Selasa, 09 Agustus 2011

Pemenuhan Kebutuhan Anak Didik, Mutlak

Anak didik kita sejatinya masih sangat membutuhkan banyak bantuan untuk bisa terus mengembangkan potensinya. Bantuan yang dibutuhkan tidak hanya sebatas bantuan motivasi (moral), tetapi yang kini justru dibutuhkan lebih banyak lagi bagi mereka adalah bantuan material. Buku-buku anak didik kita, misalnya, perlu selalu diperbarui. Sebab, bukankah ilmu pengetahuan selalu berubah seirama dengan perkembangan zaman? Buku yang telah dipakai selama lima tahun seharusnya diganti dengan buku terbitan baru. Yang, diasumsikan buku-buku itu memuat pengetahuan termutakhir.

Dengan begitu anak didik kita dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Buku-buku itu akan merangsang potensi anak didik untuk dapat (terus) berkembang. Bahkan sangat menginspirasi anak didik karena yang dijumpai dalam buku senantiasa ada (hal) yang baru. Bukan mustahil pada akhirnya anak didik kita dapat tertantang untuk berkreasi dan berinovasi.

Sebaliknya jika buku yang dipakai anak didik kita selalu itu-itu saja, katakanlah selama lima generasi hanya menggunakan buku yang sama, maka dapat dipastikan anak didik kita akan ketinggalan banyak pengetahuan. Mereka tidak dapat mengejar kemajuan. Pikiran-pikiran mereka tidak terangsang untuk maju. Bahkan dapat menjadi tumpul oleh karena mereka bosan dengan buku yang dihadapi karena boleh jadi mereka telah membaca isi buku tersebut.

Untuk pengadaan buku dan sarana lain (olahraga, kesenian, dan keterampilan) anak didik sejatinya telah disediakan oleh pemerintah lewat dana BOS, misalnya. Hanya kalau kita mau jujur, sejujur-jujurnya karena demi kemajuan anak-anak negeri ini, dana BOS tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, katakan untuk membeli buku anak didik, secara maksimal. Sebab, pembelian buku dengan dana BOS harus digilir. Misalnya, tahun ini untuk membeli buku mata pelajaran (mapel) itu, tahun berikutnya untuk mapel ini.  Apalagi jika ada “buku proyek” yang harus dibeli oleh sekolah sekalipun sekolah tersebut sebenarnya tidak memerlukan. Oleh karena “buku proyek” mau tidak mau sekolah harus membeli dan tidak kuasa menolak.

Di samping itu, dana BOS peruntukannya tidak hanya untuk pengadaan buku dan sarana lain seperti telah disinggung di atas. Ada kepentingan-kepentingan lain yang harus dikeluarkan oleh sekolah demi keberlangsungan hidup sekolah setiap harinya. Dengan demikian, praktis dana BOS tak mencukupi kebutuhan buku dan sarana lain anak didik apalagi keharusan untuk meng-upgrade-nya setiap kurun waktu tertentu. Jika kenyataan ini terus dibiarkan terjadi, kita tidak dapat berharap banyak akan potensi anak didik kita tergali dengan baik. Anak didik kita akan sulit menghadapi dunia global yang semakin kompetitif.

Maka, harus ada paradigma pembangunan yang diubah orientasinya. Sekarang ini jika kita mau jujur banyak dijumpai mega proyek yang melibatkan para elite, baik di pusat maupun daerah. Akan tetapi, mega proyek itu lebih berorientasi pada ekonomi bisnis. Pembangunan-pembangunan yang memberikan keuntungan (finansial) secara langsung. Misalnya, pembangunan pusat-pusat bisnis, apartemen dan kantor dewan, dan “bongkar-pasang” sarana infrastruktur dan suprastruktur lain, yang semuanya itu menelan biaya yang tidak sedikit. Biaya yang digunakan saya yakini jauh lebih mahal daripada biaya untuk pembangunan bidang manusia  –sumber daya manusia (SDM), yakni anak-anak negeri ini.

Pemenuhan kebutuhan anak-anak negeri, yang tidak lain adalah anak didik kita, semestinya jauh lebih diperhatikan. Orientasi pembangunan ke arah ini yang harus menjadi prioritas pemerintah, baik pusat maupun daerah. Sebab, pembangunan manusia (mental, spiritual, dan intelektual) akan sangat menopang “keberanian” bangsa dan negara dalam kancah percaturan global. Mencetak generasi muda bangsa yang berkarakter, dengan demikian, tidak dapat diabaikan (hanya) oleh karena lebih mementingkan pembangunan fisik yang (maaf!) kurang jelas peruntukannya.

2 komentar:

  1. Memang tidak hanya guru saja yang harus memberikan pemenuhan kebutuhan anak didik ya pak, melainkan harus juga orang tua sendiri, mungkin itu yang lebih utama.

    BalasHapus

""