Selasa, 13 September 2011

Kalau Bersepeda Harus Siap Semuanya


Tadi pagi saya menaiki sepeda ke sekolah, tempat mengajar. Dari rumah saya perkirakan berangkat agak pagi. Berbeda dengan ketika saya berangkat mengajar mengendarai motor. Hal yang wajar saja. Sebab, menaiki sepeda tentu tidak sekencang mengendarai motor. Jadi menaiki sepeda lebih santai ketimbang mengendarai motor. Di sepanjang jalan, saya memerhatikan, penyepeda lebih diberi “penghormatan” oleh pengendara motor daripada terhadap sesama pengendara motor.

Saya merasa bangga karena pemakai jalan ternyata menghargai penyepeda. Terbukti, dalam keadaan agak macet begitu, penyepeda selalu diberi waktu terlebih dahulu untuk lewat. Sementara yang mengendarai motor berhenti, membiarkan penyepeda lewat. Begitu penyepeda lolos dari kemacetan, pengendara motor baru menjalankan motornya. Demikian juga yang dilakukan oleh pengemudi mobil. Sepeda mendapat tempat yang lebih “terhormat” ketika terjebak dalam kemacetan di jalanan ramai.

Tetapi, penyepeda pun harus hati-hati ketika memotong jalan terutama di jalan-jalan ramai. Kalau hendak memotong jalan perlu kewaspadaan yang cermat. Sebab, bukan mustahil motor atau mobil yang telah dalam keadaan kencang sulit dikendalikan apalagi dalam kondisi mendadak. Bisa-bisa penyepeda yang tidak waspada saat hendak memotong jalan (berbelok), tertabrak motor atau mobil yang melaju kencang. Kecelakaan tentu tak dapat terhindar. Dalam kondisi seperti ini, sekalipun penyepeda dalam posisi salah, motor atau mobil tetap disalahkan.

Oleh karena itu, “penghormatan” yang diberikan kepada penyepeda memang harus direspon dengan positif. Penghormatan itu tidak boleh disalahgunakan. Oleh karena mendapat “penghormatan” ya sudahlah menaiki sepeda seenaknya. Ini sikap yang tidak boleh ada pada diri penyepeda. Sekalipun penyepeda mendapat perhatian khsusus serupa itu, rasanya tidak etis jika bersepeda di jalan umum kurang menjaga kenyamanan pengguna jalan umum. Penyepeda pun harus menjaga ketertiban berlalu lintas.

Mengingat menaiki sepeda berbeda dengan mengendarai motor atau mobil dalam segi kecepatannya, maka menaiki sepeda harus perlu persiapan yang matang. Persiapan tidak hanya siap sepedanya dalam arti lengkap komponen dan terpasang dengan baik (tidak mudah lepas), tetapi persiapan perlengkapan kerja lainnya juga harus terjamin. Ada satu dua saja perlengkatan kerja yang tertinggal di rumah dapat menimbulkan proses kerja di tempat bekerja kurang baik. Juga akan merepotkan diri sendiri dan rekan kerja jika ada sesuatu yang sudah dijanjikan tetapi ternyata sesuatu itu tertinggal di rumah. Kelupaan, tidak terbawa.

Saya mengalami hal serupa itu tadi pagi. Saya mengetahui ada barang tertinggal di rumah setelah beberapa ratus meter dari rumah bersepeda di perjalanan. Mengingat waktu yang semakin mendekat ke waktu masuk bekerja dan lambatnya bersepeda, saya akhirnya mengabaikan barang itu tertinggal di rumah. Saya sengaja tidak berbalik (kembali) bersepeda ke rumah. Saya langsung saja ke sekolah. Saya sadar bahwa barang yang tertinggal itu tentu akan dibutuhkan oleh rekan saya. Tetapi, saya putuskan tetap langsung ke sekolah dengan membayangkan segala konsekuensi yang nanti akan saya hadapi. 

Boleh jadi nanti akan mengendala kinerja rekan saya. Rekan saya pasti merasa saya rugikan. Dengan begitu tentu saja saya tidak “enak hati” dengan rekan tersebut. Tidak hanya rekan saya saja yang terganggu kinerjanya, saya pun mengalami hal yang sama. Bagaimana mungkin dapat bekerja dengan sejahtera kalau ada ganjalan dalam benak oleh karena keteledoran saya sendiri. Anak-anak pun yang harus mendapatkan perhatian penuh oleh kami, tidak dapat terperhatikan secara penuh karena benak kurang nyaman. Ini yang terjadi kalau memutuskan bersepeda tetapi tidak mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Mungkin tidak menjadi persoalan jika saya tadi pagi mengendarai motor. Sebab, ketika saya mengetahui ada sesuatu (penting) tertinggal di rumah saat dalam perjalanan yang baru beberapa ratus meter saja dari rumah, pastilah saya putar balik ke rumah. Mengambil sesuatu itu. Lantas agak mengegas sedikit motor, dalam waktu yang relatif sama (dengan andai tidak ada sesuatu yang tertinggal di rumah), saya dapat sampai di sekolah dan pasti tidak terlambat. Juga saya tidak akan basah kuyub oleh keringat. Bahkan sebaliknya, oleh karena motor melaju kencang, angin berembus keras, badan terasa kedinginan.

Ya barangkali itulah (salah satu) kerugian yang dapat menimpa kita jika tidak mempersiapkan diri sebaik-baiknya saat hendak bersepeda. Sebelum bersepeda menuju ke tempat kerja (juga sekolah, kuliah, dan sebagainya) segala sesuatu yang ada keterkaitannya harus dipersiapkan baik-baik. Jangan ada yang tertinggal di rumah saat ke kantor. Jangan ada buku yang tertinggal di rumah saat ke sekolah atau kulaih. Tentu jangan ada yang teringgal juga di kantor kalau saat pulang kantor, di sekolah dan kampus ketika selesai belajar. Semua harus diteliti sebelum meninggalkan tempat yang hendak ditinggalkan. Sebab kecewa besar akan terjadi jika saat setengah perjalanan di atas sepeda teringat ada sesuatu yang tertinggal.

Bersepeda memang menyehatkan, baik fisik maupun psikis, jika semua persiapan telah dilakukan dengan secermat-cermatnya. Sebaliknya, bersepeda dapat mengganggu ketenangan jiwa jika tidak ada persiapan yang sungguh-sungguh.

4 komentar:

  1. akhirnya terkabul jua ya pak niatan untuk bergowes ria
    semoga makin banyak peminatnya

    BalasHapus
  2. Bersepeda memang sangat mengasikkan, sepeda memang tak lekang oleh zaman.

    BalasHapus
  3. sepeda memang kendaraan yang sangat flexible, selain bisa berolahraga, dan bisa diandalkan pas jalan lagi macet..

    BalasHapus
  4. wah kalo banyak warga indonesia yan seperti bapak negara ini jadi capat sejahtera...

    BalasHapus

""