hasil “belajar” mereka dari sikap orang tua yang barangkali terlena akan didikan yang benar. Orang tua membuka peluang bagi anak untuk bersikap manja. Tidak tega jika melihat anak sedikit mengalami kesulitan. Dengan alasan kasihan sering orang tua melakukan sekalipun mengetahui sejatinya anak mampu melakukan sendiri.

Saya yakin tak ada satu pun orang tua yang merasa senang memiliki anak manja. Bahkan (sekalipun) termasuk orang tua yang (disadari atau tidak) terbiasa memanjakan anak dalam kesehariannya di waktu kecil. Mereka toh pada akhirnya tak ingin anaknya menjadi anak manja, apalagi kemanjaannya itu hingga dewasa. Yang diinginkan orang tua pada akhirnya anaknya menjadi anak yang mandiri bukan? Karena itu, menyikapi secara baik perilaku si kecil yang bermuatan kemanjaaan begitu penting.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""