Sabtu, 27 Agustus 2011

Nggowes yang Menyenangkan

Pagi tadi, saya nggowes (bersepeda) mengambil arah ke Kecamatan Gebog, Kudus, Jawa Tengah. Dari tempat tinggal saya menuju ke arah itu lebih banyak melewati jalan yang menanjak. Menanjaknya memang tidak seberapa karena saya tidak sampai pada ujung utara Kecamatan Gebog, yang berada persis di kaki Gunung Muria. Sekalipun begitu, saya merasakan berat saat mengayuh sepeda. Hanya, karena waktu masih relatif pagi, saya masih kuat mengayuhnya. Pelan-pelan memang. Tetapi justru karena pelan-pelan itu, saya akhirnya dapat memandang dengan saksama keadaan sekeliling yang saya lewati.

Ada banyak rumah penduduk yang beragam bangunannya. Maksudnya, ada rumah yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisi, ada yang sudah bergaya modern, pun ada yang kombinasi. Usaha-usaha toko/warung banyak berjajar di pinggir jalan. Beberapa sudah ada buka. Pada bagian lain dapat ditemui lahan perkebunan. Terlihat ada tanaman jagung yang sudah mulai berbuah. Ketela pohong yang sudah besar-besar batangnya, yang berarti telah berisi. Dan beberapa tanaman lain, usaha pertanian rakyat kecil.

Sepanjang jalan yang saya lewati sudah ramai, pagi itu. Apalagi di samping kiri-kanan di beberapa lokasi sepanjang jalan itu ada bangunan pabrik, terutama pabrik rokok, belum libur. Banyak buruh pabrik rokok yang berlalu lalang di sepanjang jalan itu. Mengendarai motor dan menaiki sepeda. Laki-laki dan perempuan. Selain itu, karena jalan itu termasuk jalan utama, banyak kendaraan baik umum maupun pribadi yang melewatinya. Jadi, sebetulnya, udara sudah tidak bersih lagi. Karena banyak asap motor yang memenuhi udara di sepanjang jalan itu.

Namun demikian, saya masih dapat “menikmati” kegiatan bersepeda itu. Sekalipun sendirian, saya merasa senang. Karena (terbukti) dapat menyegarkan pikiran dan benak. Kesuntukan yang membelit pikiran dan perasaan dapat terpulihkan. Segar kembali. Dan kondisi demikian, disadari atau tidak, mendorong aktivitas fisik dan pikiran lebih aktif, baik terkait dengan diri sendiri maupun orang lain.

Saya harus mengakui, bersepeda bersama-sama lebih menyenangkan ketimbang sendirian. Sehari sebelumnya, saya membuktikan itu. Waktu itu, pagi-pagi, saya sudah berencana bersepeda sendiri. Tetapi, ketika maksud itu saya sampaikan kepada si sulung, ia berhasrat ikut. Bahkan, ia menyampaikan kepada saya ingin meng-sms beberapa temannya agar turut. Benar, dalam hitungan menit, beberapa temannya membalas sms, hendak ikut. Teman-teman si sulung adalah siswa didik saya di sekolah. Saya senang anak-anak ikut bersepeda. Kami janjian berkumpul di rumah salah satu teman si sulung, yang diperkirakan berada di tengah-tengah. Tidak terlalu jauh dari barat-timur dan utara-selatan.

Dalam hitungan menit, kami sudah berkumpul. Tidak banyak memang. Karena kegiatan itu sangat mendadak adanya. Tidak ada rencana sebelumnya. Begitu spontan. Ada sembilan orang termasuk saya. Delapan anak, termasuk si sulung, adalah siswa didik saya. Kami mulai bergerak. Saya berada di depan. Anak-anak mengikuti dari belakang. Berbaris rapi dua-dua. Mengayuh pelan-pelan menyusuri jalan mengarah ke utara. Sebab, ke arah utara lebih mudah mendapatkan panorama alam dan udara segar. Daerah kami, sisi utara, yang mendekati Gunung Muria, memang masih (lumayan) asri.

Saya membaca raut muka dan pembicaraan mereka, tersirat rasa gembira. Sekalipun jarak yang kami tempuh relatif jauh, mereka tetap bersemangat. Sekalipun di antara kami ada yang berpuasa, keceriaan itu tetap terlihat. Terlihat di sepanjang jalan ketika kami mengayuh sepeda dan di tempat kami berhenti sementara. Bahkan, ketika kami berhenti sementara itu, keakraban sangat terasa. Saya turut merasakan keakraban itu.

Yang menarik bagi saya sejatinya, keinginan mereka untuk membentuk komunitas bersepeda. Uneg-uneg itu terlontar di tempat ketika kami berhenti sementara. Saya sangat merespon keinginan anak-anak tersebut. Bahkan, sebenarnya jauh-jauh hari saya sudah berkeinginan untuk membentuk komunitas gowes di sekolah, yang anggotanya (tentu) mayoritas siswa didik. Ya semoga gerakan kedelapan anak-anak ini menjadi embrio terbentuknya komunitas gowes di Sajaku (Satu Jati Kudus).

Saya dan banyak orang pasti merasa senang jika komunitas itu terbentuk. Sebab, di samping komunitas itu dapat menjalin keakraban antaranggota, juga (saya pikir) mengampanyekan sehat badan dan lingkungan lewat bersepeda. Karena dengan begitu, bukan bermaksud memrovokasi masyarakat untuk tidak membeli kendaraan bermotor, kontribusi karbondioksida terkurangi. Dan yang pasti, nggowes semakin menyenangkan.

3 komentar:

  1. wah fotonya kok gak ada pak

    BalasHapus
  2. Wah, saya nggak punya tostel, Pak. Ketika itu saya sih bawa hp, tapi hp saya juga kuno sehingga tak dapat untuk mengabadikan apa yang saya lihat. Maaf, Pak. Malu saya.....

    BalasHapus
  3. sayang sekali moment indah itu tidak terekam dengan kamera. kelak bisa buat kenang-kenangan dan bukti bahwa bapak dan anak2 didiknya pernah melakukan kegiatan bersama untuk mengikat tali silaturahim.

    BalasHapus

""