Rabu, 07 September 2011

Hari Pertama Masuk Mengajar Menaiki Sepeda


Hari ini, Rabu (7/9), merupakan hari pertama saya menaiki sepeda pergi ke sekolah. Maksudnya pergi mengajar, sekalipun hari ini belum ada proses pembelajaran. Karena kegiatan di sekolah diisi dengan halal bihalal. Halal bihalal dengan para peserta didik dan di waktu berikutnya dilanjutkan halal bihalal dengan bupati dan pejabat lainnya di pemerintah daerah (pemda) Kabupaten Kudus. Halal bihalal dengan para peserta didik diadakan di halaman sekolah dan halal biahalal dengan jajaran pemda Kabupaten Kudus di Pendopo Kabupaten Kudus. 

Sekalipun saya pergi ke sekolah menaiki sepeda, tetapi ketika pergi halal bihalal ke pendopo kabupaten tidak (menaiki sepeda). Sepeda saya tinggal di sekolah. Pergi ke pendoponya berboncengan motor dengan teman. Sebetulnya jarak dari sekolah ke kabupaten tidak terlalu jauh. Paling-paling hanya tiga sampai empat kilometer. Menaiki sepeda pun sebetulnya tidak apa-apa. Tidak akan membuat saya capek. Barangkali malah (akan) menjadi pusat perhatian banyak orang karena tentu saja tidak ada yang menaiki sepeda kecuali saya.

Sebab, ketika saya menaiki sepeda memasuki lingkungan sekolah saja, anak-anak yang melihat sudah tertawa-tertiwi. Saya tidak mengetahui persis apa motivasi mereka tertawa-tertiwi itu. Barangkali saja mereka melihat sebuah hal yang aneh. Sebab, memang baru kali ini saya menaiki sepeda ke sekolah saat mengajar. Biasanya kalau menaiki sepeda ya keliling-keliling saja dari satu tempat ke tempat lain, dengan maksud berolahraga. Malah beberapa waktu yang lalu ada beberapa siswa didik saya mengikuti saya berolahraga bersepeda keliling-keliling melewati beberapa tempat di Kudus.

Saya rasa hampir setiap orang merasa kaget ketika melihat sesuatu berbeda. Tidak tampil seperti biasanya. Ya mungkin tampilan yang berbeda itulah yang membuat anak-anak tertawa-tertiwi ketika melihat saya menaiki sepeda memasuki sekolah, yang biasanya mengendarai motor. Tetapi saya yakin bahwa tertawa-tertiwi itu akan semakin meluntur (menghilang) manakala saya membiasakan diri menaiki sepeda saat pergi-pulang mengajar.  

Oleh karena itu, saya berkemauan untuk terus menaiki sepeda saat pergi-pulang mengajar. Saya memulainya hari ini dan akan terus berlanjut ke hari-hari selanjutnya. Apalagi jarak dari rumah hingga sekolah tidak terlalu jauh. Lebih jauh jarak antara sekolah dengan pendopo kabupaten. Jadi, saya pikir tidak akan memakan banyak waktu, seperti hari ini tadi, saya dapat menempuhnya sekali jalan (saat pergi) hanya sepuluh menit. Kayuhan dalam keadaan rileks. Tidak mengebut. Barangkali kalau saya mengayuh sepeda dengan agak cepat, waktu yang tertempuh tidak sampai sepuluh menit.

Jadi di hari pertama pergi sekolah dengan menaiki sepeda ini tadi sungguh menyenangkan sekalipun diketawa-ketiwiin anak-anak. Apalagi sekaligus saya bisa  berolahraga. Ya sekalipun di sepanjang jalan yang saya lewati begitu banyak kendaraan bermotor, saya masih dapat menikmatinya dengan bahagia di atas sepeda. Udara barangkali sudah tidak bersih lagi di sepenjang jalan itu karena banyak asap kendaraan bermotor. Tetapi, paling tidak masih ada untungnya. Yaitu tubuh dapat bergerak-gerak, terutama di bagian kaki. Dibandingkan dengan mengendarai motor yang menjadikan darah di kaki kurang sigap mengalir, menaiki sepeda masih memberi keuntungan dari segi kesehatan. Bukankah dengan menaiki sepeda sirkulasi darah dalam tubuh menjadi lancar?

Tujuan pertama saya memang itu. Mendapatkan kesehatan dengan cara praktis. Praktis karena bekerja sembari berolahraga. Tidak perlu ada waktu khusus untuk berolahraga. Tidak memerlukan tempat khusus. Juga tidak perlu persediaan anggaran khusus untuk memperoleh keringat. Apalagi kebetulan sepeda yang saya naiki ini tidak dari upaya membeli. Tetapi sepeda dorpres ketika si sulung mengikuti sepeda santai tiga tahun yang lalu di tempat kerja ibunya. Yang juga pasti adalah, bersepeda membuat hidup semakin ekonomis. Tidak perlu banyak pengeluaran bukan?

6 komentar:

  1. betul sekali, seperti nya murid2nya juga harus disuruh bersepeda

    BalasHapus
  2. Pak antik sepedaku dulu, itu waktu dulu pak...awalnya juga sama ak diketawain anak2 (ardian)

    BalasHapus
  3. mohon maaf lahir dan batin
    sekalian di tunggu kunjungan baliknya ke blog saya gan :)

    BalasHapus
  4. @didta7

    Harapannya ke depan memang begitu, Sob. Sebab, kini, anak-anak sudah banyak yang mulai mengendarai motor saat pergi-pulang sekolah meskipun belum ber-SIM, meninggalkan kebiasaan bersepeda.

    BalasHapus
  5. @Anonim Ya... akhirnya malah menjadi terkenal di seputar anak-anak, ya Mas.Hahahaahha...

    BalasHapus

""