Selasa, 30 Agustus 2011

Sisi Lain Saat Melayat

Tadi sore baru saja melayat ayah teman yang meninggal dunia. Bersama rombongan dari gereja. Menuju ke tempat melayat lebih kurang ditempuh 30 menit naik mobil. Sebelum berangkat, ketika masih berkumpul di gereja, ada informasi yang serupa bahwa ada juga sahabatnya teman yang meninggal. Tetapi karena saya tidak mengenalnya, (akhirnya) saya tidak melibatkan diri merencanakan pergi melayat atau tidak.

Melayat ke ayah teman yang meninggal dunia mempertemukan kami dengan banyak orang. Mereka ada yang kami kenal dan ada yang tidak. Dengan mereka yang telah kami kenal, begitu bertemu, biasa langsung berbicara ini-itu. Sekalipun pada awal-awalnya berbicara seputar yang meninggal dan keluarga yang ditinggalkan, lama-kelamaan berbicara pada hal-hal lain. Di antaranya hal pekerjaan dan pelayanan.

Orang-orang yang datang menyampaikan rasa duka, yang kebetulan tidak kami kenal, ada yang sekeyakinan dengan kami, tetapi ada juga yang berbeda keyakinan. Sekalipun mereka berbeda keyakinan, mereka mengikuti acara kebaktian pemberangkatan jenazah hingga usai. Menjalin hubungan dengan sesama sekalipun berbeda latar belakang masih sangat terlihat dalam kehidupan masyarakat. Itu sebenarnya sikap-sikap tradisi yang hingga sekarang masih tumbuh subur di negeri ini. Mereka (sengaja) menjaganya dengan tulus kebiasaan itu. Yaitu kebiasaan yang telah turun-temurun dari nenek moyang.

Saya percaya, ketika mereka (yang berbeda keyakinan) mengikuti acara kebaktian hingga usai meskipun ada banyak bagian dalam acara itu yang kurang mereka mengerti, mereka tetap dapat merasakan suasana yang terjadi. Merasakan bagaimana jika mereka menghadapi peristiwa yang serupa. Seperti yang saya rasakan. Misalnya, usianya masih muda kok, untung anak-anaknya sudah berkeluarga, isteri atau suami yang ditinggalkan untung telah membuka usaha sendiri di rumah sehingga untuk keberlangsungan hidup selanjutnya sejak “ditinggal” tidak terlalu sulit, dan sayang ada anaknya yang masih kecil yang masih membutuhkan perhatian khusus. Ini sisi lain yang sering kita jumpai ketika melayat.

Sisi lain (lagi) yang dapat kita peroleh barangkali seperti yang saya jumpai ini. Saya melayat ayah teman yang meninggal karena saya memang mengenal teman saya. Tidak mengenal ayah atau ibunya. Juga tidak mengenal saudara-saudaranya. Saya hanya sebatas mengenal teman saya itu. Tidak mengerti ada berapa saudaranya, di mana saja mereka tinggal, mereka sudah bekerja atau belum, sudah berkeluarga atau belum, dan sebagainya. Akan tetapi, setelah sampai di tempat melayat, saya akhirnya dapat mengenal ibu atau ayahnya dan hampir semua saudaranya. Karena, di samping memang saat sambutan dari pihak keluarga semua anggota keluarga yang ditinggalkan disebutkan, juga dalam peristiwa itu umumnya semua anggota keluarga tersebut berkumpul.

Karenanya bukan mustahil kalau akhirnya hampir semua pelayat membicarakan seputar hal tersebut. Misalnya, itu anaknya yang pertama, ini cucunya, yang itu anaknya yang sudah menjadi pejabat tinggi, dan yang ini istri atau suaminya. Sehingga yang awalnya hanya mengerti satu dua anggota keluarga yang ditinggalkan, setelah melayat justru mengetahui semua nggota keluarga yang ditinggalkan. Ini yang menurut saya sisi lain yang dapat dilihat. Ya akhirnya kenalan bertambah. Dan, saya pikir ini tidak jelek. Pada akhirnya di hari yang fitri ini, saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, biarlah Sang Pencipta senantiasa meridhoi. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""