Rabu, 03 Agustus 2011

Sesak

Kesesakan kini tak hanya dirasakan di dalam ruang. Kesesakan dapat dirasakan juga di luar ruang. Bahkan, di jalan-jalan umum. Kesesakan oleh karena kendaraan yang sekarang ini, sekalipun di kota kecil seperti di daerah tempat tinggal saya, sudah tak lagi dapat dihindari. Jalan-jalan penuh kendaraan, baik roda dua maupun empat.

Asap knalpot dapat membuat “tarik napas” sesak. Saya merasakan itu ketika mengikuti gerak jalan beberapa waktu lalu (dalam rangka memperingati HUT ke-66 Kemerdekaan RI) melewati jalan-jalan utama di Kudus. Sekalipun di jalan yang logikanya begitu bisa bebas dan ringan dalam menghirup udara, ternyata beratnya minta ampun. Di sepanjang jalan hampir-hampir saya gebres (batuk oleh karena lubang hidung terasa dimasuki sesuatu) terus gara-gara berat menghirup udara.

Sangat berbeda dengan situasi beberapa tahun lalu. Barangkali dua-tiga tahun lalu tidak seperti ini. Orang masih dengan bebas dan ringan menghirup udara di jalan-jalan yang sama (jalur gerak jalan yang kami lewati) pada siang hari. Udara masih menyegarkan lubang hidung. Masih mudah menemukan udara bebas dan segar berkeliaran, tanpa diganggu oleh asap motor.

Barangkali jika kita mau mengetes seberapa tebal asap motor yang masuk lewat lubang hidung kita, kita dapat menusukkan ujung jari kelingking ke lubang hidung itu, lalu melihatnya betapa hitam ujung kelingking kita itu. Yang, menandakan bahwa benar-benar asap motor menyumpal lubang hidung kita setiap kita lewat di jalan-jalan umum. Untung lubang hidung kita ditumbuhi rambut-rambut yang dapat berfungsi sebagai filter. Andai saja lubang hidung kita tidak berambut, waduh sudah berapa banyak debu asap yang masuk ke dalam tubuh kita, yang akhirnya dapat menyumpal operasionalnya organ-organ penting dalam tubuh. Yang, membuatnya cepat aus lantas tak lagi berfungsi, hingga mengantarkan ke game over. 

Untuk menghindari budaya hidup bermotor yang kini sedang ngetren rasanya sulit ditangani dengan cara melebarkan jalan-jalan umum. Sebab, jika jalannya dilebarkan justru akan merangsang munculnya banyak motor. Jalan yang lebarnya selalu tetap dari waktu ke waktu, yang memang tidak mungkin diperlebar lagi oleh karena domisili populasi penduduk tak mungkin digusur-gusur lagi, mengharuskan yang berwenang dan masyarakat mencari alternatif yang lebih menghargai (ramah) lingkungan.

Gejala sosial yang memperparah sesaknya jalan, yang berdampak pada sesaknya bernapas di antarnya adalah anak-anak yang semestinya belum boleh mengendarai motor telah “diizinkan” oleh orang tua atau lingkungan. Coba hitung berapa banyak anak yang mengendarai motor ketika pergi dan pulang sekolah? Begitu banyak bukan? Polisi yang bertugas menjaga ketertiban jalan seakan masuk perangkap dilematis. Mau dihentikan, anak-anak pasti terlambat sekolah. Tidak dihentikan, logika hukumnya mereka melanggar aturan. Ya, akhirnya polisi membiarkan begitu saja sekalipun ia tahu anak-anak itu masih memakai seragam putih biru. Bukankah itu namanya lingkungan akhirnya “mengizinkan” juga anak yang belum ber-SIM mengendarai motor? Belum lagi, orang-orang dewasa yang sekarang ini semakin banyak mengendarai motor sendiri-sendiri saat pergi dan pulang kerja (sekalipun jaraknya dekat) karena begitu mudahnya memperoleh motor.

Jika gejala sosial demikian ini dibiarkan terus berlanjut, bukan mustahil akhirnya anak tetap terlambat tiba di sekolah sekalipun mengendarai motor. Karena jalan-jalan semakin sesak oleh motor. Dan, sekali lagi, udara akan semakin miskin oksigen, yang membuat sesak napas semakin menjadi-jadi. Belum lagi dampak lain yang boleh saja terjadi jika sesak motor, misalnya kecelakaan karena anak-anak umumnya lebih mengandalkan emosi ketimbang logika ketika mengendari motor. Di tempat yang ramai bisa saja kita lihat mereka mengendarai motor dalam kecepatan tinggi. Akan semakin parah jadinya.

Maka, diperlukan kesadaran penuh masyarakat (orang tua) untuk tidak mengizinkan anaknya yang belum ber-SIM (menurut hukum formal) mengendari motor pergi dan pulang sekolah. Lebih mendidik jika anak-anak itu diminta untuk menaiki sepeda angin saja. Toh sekolah yang dituju jaraknya tidak terlalu jauh. Masih dapat dijangkau dalam waktu yang relatif pendek. Di samping itu, bersepeda akan lebih menyehatkan dan bahkan membangun karakter hidup sederhana. Program demikian tentu harus diikuti budaya masyarakat memanfaatkan sepeda jika pergi dan pulang tidak memakan jarak yang jauh. Tidak cukup, misalnya, hanya mengandalkan gerakan car free day pada waktu tertentu di jalur-jalur khusus jika tak ingin kesesakan semakin menghimpit kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""