Sabtu, 13 Agustus 2011

Nak, Keinginan Itu Harus Diungkapkan

Kemarin sore, ketika kegiatan ekstra teater di sekolah berakhir, saya tinggal sebentar di sekolah karena ada beberapa anak yang belum mau beranjak pulang. Barangkali karena masih pukul 17.00 WIB, pikir mereka lebih baik di sekolah dulu hotspot-an sembari menanti waktu berbuka puasa. Memang di beberapa tempat di sekolah kami ada area free hotspot selama 24 jam. Di antara mereka ada yang mantan siswa didik. Sekarang mereka sudah SMA. Ada yang di SMA ini, ada yang SMA itu. Saya sangat senang siangnya di-sms oleh salah satu dari mereka. Yaitu,  mereka ingin berkunjung ke Teater Jasmine (teater siswa SMP 1 Jati, Kudus) ketika sedang ada latihan. Dituliskannya dalam sms itu bahwa mereka hendak temu kangen dengan anggota Teater Jasmine. Saya sangat membuka diri bahkan berterima kasih kepada mereka hendak datang ke sekolah.


Saya tahu kedua anak ini memang sungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan teater di sekolah ketika masih menjadi siswa didik saya (baca; kami). Bahkan, di SMA-nya pun mereka mengatakan mengikuti ekstra yang sama. Salah satu di antara mereka ada yang tiba-tiba mendekat kepada saya. Padahal sebenarnya ketika itu saya hendak berpamitan dulu untuk pulang. Tetapi, olehnya saya dicegah pulang. Ia ingin menyampaikan sesuatu kepada saya. Kami berdua akhirnya duduk di kursi yang bersebelahan. Ia mulai bercerita. Saya mendengarkan dengan saksama.

Begini. Oleh karena ia memiliki “keinginan”  terkait dengan bakat dan minatnya yang belum terjawab di sekolah baru (SMA), ia menuliskan “keinginan” itu dalam status facebooknya, seperti yang banyak dilakukan anak-anak di status facebook mereka ketika mereka sedang memiliki sesuatu yang dipikirkan. Facebook, yang adalah salah satu jejaring sosial itu, memang menawarkan kepada setiap facebooker boleh saling mengetahui “tulisan” di status masing-masing asal telah terjalin “pertemanan”. Siswa didik saya yang telah menjalin hubungan “pertemanan” dengan saya, misalnya, “keinginannya”, “keluhannya”, atau sekadar ungkapan apalah itu namanya sering nongol dan saya mesti membacanya. Lucu-lucu dan kadang membuat saya menduga-duga akan pikiran dan perasaan mereka itu.

“Keinginan” mantan siswa didik saya yang mengungkapkan isi hatinya (curhat) kepada saya itu, katanya, terbaca oleh temannya yang bersekolah di SMA lain. “Keinginan” yang dituliskan di status itu dikomentari. Hanya, katanya (lagi), komentarnya itu kurang mengenakkan hati. Karena komentar itu sangat tendesius, menurutnya. Maksudnya, tulisan di statusnya yang berupa ungkapan “keinginan” karena ada satu harapannya yang belum kesampaian itu, oleh temannya tersebut dikomentari bahwa ia “bersikap seperti peminta-minta”. Memang setiap peminta-minta yang mengingini sedekah selalu mengungkapkan isi hati dan pikirannya kepada setiap orang yang dijumpai. Apakah meminta uang atau yang lain ia ungkapkan secara terus terang. Tetapi, dalam konteks seperti yang mantan siswa didik saya lakukan, itu tentu berbeda dengan keberadaan pengemis.

Kalau pengemis tanpa memiliki modal, mantan siswa didik saya itu memiliki modal untuk dapat bergabung di salah satu kegiatan di sekolah barunya. Barangkali sekolah barunya itu (memang) belum mengerti jika sejatinya ia memiliki bakat dan minat di bidang tertentu yang dapat dikembangkan, yang sekaligus dapat menjadi aset sekolah. Wajar jika pada akhirnya “keinginan” yang belum kesampaian itu kemudian, seperti anak-anak lain pada umumnya, dituliskannya pada status facebook. Bukankah akhir-akhir ini facebook masih menjadi tren di masyarakat, lebih-lebih di kaum remaja-mudanya?.

Tentu saja sejak awal menuliskan status itu tidak ada niatan untuk meminta-minta  -untuk menghindari pemakaian kata "mengemis-ngemis"-  agar dapat bergabung dengan salah satu kegiatan yang ada di sekolah barunya itu. Paling hanya sekadar mengungkapkan isi hati. Itu saja. Dan, saya pikir untuk bergabung dalam kegiatan sekolah sangat mudah. Begitu mengatakan turut bergabung, tentu akan diizinkan oleh yang mengkoordinasi. Kalau pun ketika hendak bergabung harus dites dulu, saya yakin tes itu tidak menjadi ukuran mutlak (boleh bergabung atau tidak), Dan juga tes itu tentu tidak sulit untuk dikerjakan karena bukankah mereka (anak-anak) yang ingin bergabung itu memang telah berbakat dan berminat dalam kegiatan dimaksud?

Kalau pengemis pasif, mantan siswa didik saya itu aktif. Apalagi ketika sudah bergabung dalam satu kegiatan sekolah yang diminatinya, ia saya pastikan aktif berkegiatan. Ada keinginan mengembangkan potensi dirirnya. Sehingga usaha tentu menjadi hal yang pasti penting ia lakukan. Ia tidak akan diam saja ketika sudah bergabung. Apalagi memiliki teman-teman yang seminat dan sebakat, saya pastikan semangat untuk mengembangkan potensi dirinya akan semakin dipacu. Bukankah secara kolektif dimungkinkan lebih memunculkan “energi” yang dahsyat untuk memacu potensi ketimbang sendirian?

Kalau setiap mengungkapkan”keinginan” (lewat media apa pun) selalu dianalogikan serupa sikap yang dimiliki pengemis, maka barangkali di negeri ini banyak pengemis. Anak-anak yang berkeinginan (bisa) diterima di sekolah pilihan dan pelamar pekerjaan  di kantor-kantor dengan cara mendaftar dan menyerahkan banyak persyaratan,  saya pikir tidak jauh berbeda dengan mantan siswa didik saya tadi. Mereka sama-sama memiliki “keinginan” dan berharap “keinginan” itu terkabul. Hanya, memang, anak-anak, para pelamar pekerjaan, dan mantan siswa didik saya, itu bersikap aktif; sedangkan pengemis, (sekali lagi) pasif.

Lagian, sebuah kesuksesan itu tentu dicapai melalui proses yang tidak mudah. Bakat dan minat yang terpendam harus diungkapkan agar dapat berkembang. Tidak mungkin bakat dan minat yang terpendam yang dibiarkan begitu saja, tiba-tiba dapat bertumbuh. Jadi, perlu ada ikhtiar, yang bukan mustahil atas ikhtiar itu ada banyak pihak yang mencemooh. Itu hal yang biasa. Oleh karenanya, ketika kita sudah mengambil keputusan untuk diri kita, sekalipun anjing menggonggong-gonggong, kafilah tetap saja berlalu. Artinya, semua omongan orang yang bertendensi menghambat pertumbuhan (potensi), kita anggap saja sebagai bumbu-bumbu yang membuat kualitas proses pencapain “keinginan” semakin hebat. Begitu kira-kira, Nak.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""