Sabtu, 20 Agustus 2011

Penghargaan yang Mendidik bagi Anak

Kerja keras anak-anak yang dapat menelurkan hasil baik memang harus dihargai. Hanya, penghargaan yang kita berikan harus bersifat mendidik. Penghargaan yang bersifat mendidik sangat penting diterapkan pada diri anak-anak kita sekarang. Mengingat kita semua tahu bahwa sekarang ada kecenderungan orang lebih mengutamakan materi. Sedikit-sedikit dikaitkan dengan materi. Beraktivitas apa pun boleh jadi ujung-ujungnya selalu materi.

Terkait dengan aktivitas anak-anak di sekolah agaknya kurang mendidik kalau misalnya membiasakan memberi penghargaan berupa materi (apalagi uang) kepada anak-anak sekalipun usai memenangkan lomba. Berbagai lomba memang di antaranya menyediakan uang pembinaan. Tetapi, akan sangat bernilai mendidik jika anak-anak kita pahamkan bahwa motivasi utama dalam mengikuti lomba  bukan karena hadiahnya bernilai ratusan ribu atau jutaan rupiah itu. Anak-anak perlu dipahamkan bahwa sejatinya mengikuti lomba berorientasi mengasah potensi yang telah dimiliki. Dengan begitu potensi yang dimiliki semakin berkualitas. Dan, di samping itu, membangun sosialisasi dengan orang lain. Karena melalui bersosialisasi itu bukan mustahil diperoleh banyak pengalaman.  Yang, diakui atau tidak. itu akan sangat memperkaya wawasan anak didik.

Kecenderungan gaya hidup yang telah merebak di masyarakat, yang senantiasa memuja materi, perlu kita hindarkan dari anak-anak. Sekalipun kita (orang tua) tidak pernah mengajarkan gaya hidup seperti kebanyakan masyarakat masa kini, anak-anak kita, sedikit banyak, telah mengetahui sendiri. Bukankah anak-anak kita telah melihat dengan mata mereka sendiri, baik langsung maupun lewat media publik? Dan, biasanya lewat jalur demikian lebih mudah terserap dalam diri anak-anak. Apalagi anak dapat menjumpainya hampir di setiap kesempatan dan tempat. Begitu seringnya dijumpai sehingga cepat memengaruhi gaya hidup anak.

Maka jangan heran jika kini begitu sulitnya kita menjumpai anak yang tulus mau melakukan sesuatu untuk orang lain. Coba saja meminta tolong anak-anak dengan iming-iming imbalan, dapat dipastkan mereka menerima. Bahkan, andai mengetahui kalau imbalannya uang, bukan mustahil mereka berebut. Sekalipun awal-awalnya hanya satu dua anak, itu pun dengan rasa malu-malu, tetapi berikutnya Anda akan kewalahan untuk menolak saking banyaknya. Sebaliknya, meminta tolong tanpa imbalan boleh jadi mereka menolak alias tidak mau.

Akan tetapi, siswa didik yang dimintai tolong oleh gurunya masih mau. Sekalipun bukan mustahil ada juga siswa didik yang begitu tahu dimintai tolong, dari jauh berusaha menghindar. Barangkali kalau Anda seorang guru suatu ketika menjumpai hal serupa itu. Atau bahkan sudah sering menjumpai. Tidak perlu heran, karena mereka, siswa didik, itu sekalipun selalu kita bimbing hidup peduli, agaknya pengalaman dari luaran lebih banyak mewarnai sikap mereka.

Karenanya, sekolah akan lebih mendidik apabila memberi penghargaan kepada siswa didiknya yang menang lomba, misalnya, (sekali lagi) tidak dengan uang.  Sebab, saya melihat akhir-akhir ini ada gejala banyak sekolah memberikan uang sebagai penghargaan kepada siswa didik yang menang lomba atau berhasil dalam mengikuti kegiatan mewakili sekolah. Kalau uang pembinaan karena hasil lomba, itu memang diserahkan kepada siswa didik. Tetapi toh demikian perlu dipahamkan bahwa (sekali lagi) itu bukan orientasi yang utama. Sebab, kalau hal itu tidak dipahamkan kepada siswa didik secara benar boleh jadi akhirnya (malah) menjadi kiblat mereka. Artinya, lama-kelamaan hanya mengejar materi (uang) saat mengikuti lomba atau kegiatan mewakili sekolah.

Jadi, memberi penghargaan kepada siswa didik yang berhasil, baik dalam mengikuti lomba maupun kegiatan mewakili sekolah, akan lebih bermanfaat jika terkait dengan sarana pendidikannya. Di antaranya misalnya memberi buku bacaan, buku tulis beserta alat lain dalam jumlah tertentu, tas sekolah, dan sepatu. Bahkan, yang pernah sekolah kami lakukan ketika yang menang lomba kelompok (basket, gerak jalan, tata upacara bendera, dan karnaval budaya), siswa didik yang turut ambil peran diajak makan bersama, entah di sekolah atau di rumah makan. Dalam acara begitu ternyata tampak keguyuban mereka. Nilai-nilai kebersamaan, kerukunan, kerja sama, simpati, dan empati secara tidak langsung tertanam pada diri mereka.  Yang akan juga kita jumpai dan yang selalu kita rindukan adalah keceriaan mereka muncul begitu bebas. Dan tentu jangan lupa memberi penghargaan yang bersifat verbal, misalnya, menyampaikan ucapan “terima kasih”, “anak-anak hebat”, “anak-anak adalah yang terbaik”.   

Saya berkeyakinan tindakan yang demikian itu akan mendidik anak lebih berkarakter. Anak-anak tidak mengutamakan nilai materi dalam (setiap) mengikuti kegiatan. Tetapi, mereka akan melihat nilai-nilai yang lebih bersifat nonmateri, misalnya, kerja keras, tanggung jawab, keberanian, kualitas, proses kerja, kebersamaan, rasa syukur, dan terus belajar.  Anda yakin?

2 komentar:

  1. Betul Pak, pembentukan karakter anak didik juga merupakan hal terpenting dalam proses pendidikan itu sendiri, tidak hanya mengerti secara kognitif, tapi dapat melanjutkan pemahaman pada ruang afektif dan psikomotorik ,,,,

    BalasHapus
  2. @Rubiyanto Sutrisno

    Dan dimensi itu yang sejatinya kini harus terus dikampanyekan tanpa pernah mengenal lelah, ya Pak.

    BalasHapus

""